Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Moms, Yuk Ketahui Penyebab Asma Pada Anak & 8 Pencetus Gejalanya
Search
Selasa 10 Desember 2019
  • :
  • :

Moms, Yuk Ketahui Penyebab Asma Pada Anak & 8 Pencetus Gejalanya

Starberita – Jakarta, Asma adalah penyakit pernapasan kronis yang umum muncul pada masa kanak-kanak. Namun, kemunculan asma pada anak tidak sesederhana yang selama ini dikira. Anak Anda akan lebih rentan mengalami asma jika mereka memiliki faktor risiko penyebab dan terpapar pencetusnya. Faktor penyebab yang meningkatkan risiko asma pada anak ada banyak, begitu juga hal-hal yang jadi pencetusnya. Tugas orangtualah untuk mencari tahu mana pemicu pastinya untuk mencegah kekambuhan gejala yang dapat menghambat aktivitas si kecil.

Memahami penyebab asma pada anak

Sampai saat ini penyakit asma belum diketahui penyebab pastinya. Namun, asma dapat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap faktor pencetus tertentu yang kemudian menyebabkan saluran pernapasan membengkak dan menghasilkan lendir.

Kondisi tersebut membuat seseorang akan mengalami gejala berulang berupa mengi (bunyi ‘ngik-ngik’ ketika bernapas), sesak napas, dada terasa berat, dan bantuk yang seringnya muncul di malam atau diri hari.

Belum diketahui secara pasti mengapa tubuh beberapa orang menunjukkan respon yang berlebih sehingga mengakibatkan asma. Meski begitu, para peneliti percaya bahwa beberapa faktor penyebab seperti genetik dan lingkungan bisa meningkatkan risiko asma pada anak.

Penting dipahami bahwa faktor risiko bukan merupakan penyebab pasti seseorang akan terkena asma. Memiliki satu atau lebih faktor di bawah ini tidak otomatis memunculkan asma pada setiap anak. Faktor risiko hanya meningkatkan peluang seseorang untuk terkena suatu penyakit.

Berikut beberapa faktor risiko asma pada anak yang perlu diketahui orangtua.

1. Riwayat genetik

Faktor genetik atau turunan dari keluarga juga ikut berperan sebagai faktor risiko asma pada anak. Jadi, bila salah satu atau kedua orangtua punya asma, maka anak pun berisiko tinggi untuk mengalaminya juga.

Risiko juga akan semakin meningkat bila sebagian besar keluarga Anda dan pasangan punya riwayat penyakit asma dan alergi.

2. Jenis kelamin

Selain itu, di antara anak-anak, anak laki-laki berisiko lebih tinggi terkena asma dibandingkan anak perempuan. Sampai saat ini belum diketahui kenapa jenis kelamin ikut berperan sebagai faktor risiko yang bisa menjadi penyebab asma pada anak.

3. Obesitas

Jika anak Anda mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, penelitian dalam jurnal Pediatric Allergy, Immunology, and Pulmonology melaporkan mereka bisa berisiko lebih tinggi terkena asma dengan gejala yang cenderung lebih parah daripada anak yang berat badannya sehat.

Para ahli menduga bahwa obesitas dapat mempersempit saluran udara sehingga rentan mengalami iritasi. Hal ini jugalah yang bahkan bisa membuat asmanya jadi lebih mudah kambuh.

Maka rangtua sebaiknya membantu anak mencapai berat badannya yang ideal. Dengan begitu, faktor risiko yang bisa menjadi penyebab asma pada anak satu ini dapat dihindari.

Hal-hal yang menjadi pencetus asma pada anak

Faktor pencetus asma banyak dijumpai di lingkungan, baik di dalam maupun di luar rumah. Tiap anak akan memiliki faktor pencetus yang berbeda-beda, sehingga penting bagi para ortu untuk mengetahui pencetus pastinya.

Berikut beberapa faktor pencetus asma pada anak yang paling umum.

1. Infeksi saluran napas

Pilek dan flu merupakan penyakit yang paling umum menyerang anak-anak. Coba diingat-ingat lagi, dalam satu tahun ini si kecil sudah berapa kali terkena kedua penyakit tersebut?

Meski termasuk kondisi yang umum, pilek dan flu tidak boleh dianggap remeh. Sebab, keduanya dapat menjadi penyebab asma pada anak-anak. Bahkan sejumlah infeksi saluran napas lainnya, seperti sinusitis, bronkitis, dan pneumonia juga dapat memicu asma.

Hal ini disebabkan karena orang pengidap asma memiliki saluran pernapasan yang bengkak dan sensitif, dan infeksi yang menyerang saluran napas dapat memperparah hal tersebut. Itu sebabnya, anak-anak yang punya asma umumnya sangat diwanti-wanti untuk selalu menjaga kesehatannya supaya tidak mudah tertular infeksi saluran napas.

Bila si kecil sudah terlanjur sakit, lakukan perawatan yang cepat dan tepat supaya tidak berakhir pada kekambuhan gejala asma.

2. Udara dingin

Asma ditandai dengan sejumlah gejala khas seperti mengi, batuk, dan rasa sesak di dada yang berulang. Pada beberapa orang, berbagai gejala tersebut akan timbul saat udara dingin, terutama pada malam atau menjelang pagi.

Udara dingin menyebabkan saluran udara menjadi kering. Akibatnya, saluran udara sangat rentan mengalami iritasi. Di samping itu, udara dingin pun dapat meningkatkan produksi lendir dalam tubuh. Nah, kedua hal inilah yang dapat memicu kekambuhan gejala asma.

Maka dari itu, orangtua sebaiknya orangtua mewaspadai penyebab asma pada anak satu ini.

4. Alergi

Alergi juga masuk dalam daftar faktor pencetus asma pada anak. Anak-anak yang punya alergi tertentu sistem kekebalan tubuhnya akan secara otomatis menghasilkan antibodi bernama histamin untuk melawan alergen (zat penyebab alergi).

Asma dapat muncul sebagai bentuk reaksi alergi, terutama terhadap alergen yang terhirup ke dalam saluran napas.

Alergen sendiri ada banyak jenisnya, bisa bulu binatang, tungau, debu, kecoa; serbuk sari dari pohon; rumput; dan bunga; dan makanan.

5. Aktivitas fisik yang berlebihan

Anak-anak senang bermain dan berlarian ke sana kemari. Namun, aktivitas fisik yang berlebihan, termasuk olahraga intensitas tinggi, dapat menjadi penyebab kambuhnya asma pada anak. Kenapa?

Aktivitas fisik yang berlebihan dapat membuat napas anak jadi ngos-ngosan atau terengah-engah. Tanpa disadari, hal ini memungkinkan anak untuk bernapas lewat mulut. Mulut tidak memiliki rambut halus dan rongga sinus seperti hidung yang membantu melembapkan udara. Udara kering yang masuk lewat paru akan langsung menuju paru-paru, sehingga memicu penyempitan saluran napas

Cara bernapas seperti ini dapat memicu asma kambuh. Pada akhirnya anak akan lebih sulit untuk bernapas lega.

6. Asap rokok

Menghirup asap rokok membuat saluran napas anak mengalami iritasi dan meradang. Jika dibiarkan terus-terusan, kondisi ini dapat menjadi penyebab asma pada anak.

Berbagi penelitian telah melaporkan bahwa anak yang sedari kecil sudah terbiasa terkena asap rokok lebih rentan terkena asma ketimbang anak yang jauh dari asap rokok. Tak main-main, asap rokok pun dapat membuat asma lebih sering kambuh dan sulit untuk dikendalikan meski sudah minum obat-obatan.

Ironisnya lagi, asap rokok juga dapat terserap pakaian, karpet, serta benda-benda lainnya dan meninggalkan karsinogen yang tidak bisa hilang walau sudah dicuci. Ketika anak-anak menyentuh atau bernapas di dekat permukaan yang terkontaminasi, mereka lebih mudah untuk mengalami berbagai masalah pernapasan. Salah satunya asma.

7. Faktor pemicu lainnya

Faktor penyebab lainnya yang bisa memicu asma pada anak di antaranya:

  • Tertawa atau menangis terlalu keras.
  • Asap kendaraan dan polusi udara.
  • Produk berbentuk semprotan (spray) seperti parfum.
  • Produk yang mengandung zat iritan, seperti sampo, sabun, detergen pencuci baju, dan lain sebagainya.

Berobat ke dokter untuk memastikan pencetusnya

Asma pada anak cenderung lebih melemahkan dibanding orang dewasa. Sebab, paru-paru dan saluran udara mereka sangat sensitif sehingga mudah meradang walau hanya terpapar benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya, misalnya debu.

Tak heran bila saat asma kambuh, gejalanya sering kali mengganggu aktivitas anak sehari-hari. Bahkan sampai membuat mereka susah tidur di malam hari atau harus absen sekolah. Maka dari itu, pastikan Anda mengetahui pencetusnya sejak dini sebelum terlambat.

Ada baiknya bertanya langsung ke dokter untuk memastikan pencetus pasti asma yang dialami anak. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan tes fungsi paru untuk memantapkan diagnosis. Bila diperlukan, dokter juga dapat melakukan tes lab maupun tes pencitraan agar penyebabnya benar-benar diketahui. (sbc-02/hel)

 

 




Tinggalkan Balasan

error: