Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Kurangi Makan Nasi Putih Tak Cegah Diabetes Jika Masih Doyan Konsumsi Ini
Search
Sabtu 7 Desember 2019
  • :
  • :

Kurangi Makan Nasi Putih Tak Cegah Diabetes Jika Masih Doyan Konsumsi Ini

Starberita – Jakarta, Banyak orang yang menjatuhkan pilihan untuk mengurangi makan nasi putih demi keberhasilan dietnya. Hal ini juga dipercaya akan menurunkan risiko terkena diabetes. Alih-alih mengurangi makan nasi putih, lebih baik kamu memerhatikan jenis makanan apa yang kamu konsumsi.

Dua studi baru dari para peneliti National University of Singapore (NUS) dan Duke-NUS Medical School menyatakan bahwa orang-orang yang melakukan diet cendrung mengganti asupan kalori mereka. Mereka memilih untuk mengonsumsi daging merah dan unggas. Namun Profesor Rob Martinus van Dam, pemimpin domain epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock di NUS menyatakan bahwa diet semacam itu memiliki risiko diabetes yang lebih tinggi.

“Mereka yang melakukan diet terkadang mengonsumsi lebih banyak mi yang dimasak dengan saus yang mempunyai kadar gula yang tinggi, meskipun mereka mengurangi konsumsi nasi, makanan pengganti mereka bahkan meningkatkan risiko terkena diabetes” ujar Profesor Van Dam.

Pernyataan ini juga didukung oleh ucapan seorang Profesor Koh Woon Puay, direktur Pusat Pengembangan Klinis-Ilmuwan di Duke-NUS Medical School, “Risiko diabetes lebih tergantung pada kualitas keseluruhan dari diet yang dijalani seseorang. Rekomendasi untuk mengurangi nasi putih mungkin efektif jika makanan pengganti dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.” imbuhnya.

Dr Annie Ling, direktur kelompok kebijakan, penelitian, dan pengawasan di Badan Promosi Kesehatan (HPB), mengatakan temuan ini sesuai dengan rekomendasi HPB untuk makan lebih banyak beras merah.

“Sangat penting untuk mengelola pola makan dengan sangat baik, cendrung orang-orang mengganti nasi putih dengan makanan yang nyatanya tidak sehat. Alangkah baiknya ketika nasi putih diganti dengan mengonsumsi nasi merah,” tuturnya.

Penelitian ini juga mengikuti serangkaian penelitian yang membahas adanya korelasi antara asupan nasi putih dengan diabetes. Ditahun 2016, HPD mengutip studi oleh Harvard School of Public Health yang menyatakan bahwa nasi putih yang dimakan secara teratur setiap harinya meningkatkan risiko diabetes sebesar 11 persen.

Di tahun 2007, Shanghai Women’s Health Study menyatakan bahwa wanita yang makan lebih dari 300g nasi putih sehari berisiko 78 persen lebih tinggi terkena diabetes dibandingkan dengan mereka yang makan kurang dari 200g sehari.

Tetapi menurut Prof Koh mungkin penelitian ini tidak mempertimbangkan faktor faktor diabetes lain seperti mengonsumi daging merah dan unggas. Dia juga mengatakan penelitian lanjutan tahun 2017 di Shanghai menemukan fakta, asupan biji-bijian olahan yang lebih tinggi tidak terkait dengan risiko diabetes ketika disandingkan dengan faktor-faktor lain.

Demikian juga salah satu penelitian baru yang tidak menemukan hubungan antara total asupan nasi putih dan risiko diabetes tipe 2 ketika dikendalikan untuk variabel seperti usia, jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT) dan asupan makanan lainnya. Risiko yang lebih tinggi berhubungan dengan apa yang dikonsumsi dengan nasi. Lebih dari 90 persen penderita diabetes menderita diabetes tipe 2, akibat tersumbat atau berkurangnya reseptor insulin.

Penelitian kedua, yang juga melibatkan Prof van Dam dan Prof Koh, menggunakan indeks kualitas diet yang ditetapkan untuk menentukan kualitas pola diet seseorang, kemudian mengukur hubungan antara kualitas diet dan risiko diabetes.

Data untuk studi baru ini berasal dari Singapore Chinese Health Study yang sedang berlangsung dimulai pada tahun 1993 oleh NUS. Penelitian ini melibatkan sekitar 45.400 orang Tionghoa Singapura yang tidak memiliki penyakit diabetes, kanker atau penyakit kardiovaskular ketika mereka direkrut antara tahun 1993 dan 1998. Setelah 11 tahun lebih dari 5.200 peserta dinyatakan diabetes.

Diet para peserta diberi peringkat berdasarkan seberapa sering dan seberapa banyak rata-rata yang mereka makan. Peserta yang makan lebih banyak biji-bijian, susu rendah lemak, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran mendapat skor lebih tinggi. Sedangkan mereka yang mengonsumsi daging olahan merah, minuman manis dan natrium mendapat skor yang lebih rendah.

20 persen teratas, yang memiliki diet “kualitas lebih tinggi” relatif 30 persen lebih rendah untuk terserang diabetes dibandingkan dengan 20 persen terbawah. Proporsi setiap item sebagai bagian dari pola diet konsisten ditemukan lebih penting daripada asupan absolut, kata Prof Koh, yang juga peneliti utama dalam Singapore Chinese Health Study.

Ini berarti seseorang tidak harus mengurangi sepenuhnya makanan yang tidak sehat. Selama makanan tersebut dimakan dalam jumlah yang tidak berlebihan. (sbc-02/okz)

 




Tinggalkan Balasan

error: