Search
Senin 13 Juli 2020
  • :
  • :

Tak Merokok Bisa Juga Sakit Kanker Paru, Ini Penjelasannya

Starberita – Jakarta, Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) pada tahun 2018, sebanyak 1,8 juta jiwa di dunia meninggal akibat kanker paru sepanjang 2018.

Di Indonesia, setiap tahunnya, lebih dari 30.023 penduduk Indonesia didiagnosis menderita kanker paru. Sementara, itu sebanyak 26.095 orang meninggal akibat kanker paru pada tahun 2018.

Secara umum, kanker paru dibagi menjadi dua jenis, yakni kanker paru bukan sel kecil atau non small cell lung cancer (NSCLC) dan kanker paru sel kecil atau small cell lung cancer (SCLC).

Sejumlah pasien NSCLC memiliki mutasi gen anaplastic lymphoma kinase (ALK) atau dikenal dengan kanker paru NSCLC ALK+ (ALK positif).

Aryanthi Baramuli Putri, SH, MH, Ketua Umum Cancer Information & Support Center mengatakan, kanker paru merupakan penyebab kematian tertinggi akibat kanker. Bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah kematian akibat kanker prostat, payudara dan kolorektal bila digabungkan.

Dia melanjutkan, tingkat survival 5 tahunan kanker paru sangat rendah dan tergantung pada stadium ditemukannya kanker. Di mana pada kanker paru stadium dini sebesar 50 persen, sementara stadium lanjut hanya sekitar 2-19 persen.

Hal ini menandakan adanya tantangan dari segi ketersediaan informasi tentang kanker paru dan berbagai jenis mutasinya serta deteksi dan pengobatannya, termasuk untuk kanker paru jenis ALK positif.

Kanker ALK adalah salah satu mutasi onkogenik yang terjadi pada pasien kanker paru bukan sel kecil atau NSCLC. Kanker paru ALK positif memiliki masa perburukan yang sangat cepat, yaitu hanya sekitar 7 bulan dengan pengobatan kemoterapi.

Kanker paru jenis ini bisa dibilang penyakit langka, di mana terjadi pada sekitar 2-5 persen dari populasi kanker paru, yang sebagian besar ditemui pada pasien kanker paru stadium lanjut, bukan perokok, berusia sekitar 45–50 tahun atau lebih muda dari populasi pasien kanker paru umumnya, serta mengalami penyebaran sel kanker atau metastasis ke otak.

Namun, lanskap pengobatan kanker paru telah berkembang sangat pesat sehingga kemajuan teknologi memungkinkan penanganan kanker paru yang efektif. Salah satunya dibuktikan dari hasil studi yang menunjukkan pengobatan kanker paru.  

“Anti ALK dengan Alectinib yang telah berhasil meningkatkan hasil terapi pada pasien, yakni dapat memberikan masa bebas perburukan hampir 3 tahun,” kata dia.

Disisi lain, dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P (K), menyampaikan bagaimana diagnosis terhadap kanker paru NSCLC ALK positif di Indonesia telah mengalami kemajuan yang sangat signifikan berkat kerja sama antara pemangku kepentingan.

Dia menjelaskan, hingga tahun 2017, kanker paru NSCLC jenis mutasi ALK belum dapat dites di Indonesia

Karena kemungkinan adanya mutasi ALK positif pada pasien tidak diketahui, maka pasien mendapatkan terapi kemoterapi standar yang memberikan hasil kurang optimal. Sebagian pasien juga mengejar diagnosis dan pengobatan ke luar negeri.

Dari kerja sama dengan Roche, para ahli patologi anatomi dan ahli kanker, serta pihak rumah sakit, kini diagnosis ALK telah dapat dilakukan di Indonesia, melalui program peningkatan kompetensi para ahli patologis anatomi dari 11 rumah sakit di 10 kota di Indonesia, untuk melakukan testing dan interpretasi ALK.

Peningkatan kapabilitas infrastruktur testing ALK dengan uji coba reagen baru yang spesifik yang lebih sederhana dan lebih akurat, serta sertifikasi UKNEQAS yang berstandar internasional sedang dilakukan pada empat laboratorium di rumah sakit pemerintah dan satu laboratorium di rumah sakit swasta.

Para ahli patologis anatomi dari 11 rumah sakit yang telah mengikuti program pelatihan testing dan interpretasi ALK antara lain berasal dari RS M. Djamil Padang di Padang, RSUP H. Adam Malik di Medan, Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta.

Kemudian, RSUP Dr. Hasan Sadikin di Bandung, RSUP Dr. Kariadi di Semarang, RSUD Dr. Moewardi di Solo, RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta, RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo di Makassar, RSUP Sanglah di Bali dan RSUD Dr. Soetomo di Surabaya.

Sementara laboratorium yang sedang mengikuti sertifikasi UKNEQAS antara lain Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUP Dr. Sardjito, RSUD Dr. Moewardi dan RS Siloam MRCCC Semanggi. (sbc-02/vnc)

 




Tinggalkan Balasan

error: