Search
Selasa 14 Juli 2020
  • :
  • :

Gejala Baru Covid-19, Benarkah Kemampuan Indera Penciuman Menurun?

Starberita – Jakarta, Pandemi Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah menginfeksi lebih dari 400 ribu orang di dunia. Namun, dari sekian banyak kasus ada sejumlah pasien virus corona yang tidak menunjukkan gejala. Hal ini menimbulkan kekhawatiran para ahli tentang potensi orang tanpa gejala untuk menyebarkan virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah menjelaskan beberapa tanda atau gejala paling umum dari COVID-19, mulai dari demam, kelelahan, dan batuk kering. Meski begitu, baru-baru ini spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT) di Inggris, Amerika Serikat dan Perancis telah mencatat semakin banyak pasien COVID-19 dalam beberapa minggu terakhir yang datang ke rumah sakit dengan gejala anosmia, seperti dikutip dari laman Asiaone.

Anosmia merupakan kondisi di mana seseorang tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk mencium aroma. Gejala ini pun disebut-sebut bisa menjadi tanda COVID-19 pada pasien yang terlihat baik-baik saja.

Di Inggris, dokter THT telah mendesak otoritas kesehatan untuk memberi tahu orang-orang yang kehilangan kemampuan untuk mencium dan mengecap secara mendadak untuk mengisolasi diri. Bahkan, meskipun mereka tidak memiliki gejala lain.

“Apa pun yang bisa kita lakukan untuk menunda penularan sangat vital,” kata Claire Hopkins, presiden British Rhinological Society.

Hopkins, yang menerbitkan surat terbuka tentang masalah tersebut pada hari Jumat dengan kepala THT Inggris Nirmal Kumar, mengatakan tidak terkejut ketika mendengar laporan awal dari Iran dan Prancis dari pasien Covid-19 yang melaporkan hilangnya kemampuan indra penciumannya.

Nirmal Kumar menjelaskan, sekitar 40 persen kasus kehilangan kemampuan indra penciuman secara tiba-tiba pada orang dewasa disebabkan oleh anosmia pasca-virus, dan virus corona yang sebelumnya dikenal diperkirakan mencapai hingga 15 persen.

Namun, Nirmal Kumar mengatakan titik balik terjadi ketika seorang koleganya di Italia yang bekerja di sebuah rumah sakit di bagian utara mengatakan bahwa dia telah mengamati tingginya insiden hilangnya kemampuan indra penciuman di antara petugas kesehatan.

“Kita semua mulai mencatat peningkatan pada pasien yang masih muda dan jika tidak sepenuhnya menunjukkan gejala baru, yakni timbulnya kehilangan kemampuan untuk mencium bau,” kata Hopkins.

Sembilan dari 20 pasien yang dilihatnya minggu lalu baru-baru ini kehilangan kemampuan untuk mencium.

“Itu sangat luar biasa,” katanya.

Dia menambahkan bahwa beberapa pasien ini telah menghubungi otoritas kesehatan Inggris yang khawatir tentang COVID-19, tetapi diberi tahu bahwa tidak perlu mengisolasi diri karena anosmia itu bukan gejala yang dikenali.

Gejala yang signifikan

Para ahli di beberapa negara telah menandai anosmia sebagai tanda potensial seseorang terpapar Covid-19. Di Perancis, kepala pelayanan kesehatan, Jerome Salomon, pada hari Jumat mengatakan spesialis THT telah mengamati ‘lonjakan’ dalam kasus anosmia dan mengatakan sementara itu masih relatif jarang, dan gejala itu sering terjadi pada pasien yang lebih muda dengan gejala ringan.

Akademi Otolaringologi-Bedah Kepala dan Leher Amerika pada hari Minggu mencatat semakin banyak bukti anekdotal bahwa anosmia dan dysgeusia (gangguan rasa) adalah ‘gejala signifikan’ dari virus tersebut.

Di Jerman, ahli virus Hendrik Streeck dari University of Bonn, pergi dari rumah ke rumah di Heinsberg, di mana sekitar 1.000 orang ditempatkan di bawah karantina dua minggu pada bulan Februari karena wabah lokal. Dia mengatakan sekitar dua pertiga dari orang yang terinfeksi melaporkan kehilangan kemampuan indera penciuman dan perasa selama beberapa hari.

“Sejauh ini seorang ibu tidak lagi bisa mencium bau popok anaknya. Yang lain tidak bisa mencium bau sampo lagi dan makanan mereka mulai terasa hambar,” katanya kepada surat kabar Frankfurter Allgemeine Zeitung. (sbc-02/vnc)

 




Tinggalkan Balasan

error: