Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Ini Jenis & Berbagai Penyebab Demam
Search
Selasa 28 Januari 2020
  • :
  • :

Ini Jenis & Berbagai Penyebab Demam

Starberita – Jakarta, Demam (istilah medisnya adalah pireksia) adalah respons normal tubuh terhadap berbagai kondisi—umumnya infeksi—dan merupakan gejala medis yang paling sering terjadi. Pola perubahan suhu kadang dapat mengisyaratkan kondisi medis tertentu. Karenanya, mari kenali jenis-jenis demam dan berbagai penyebabnya.

Perlu diingat, demam bukanlah penyakit, melainkan gejala dari gangguan kesehatan tertentu. Meningkatnya suhu tubuh adalah sebuah pertahanan terhadap infeksi yang sedang menyerang tubuh.

Suhu tubuh normal berkisar 36,1 sampai 37,2 derajat Celcius. Seseorang bisa dikatakan demam bila suhu tubuh melampaui kisaran tersebut.

Jenis-jenis demam dan berbagai penyebabnya

Demam lebih dari sekadar naiknya suhu tubuh. Karena, ada beberapa karakteristik demam yang dapat menjadi tanda kondisi tertentu dalam tubuh. Apa saja?

1. Demam berkepanjangan (persisten)

Dijelaskan oleh dr Nabila Viera Yovita, kebanyakan demam akan hilang dengan sendirinya setelah 1-3 hari. Namun, demam persisten bisa bertahan atau terus muncul hingga 14 hari. Demam jenis ini biasanya akan stabil pada suhu 38-38,5 derajat Celcius.

“Biasanya, demam persisten disebabkan karena infeksi kronis seperti tuberkulosis paru atau bronkitis,” katanya.

2. Demam konstan atau terus-menerus (continous)

Biasanya demam jenis terjadi selama 1×24 jam. Suhu penderita tetap berada di atas batas normal selama sehari atau bahkan lebih, tetapi suhu tidak akan mengalami perubahan terlalu drastis. Kata dr. Nabila, pemicunya bisa karena alergi, influenza, atau batuk.

3. Demam intermiten

Tipe demam ini adalah, suhu naik secara tiba-tiba, kemudian kembali lagi ke suhu normal. Demam jenis ini bisa ditemui pada penderita malaria, penyakit kala-azar, pyaemia, atau sepsis.

4. Demam remiten

Berkebalikan dengan demam intermiten, demam remiten adalah demam yang suhunya tidak bisa lagi kembali ke suhu normal aslinya. Suhu tetap di atas normal sepanjang hari dan berfluktuasi lebih dari 1 derajat Celcius dalam 24 jam.

Demam jenis ini bisa ditemukan pada penyakit seperti endokarditis dan brucellosis.

5. Demam Pel-Ebstein

Demam ini spesifik berhubungan dengan limfoma Hodgkin. Karakteristik demamnya: demam naik tiba-tiba, tetap tinggi selama seminggu, lalu tiba-tiba turun mendekati normal dan bertahan pada minggu berikutnya. Pola ini bisa berulang.

Meski demikian, jenis demam ini masih diperdebatkan pola khasnya. Karena pada beberapa kasus, pola demam Pel-Ebstein selalu berbeda.

6. Hiperpireksia

Demam dengan suhu tubuh melebihi 41,1 derajat Celcius. Gejala yang menyertai biasanya meliputi denyut jantung meningkat atau tidak teratur, kram, napas cepat, kejang, kebingungan atau perubahan kondisi mental, hilang kesadaran, dan koma.

Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari infeksi, keracunan, sampai penyakit seperti kanker atau tumor.

Hiperpireksia dianggap sebagai kondisi darurat medis. Jika tidak ditangani dengan benar, kerusakan organ dan kematian dapat terjadi.

Penanganan demam

Penanganan demam yang spesifik bergantung pada penyebab dan usia penderita. Tidak semua demam perlu diatasi, demam adalah tanda tubuh memerangi infeksi. Suhu tubuh yang meningkat akan memperbanyak jumlah zat pertahanan tubuh, sehingga bakteri dan virus sulit berkembang biak.

Demam akibat flu atau batuk bisa diatasi sendiri di rumah dengan menjaga kecukupan cairan dalam tubuh, dengan lebih sering minum air putih. Pasalnya, demam bisa menyebabkan kehilangan cairan yang drastis dan berpotensi sebabkan dehidrasi.

“Orang yang demam dianjurkan untuk minum air putih paling sedikit 8 gelas sehari, serta mengonsumsi oralit, jus, atau air kaldu. Cairan-cairan ini dapat menggantikan air, garam, dan ion yang hilang akibat demam,” kata dr. Nabila.

Selain itu, pastikan suhu ruangan tetap sejuk (tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas). Gunakan pakaian yang longgar dan nyaman. Hindari menggunakan selimut yang terlalu tebal saat tidur, karena ini akan membuat suhu tubuh semakin meningkat.

“Demam kerap menyebabkan rasa tidak nyaman, terutama pada anak-anak. Karena itu, obat penurun panas seperti parasetamol dapat digunakan. Perlu diingat, obat ini hanya mengatasi gejala demam, bukan mengatasi penyakit yang mendasari,” kata dr. Nabila mengingatkan.

Bila demam yang dialami adalah hiperpireksia, cari bantuan sesegera mungkin, karena demam tipe tersebut membutuhkan penanganan medis segera.

Demikianlah jenis-jenis demam dan berbagai penyebabnya. Mengetahui tipe demam dapat membantu Anda mengidentifikasi apa yang sedang dialami tubuh dan menentukan tindakan selanjutnya. Apabila demam tidak kunjung menurun setelah 3 hari, sebaiknya periksakan diri ke dokter agar bisa ditangani sesuai penyakit yang mendasari. (sbc-02/kdc)

 

 




Tinggalkan Balasan

error: