Search
Selasa 11 Agustus 2020
  • :
  • :

Masyarakat Diajak Cari Solusi Atasi Virus ASF Babi

Starberita – Medan, Gubsu, Edy Rahmayadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergandengan tangan mencari solusi permasalahan virus African Swine Fever (ASF) yang menyerang ribuan ternak babi di Sumut, sehingga persoalan ini segera selesai dan tidak meresahkan masyarakat.

Saat ini, kata Edy, Pemprovsu sedang mencari langkah yang tepat sesuai aturan yang berlaku dan keadaan masyarakat, khususnya peternak babi yang mengalami kerugian akibat wabah virus ini.

“Saya tengah mencari langkah yang tepat dan saya minta kita bergandengan tangan mencari solusinya. Apa yang harus dilakukan dengan aturan yang berlaku,” ucap Edy saat menghadiri diskusi bersama dengan Komunitas Konsumen Daging Babi Indonesia yang difasilitasi DPRD Sumut di Aula DPRD Sumut, Kamis (13/2/2020).

Hadir di antaranya, Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin, Kajati Sumut, Amir Yanto, Ketua DPRD Sumut, Baskami Ginting, Anggota Fraksi PDIP, Syahrul Effendi, Ketua Komunitis Konsumen Daging Babi Indonesia, Muniati Tobing beserta anggota komunitas.

Edy menjawab semua polemik tentang babi yang menjadi tuntutan masyarakat. Ditegaskannya, bahwa isu pemusnahan seluruh ternak babi itu tidak benar. Ia menuturkan, sejak tanggal 25 September 2019, banyak bangkai babi itu terbuang di jalan dan sungai di sejumlah daerah di Sumut.

Lalu, ia pun mengumpulkan seluruh OPD dan aparat terkait untuk mencari tahu kenapa ada banyak babi yang mati mendadak dan bangkai babi dibuang dengan sembarangan. Berdasarkan data yang ada diperkirakan ada 29 ribu babi yang mati mendadak.

“Atas kejadian ini kita lalu menyurati Kementrian Pertanian dan Kesehatan. Dan mereka tindaklanjuti pada 4 November 2019 dengan datang ke Sumut membicarakan hal ini,” katanya.

Langkah awal sebelum pihak Kementrian datang, Pemprov Sumut telah mengeluarkan kebijakan melarang masyarakat membuang bangkai babi ke sembarang tempat. Melarang babi terserang penyakit ke luar dari tempat peliharaan karena dapat membawa wabah serta membentuk tim untuk membantu masyarakat yang ternak babinya mati.

“Saat itu, saya belum tahu apa penyebab itu semua,” ucap Edy.

Kemudian DPR RI Komisi IV datang dan membahas permasalahan ini hingga diketahui bahwa penyebab dari kematian babi ini karena virus ASF yang pertama ditemukan terjangkit di Negara Taiwan. Hingga saat ini vaksin virus ASF tersebut belum ditemukan.

“Nah disana dibahas dilakukan pemusnahan babi yang terjangkit virus itu. Namun diambil kesimpulan tidak bisa dimusnahkan karena virus ini tidak menjangkit hewan yang lain ataupun manusia,” jelas Edy.

Menjawab tuntutan masyarakat, pemerintah diminta untuk mengganti kerugian ternak babi yang mati. Hal ini juga telah dipikirkan Pemprov Sumut, namun tidak bisa dilakukan karena melanggar Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Garis besarnya bahwa pemerintah tidak bisa mengganti ternak yang mati karena virus,” katanya.

Di akhir diskusi itu, Edy meminta seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan seluruh polemik babi yang dikhawatirkan dapat merusak keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Sumut. Ia meminta pada seluruh masyarakat untuk tidak lagi melakukan demo di jalan terkait permasalahan babi ini.

“Tapi saya tidak dapat melarang karena kita berdemokrasi. Saya mohon kalau ada solusi sampaikan ke saya,” ucap Edy.

Senada, Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin Siregar meminta masyarakat untuk menghentikan polemik babi tersebut. Ia mencurigai bahwa ada oknum yang memanfaatkan suasana untuk membuat Kamtibmas di Sumut tidak kondusif.

“Saya tidak ingin ada lagi polemik babi ini. Kalau ada yang merasa tidak puas mari berdiskusi atau dengan surat sampaikan solusinya. Kita ingin membangun masyarakat yang bermartabat dan sejahtera,” katanya.

Begitu pula Kejati Sumut, Amir Yanto mengajak seluruh masyarakat untuk berkepala dingin dan bersabar mencari solusi mengatasi wabah ini, yakni dengan mengubur yang sakit dan memisahkan yang sakit dengan yang sehat. (sbc-05)




Tinggalkan Balasan

error: