Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Studi: 75% Kematian Balita di Indonesia Terjadi sebelum Berusia Satu Tahun
Search
Minggu 8 Desember 2019
  • :
  • :

Studi: 75% Kematian Balita di Indonesia Terjadi sebelum Berusia Satu Tahun

Starberita – Jakarta, Studi terbaru menemukan dalam dua dekade terakhir angka kematian balita, bervariasi hingga tujuh kali lipat di antara sejumlah kabupaten di Indonesia. Di Indonesia sendiri, 109.446 anak-anak meninggal dunia pada usia balita di tahun 2017, dibandingkan tahun 2000 yang tercatat sebanyak 261.263 anak-anak.

Perbedaan antara rasio tertinggi dan rasio terendah kematian balita juga terlihat mencolok di kawasan Indonesia Timur. Cacat paska-kelahiran merupakan penyebab terbesar kematian anak balita antara tahun 2000 dan 2017, menurut laporan Global Burden of Disease.

Kendati demikian, angka keseluruhan dari kematian yang disebabkan oleh cacat paska-lahir ini, tercatat separuhnya selama periode dari studi tersebut.

“Laporan Demographic Health Survey 2017 di Indonesia juga memperlihatkan situasi yang hampir mirip di mana dalam lima tahun terakhir, 75 persen kematian anak usia balita terjadi ketika anak-anak tersebut belum berusia satu tahun, dan 63 persen dari kematian bayi terjadi ketika mereka baru menjalani bulan pertama setelah kelahiran,” ungkap Dr. Soewarta Kosen, peneliti dari Indonesia yang tergabung dalam penulisan studi ini.

Soewarta menambahkan, angka-angka tersebut bervariasi di antara berbagai provinsi di Indonesia, di mana provinsi-provinsi di wilayah Indonesia Timur memperlihatkan rasio yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.

Oleh sebab itu, prioritas dari program kesehatan perlu diarahkan untuk mengurangi kematian paska kelahiran, yang akan memengaruhi kematian pada usia bayi serta usia balita, serta memperbaiki kesenjangan rasio antar provinsi.

Studi ini merupakan studi yang pertama kali dilakukan, untuk memetakan angka kematian anak-anak di 99 negara berpendapatan rendah hingga berpenghasilan menengah, yang ditelaah hingga tingkat kabupaten.

Studi yang diterbitkan hari ini di jurnal NATURE, dilengkapi dengan pemetaan yang rinci untuk menggambarkan perbedaan kondisi kesehatan di masing-masing negara dan daerah-daerah yang biasanya terlewatkan oleh analisa di tingkat nasional.

Sebuah interactive visualization disiapkan untuk membandingkan bagaimana rasio tersebut tercatat dari tahun ke tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Fakultas Kesehatan Universitas Washington, dan di sejumlah negara ini mendapati lebih dari 90% dari kematian anak-anak terjadi di tahun 2017.

Rasio mortalitas tercatat bervariasi hingga sepuluh kali lipat di antara berbagai kabupaten di sebuah negara. Dari seluruh negara yang diteliti, kesenjangan angka kematian balita bervariasi hingga 40 kali lipat di tingkat kabupaten.

Para peneliti memperkirakan, jika setiap kabupaten di negara berpendapatan rendah dan berpendapatan menengah yang diteliti telah memenuhi target Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu tidak lebih dari 25 kematian anak dari 1.000 kelahiran, 2,6 juta anak bisa diselamatkan dari kematian.

Jika setiap kabupaten di sebuah negara bisa tampil sebagai kabupaten dengan penanganan kesehatan terbaik, maka diperkirakan jumlah kematian pada anak-anak yang dapat dihindarkan, dapat meningkat menjadi 2,7 juta orang.

Sebagian besar dari 17.554 kabupaten di 99 negara yang diteliti menunjukkan adanya perbaikan dalam upaya mengurangi angka kematian pada anak-anak, tetapi tingkat kesenjangan antar kabupaten juga lebih bervariasi selama periode yang diteliti oleh studi ini.

Meskipun tercatat perbaikan secara besar-besaran dalam mengurangi kematian pada anak-anak selama 20 tahun terakhir, rasio kematian tertinggi pada tahun 2017 sebagian besar masih terpusat di wilayah-wilayah yang juga menunjukkan rasio tertinggi di tahun 2000.

“Sangat tidak bisa diterima dan juga tragis rasanya jika kita perhatikan, bahwa rata-rata, hampir 15.000 balita meninggal setiap hari,” ungkap Dr. Simon I. Hay, penulis senior dalam studi ini, yang juga bertindak sebagai Direktur dari Local Burden of Disease (LBD) – group di IHME.

Mengapa sejumlah daerah memperlihatkan kondisi yang baik, sementara di daerah lain masih sangat memprihatinkan? Untuk mencatat kemajuan, perlu intervensi yang tepat untuk mencapai target secara akurat, seperti kegiatan vaksinasi.

“Temuan-temuan kami menyediakan sebuah platform bagi para menteri kesehatan di setiap negara, kalangan medis dan klinis, serta pejabat lainnya untuk membuat perbaikan-perbaikan yang fokus dalam sistem-sistem kesehatan mereka,” tukasnya. (sbc-02/okz)

 

 




Tinggalkan Balasan

error: