Search
Rabu 1 April 2020
  • :
  • :

Sejak Pindah, Medan Zoo Baru 2 Kali Dapat Penyertaan Modal dari Pemko Medan

Straberita – Medan, Pasca pindah dari Jalan Brigjen Katamso, Kel. Kampung Baru, Kec. Medan Maimun ke Kelurahan Simalingkar B, Kec. Medan Tuntungan pada April 2005 lalu, Kebun Binatang Medan atau yang akrab disebut Medan Zoo kerap mendapat kritikan karena dianggap tidak menyediakan fasilitas yang layak bagi hewan-hewan yang dimilikinya.

Hal tersebut bukanlah serta merta terjadi karena kesalahan pihak pengelola Medan Zoo semata. Pasalnya, sejak dipindahkan dari tahun 2005 hingga saat ini, Medan Zoo yang sedianya berada dibawah naungan Pemko Medan baru 2 kali mendapatkan jatah penyertaan modal dalam APBD Kota Medan. Sebagaimana hal itu diungkapkan drh. Sucitrawan yang selalu mengurusi kesehatan seluruh hewan yang ada di Medan Zoo.

“Sejak dipindahkan kemari pada tahun 2005 lalu,kita disini baru 2 kali mendapat bantuan APBD,” ucap drh. Sucitrawan, belum lama ini.

Dari 30Ha luas lahan yang dimiliki Medan Zoo, kata Sucitrawan, baru 10Ha yang digunakan untuk kandang para satwa dan juga area permainan outbond. Sementara 20Ha lagi masih berupa lahan kosong.

“Luas lahan kita disini seluruhnya ada 30Ha, tapi baru 10 yang kita pakai. Dan untuk lahan ini, kita ada perjanjian dengan Pemko Medan bahwa 15Ha dari lahan kita ini akan dijadikan sebagai Hutan Kota,” jelas seraya mengatakan bahwa ke 15Ha lahan yang akan dijadikan sebagai Hutan Kota tersebut tidak bertumpu pada satu titik saja, melainkan dengan cara penanaman pohon yang tersebut di seluruh lahan yang ada di kawasan Medan Zoo.

Oleh karenanya, dengan banyaknya lahan kosong yang dimiliki oleh Medan Zoo, Sucitrawan pun berharap ada pihak investor yang masuk untuk bisa sama-sama membangun BUMD milik Pemko Medan. Dengan masuknya modal dari investor ke Medan Zoo, maka hal tersebut dapat membantu meringankan biaya untuk perawatan seluruh satwa yang dimiliki.

Selain itu juga, tambahnya, dengan masuknya para investor, pihak pengelola juga dapat lebih mengembangkan lagi terkait sarana dan prasana yang ada di Medan Zoo. Sebab menurutnya, selama ini pihak pengelola hanya berharap dari hasil penjualan tiket ataupun sumbangsih dari masyarakat untuk biaya perawatan dan makan satwa.

“Makanya kita sangat berharap ada investor yang masuk kemari. Jadi kebun binatang kita ini bisa sedikit terbantu dengan masuknya mereka (investor). Apalagi jika investor itu ingin membuat wahana waterboom disini, mungkin bisa jadi pelonjak pengunjung kita,” terang dokter hewan senior Medan Zoo itu.

Terpisah, Direktur Eksekutif Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Sumut, Rurita Ningrum mengatakan bahwa perihal terkait dengan Medan Zoo ini sudah lama menjadi sorotan masyarakat Kota Medan. Sebab, selain sarana dan prasarananya yang kurang memadai, pelayanan di lokasi juga sangat minim.

“Bagaimana masyarakat tertarik untuk membawa keluarga berekreasi sekaligus mengedukasi anak-anaknya kalau pelayanannya hanya seperti itu? Makanya dibutuhkan komitmen daerah dalam hal ini Pemko Medan harus memberi perhatian khusus, mungkin juga dapat memohon bantuan hibah dari Pemprovsu agar berpartisipasi terhadap keberlangsungan hidup hewan-hewan yang ada di Medan Zoo,” kata Ruri, Kamis (16/1/2020).

“Dan yang terpenting lagi adalah pemilihan pimpinan perusahaan yang membidangi Medan Zoo ini haruslah orang yang tepat serta memahami bagaimana core bisnis sosial milik pemerintah daerah. Karena sekarang ini sudah bukan zamannya lagi ber-KKN, misalnya menempatkan tim sukses yang mendukung Kepala Daerah terpilih untuk menempati posisi pengelola BUMD seperti Medan Zoo. Berikanlah pada orang yang tepat, sehingga melalui DPRD penyertaan modal dapat disetujui. Karena wakil rakyat percaya dan meyakini kemampuan pengelola demi kemajuan Medan Zoo, ini kiranya yang harus diperhatikan kedepannya,” tambah calon Hakim Ad Hoc Tipikor ini sembari mengingatkan bahwa Medan Zoo tidak semata-mata untuk mencari keuntungan, tetapi ada juga pesan moral yang lebih besar disana.

Dimana menurutnya, anak-anak generasi penerus bangsa harus mengetahui bagaimana bentuk hewan secara nyata melalui kebun binatang yang ada bukan hanya melalui layar televisi. Dan hal ini juga, mungkin adalah investasi sosial yang juga menjaga siklus keanekaragaman fauna yang di Sumatera Utara. Sehingga penting melibatkan semua elemen dalam pengelolaannya. (sbc-05)




Tinggalkan Balasan

error: