Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Tertinggi di Indonesia, Ini Penyebab Jakarta Jadi Kota Diabetes
Search
Senin 18 November 2019
  • :
  • :

Tertinggi di Indonesia, Ini Penyebab Jakarta Jadi Kota Diabetes

Starberita – Jakarta, Prevalensi penyakit diabetes di Jakarta terus meningkat tiap tahunnya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 persentase diabetes di Jakarta menjadi yang paling tinggi di Indonesia yakni meningkat dari 2,5 persen menjadi 3,4 persen.

Jakarta saat ini telah mengalami transisi epidemiologi dari penyakit menular (PM) menjadi penyakit tidak menular (PTM) yang semuanya berawal dari diabetes. Kenaikan tersebut dipengaruhi karena transisi demografi usia produktif dan lansia semakin banyak.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Dwi Oktavia Handayani, M.Epid. Penyumbang diabetes terbesar di Jakarta disebabkan oleh transisi prilaku masyarakat akibat rutinitas.

“Transisi prilaku kurang aktivitas fisik, jarang olahraga, pola metabolisme yang berubah menyebabkan risiko diabetes meningkat. Transisi gizi, makanan tidak sehat yang semakin mudah ditemukan membuat masyarakat memilih junkfood. Makanan kurang serat dan tinggi lemak juga menjadi penyebabnya,” terang dr. Dwi, di Mampang, Jakarta Selatan.

Lebih lanjut, dr Dwi sendiri mengaku bahwa di Jakarta memiliki empat macam primadona PTM yakni jantung, stroke, diabetes mellitus (dm) dan ginjal. Tentunya salah satu langkah untuk mengatasi masalah ini di Jakarta dengan memperbaiki asupan gizi dan memperbanyak Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

“Perlu sosialisasi dengan mencantumkan kandungan gizi pada setiap makanan supaya masyarakat paham gizi. Perbanyak RPTRA supaya anak-anak rajin beraktivitas. Untuk mengindari DM, batasi asupan karbo, konsumsi gula empat sdm, garam satu sdt dan kontrol lemak setiap hari,” tuntasnya.

elain membatasi asupan karbohidrat, gula, garam dan lemak, masyarakat jugaa diimbau untuk menenuhi kebutuhan serat harian. Caranya adalah dengan rutin mengonsumsi buah dan sayuran atau makanan lain dengan kadar serat yang tinggi.

“Masyarakat juga harus bisa mengontrol asupan kalori harian dalam makanan yang dikonsumsi. Seseorang idealnya mengonsumsi 2.000 kalori setiap harinya. Usahakan jangan sampai melewati batas karena bisa menyebabkan obesitas yang berujung pada DM,” tuntasnya. (sbc-02/okz)

 




Tinggalkan Balasan

error: