Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Hanya 179 Orang yang Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional 
Search
Kamis 12 Desember 2019
  • :
  • :

Hanya 179 Orang yang Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional 

Starberita – Medan, Jargon “Bangsa yang Besar adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Pahlawan”, nampaknya tidak begitu berlaku bagi Indonesia.
“Pasalnya, dari ribuan pahlawan yang berjasa bagi Nusa dan bangsa yang layak dijadikan pahlawan nasional, hanya bisa ditetapkan sebanyak 179 orang selama Republik ini telah berdiri 73 tahun. Artinya, rata-rata Pemerintah RI hanya mengangkat 2 – 3 orang pahlawan pertahun. Jumlah yang sangat kecil, mengingat era perjuangan komponen bangsa yang panjang ratusan tahun, di suatu negara yang luas dan heterogen.  Berapa abad diperlukan agar semua pahlawan ditetapkan atau diberikan penghargaan? Dimana masalah bangsa ini,” ketus Sejarahwan dari Pussis Universitas Negeri Medan (UNIMED), DR Phil Ichwan Azhari kepada wartawan melalui keterangan tertulisnya yang diterima, Senin (11/11/2019).
Dijelaskan Ichwan, bahwa pemerintah telah menetapkan 6 pahlawan nasional dari 6 provinsi dari 16 yang telah lulus seleksi Tim Penilai Pahlawan dan Gelar Daerah (TP2GD) di provinsi serta Tim Penilai Pahlawan dan Gelar Nasional (TP2GN) di Pusat.
Pada 2 lembaga ini, lanjut Ichwan, berhimpun sejarahwan kritis yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya, seperti yang duduk di TP2GN yakni Anhar Gonggong (Sejarahwan Nasional), Mona Loanda (ANRI), Didik Darmadi (UI) dan Sudarnoto (UIN Jakarta) yang tugasnya menyeleksi calon dari TP2GD yang mendapatkan 16 orang calon yang lulus.
“Tapi setelah melalui Dewan Gelar, Pemerintah hanya menetapkan 6 orang. Sehingga 10 orang yang sudha lulus dari tangan tim sejarahwan bisa gagal di level atas politik,” ujarnya.
Menurut Ichwan, bahwa 16 orang pahlawan yang lulus termasuk dalam katogeri sedikit, karena banyak provinsi yang tidak ‘bergairah’ mengajukan pahlawannya karena melihat cara penetapannya.
“Andai tiap provinsi mengajukan 1 calon pahlawan nasional setiap tahunnya, maka ada 3 calon pahlawan yang menunggu ditetapkan,” terangnya.
Sumut, lanjut Ichwan, salah satu provinsi yang memiliki banyak pejuang dan layak kecewa , akibat calon pahlawannya yang lulus di TP2GN Pusat, banyak yang tidak ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
“Sebutlah yang ‘dikalahkan’ antara lain Ahmad Tahir, Maraden Panggabean, Sultan Sulaiman, Datuk Sunggal, Rondahaim, Sang Nawaluh dan tahun ini ada SM Amin. Untuk Djamin Ginting pun sempat gagal dalam putaran pertama, yang akhirnya dengan susah payah lulus pada pengusulan ulang,” tandasnya.
Lebih lanjut Ichwan menuturkan bahwa provinsi dengan jumlah calon Pahlawan Nasional lebih dari 100 orang, saat ini baru memiliki 8 Pahlawan Nasional.
“Ketar-ketir lah, mereka yang ingin mencalonkan pahlawan dari provinsi dan juga provinsi lain termasuk Aceh (Gudangnya para pejuang,red),” cetusnya.
Ichwan juga mengungkapkan bahwa Sumut saat ini ada mencoba mulai mengusung kembali yakni diawali dari pahlawan di ladang sastra seperti Chairil Anwar dan Takdir Aisyahbana, tokoh pers semisal Parada Harahap ataupun Tuan Manullang, pejuang seperti Bedjo, Syech Ismail Abdul Wahab, Raja Orahili, ataupun Matsyeh dan dan banyak lagi.
Dalam seminar pengusulan Mr SM Amin menjadi Pahlawan Nasional di Universitas Negeri Medan (Unimed)  bulan April 2018 yang lalu, Prof Asvi Warman Adam menganalis, dalam penetapan pahlawan nasional ada 3 komponen yang berperan, pertama kelayakan calon secara dokumen dan secara akademis, kedua lobby dan ke tiga, peluang politik.
“Nah, perhatikan poin kedua dan ketiga. Itu ada di ranah tim Dewan Gelar, Sekneg dan Presiden. Betapa tidak adilnya calon pahlawan yang sudah diusulkan daerah sebagai perekat semangat kesatuan Indonesia, sebagai simbol kontribusi daerah dalam mozaik ke-Indonesian, yang secara akademik sudah dinyatakan lolos, harus dikalahkan dunia lobby dan peluang politik. Sudah selayaknya pemerintah mengubah paradigma penetapan calon pahlawan nasional ini dan memperbanyak  jumlah pahlawan nasional yang ditetapkan setiap tahunnya. Minimal.menetapkan semua yang sudah diusulkan team TP2GN. Mana jargon “bangsa besar bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”?  Atau memang kita bukan bangsa besar, kecuali besar kata-kata saja. (sbc-03)



Tinggalkan Balasan

error: