Search
Selasa 11 Agustus 2020
  • :
  • :

Indonesia Belum Terbebas dari Masalah Kekerasan Terhadap Anak

Starberita – Jakarta, Membangun ketahanan dan kualitas masyarakat, dimulai dari elemen masyarakat yang paling kecil yakni keluarga. Namun sayangnya hal tersebut masih tersandung beberapa kendala, misalnya saja yang kini jadi sorotan adalah perihal kekerasan terhadap anak.

Dari data SKAP (Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program) 2108 yang disebutkan RPJMN (rencana pembangunan jangka menengah nasional) keluarga Indonesia yang memiliki pemahaman dan kesadaran tentang fungsi keluarga baru mencapai 38 persen. Itu artinya, tumbuh kembangnya masih belum terbebas dari bayang-bayang kekerasan terhadap anak.

Sementara itu, dari data Survey Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja tahu 2018, menemukan bahwa satu dari 5 anak perempuan dan satu dari 3 anak laki-laki di Indonesia mengalami kekerasan fisik dan untuk kekerasan seksual, dialami oleh satu dari 11 anak perempuan dan satu dari 17 anak laki-laki.

Tak berhenti sampai di situ, bukan hanya fisik, namun juga kekerasan emosional dialami 3 dari 5 anak perempuan dan satu dari 2 anak laki-laki. Ironisnya, tiga dari empat anak-anak yang menjadi korban ini, melaporkan bahwa pelaku kekerasan emosional adalah teman sebaya sendiri.

Melihat data kekerasan terhadap anak diatas, seperti yang dikatakan oleh Dra.Lenny N.Rosalin, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Dra. Lenny N. Rosalin, M.Sc, tidak menutup mata memang ada masalah terkait pengasuhan anak di Indonesia.

Anak seharusnya terlindungi oleh orangtua maupun orangtua yang bertanggung jawab terhadap anak, ternyata masih melakukan kekerasan. Gagalnya pengasuhan anak ini ini, berdampak dengan rentannya kualitas keluarga dan ketahanan nasional pada akhirnya,” ungkap Dra.Lenny kala dijumpai di gelaran “Konsultasi Nasional Pengasuhan Anak dan Pembangunan Kualitas Keluarga, Jakarta Barat baru-baru ini.

Maka dari itu, pengasuhan anak menjadi hal yang utama dalam mencapai pembangunan kualitas keluarga. Sebab, pengasuhan anak menjadi dasar bagaimana anak-anak diasuh, tumbuh kembang dan dilindungi untuk menjadi individu yang berkarakter dan bisa membentuk keluarga dan bangsa yang berkualitas.

Di kesempatan yang sama, terkait permasalahan soal anak dan keluarga pada umumnya ini. DPR sebagai pihak legislatif seperti dikatakan Yandri Supanto, S.Pt, Ketua Komisi VIII DPR RI, pemerintah melalui DPR siap untuk berupaya mengatasi masalah anak Indonesia, sesuai dengan segi fungsi dan tugas DPR yakni legislatif dan budgeting.

“Kita sadar selama ini masalah anak, ibu ya masalah keluarga yang kita hadapi ini sangat besar. Kami dari DPR tentu jika dari forum ini ada rekomendasi, kami siap melaksanakan sesuai fungsi dan tugas kami yakni legislatif dan budgeting. Misalnya dianggap regulasi dari turunan pasal 28 B ayat 2 itu belum maksimal, dan hari ini baru ada UU No 44 tahun 2017 jika itu belum menyentuh akar persoalan, DPR bersedia dengan tangan terbuka mengadopsi atau menerima masukan dan rekomendasi, yang kita perlukan kan tindakan nyata terhadap masalah ini,” pungkas Yandri. (sbc-02/okz)

 

 




Tinggalkan Balasan

error: