Search
Rabu 1 April 2020
  • :
  • :

Perlukah Diet Khusus untuk Penderita Penyakit Autoimun?

Starberita – Jakarta, Untuk menu makan sehari-hari, ada pola makan yang dianjurkan untuk pasien penyakit autoimun, yaitu diet khusus AIP (autoimmune protocol). Tujuannya, untuk mengurangi gejala peradangan penyakit. Apa yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi dan apakah terbukti efektif?

Sederhananya, penyakit autoimun adalah kondisi kesehatan ketika sistem daya tahan tubuh menyerang sel, jaringan, atau organ tubuh sendiri. Jenis penyakit autoimun ada banyak, bergantung pada sel, jaringan, atau organ yang diserang.

Namun, yang mungkin cukup sering didengar adalah reumatoid artritis (awam menyebutnya rematik) yang menyerang persendian, lupus yang menyerang berbagai organ seperti kulit dan ginjal, dan peradangan kronis pada usus yang membuat penderitanya kesulitan saat buang air besar dan mencerna makanan.

Hingga kini, penyakit autoimun tidak ada obat penyembuhnya. Penanganannya hanya obat-obatan untuk mengontrol gejala yang muncul.

Namun, seiring dengan kemajuan ilmu kedokteran, beberapa makanan ditemukan dapat mengurangi, bahkan mengontrol penyakit autoimun. Diet khusus yang direkomendasikan untuk orang-orang dengan penyakit autoimun ini disebut dengan diet AIP.

Diet Khusus AIP untuk Pasien Penyakit Autoimun

Didominasi oleh daging dan sayur-mayur, prinsip utama dari diet AIP adalah berikut ini.

·         Mengurangi Jenis Makanan yang Dapat Mencetuskan Reaksi Peradangan

Terdapat beberapa makanan yang ternyata dapat memicu reaksi peradangan di tubuh. Misalnya, makanan olahan atau yang melalui pemrosesan berkali-kali, susu sapi dan produk olahannya, pemanis buatan, pengawet makanan, kacang, serta biji-bijian tertentu.

·         Restriksi Ketat

Agar diet AIP bekerja efektif, butuh disiplin tinggi karena jenis makanan yang boleh dikonsumsi sangat dibatasi.

Makanan yang direkomendasikan antara lain:

  • Daging dan ikan segar, bukan produk olahan.
  • Sayuran, tetapi tidak yang jenis nightshadeseperti tomat, terong, cabai, dan kentang.
  • Buah-buahan dengan porsi sedikit.
  • Susu kelapa atau santan.
  • Minyak alpukat, minyak zaitun, dan minyak kelapa,
  • Makanan fermentasi yang bebas susu (dairy-free) seperti kombucha,kefir yang dibuat dari susu kelapa, sauerkraut, dan
  • Madu atau sirup maple (boleh dikonsumsi sesekali dengan porsi sedikit).
  • Rempah segar yang bukan biji-bijian, seperti basil, mint, dan
  • Teh hijau dan teh lainnya yang bahan dasarnya bukan dari biji.
  • Kaldu tulang.
  • Cuka seperti cuka apel atau

Sedangkan makanan yang harus dihindari antara lain seperti berikut ini.

  • Semua biji-bijian, seperti oat, beras, dan gandum.
  • Semua produk susu.
  • Legume, seperti polong-polongan dan kacang tanah.
  • Sayuran jenis nightshade seperti tomat, terong, cabai, dan kentang.
  • Gula dan produk penggantinya (kecuali madu yang boleh dikonsumsi sesekali).
  • Mentega dan minyak samin (ghee).
  • Semua jenis minyak, kecuali minyak alpukat, minyak zaitun, dan minyak kelapa.
  • Pengawet makanan.

·         Vitamin dan Nutrisi Tinggi

Jenis makanan yang dipilih adalah yang memiliki kandungan vitamin dan nutrisi yang tinggi, terutama yang mengandung asam lemak omega-3.

Dua Fase Diet AIP

Terdapat dua fase dalam diet AIP, yaitu fase eliminasi dan fase maintenance. Pada fase eliminasi, makanan yang dapat memicu respons peradangan akan mulai dihilangkan dalam menu makan sehari-hari.

Selain itu, faktor pencetus lainnya juga harus mulai diperbaiki, seperti durasi dan kualitas tidur yang kurang, manajemen stres, serta mulai rutin olahraga.

Kemudian, fase kedua adalah fase maintenance. Pada fase ini, kebiasaan yang sudah dibentuk atau diubah pada fase pertama harus disiplin dilakukan, agar dampak positifnya bisa dirasakan.

Benarkah Diet Khusus AIP Diperlukan?

Alasan logis di balik diet AIP adalah, bahwa menghindari makanan yang dapat mengiritasi usus dan mengonsumsi makanan bernutrisi dapat mengurangi inflamasi dan menyembuhkan lubang di usus.

Ini diyakini dapat mengurangi atau mencegah sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh. Dengan cara ini, diet AIP ditujukan untuk mengurangi gejala penyakit autoimun yang dimiliki.

Namun, apakah efektif? Menurut sebuah studi dalam jurnal “Current Opinion in Immunology” tahun 2012, pertumbuhan bakteri di usus mungkin berkaitan dengan inflamasi dan penyakit autoimun.

Ada pula studi dalam “The Journal of Allergy and Clinical Immunology” tahun 2014 menyebut, dinding usus dilindungi oleh jaringan protein. Ini menjelaskan bahwa inflamasi memengaruhi seberapa baik fungsi dinding usus. Studi ini juga mencatat bahwa makanan pencetus alergi dapat membuat dinding usus jadi lebih “keropos”.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa masalah dengan dinding usus berhubungan dengan penyakit autoimun.

Meski begitu, studi tersebut perlu diperdalam untuk mengonfirmasi apakah gangguan pada dinding usus adalah faktor risiko utama perkembangan penyakit autoimun.

Mengenai diet AIP itu sendiri, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal “Inflammatory Bowel Diseases” tahun 2017 menemukan, mengeliminasi beberapa makanan sebagai bagian dari diet AIP dapat memperbaiki gejala penyakit autoimun inflammatory bowel disease (IBD) atau radang usus.

Studi lebih jauh dibutuhkan untuk benar-benar membuktikan bahwa diet AIP dapat mengurangi gejala sesuai dengan klaimnya.

Meski masih butuh studi lebih lanjut, studi di atas cukup membuktikan bahwa dengan diet yang tepat, penyakit autoimun bisa dikendalikan dan gejala yang timbul bisa diredakan. Bila Anda salah satu orang dengan penyakit autoimun, konsultasikan dengan dokter mengenali pola makan yang paling tepat sesuai kondisi. (sbc-02/kdc)

 




Tinggalkan Balasan

error: