Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Seberapa Penting Tes HbA1c untuk Penderita Diabetes?
Search
Sabtu 16 November 2019
  • :
  • :

Seberapa Penting Tes HbA1c untuk Penderita Diabetes?

Starberita – Jakarta, Prevalensi diabetes di masyarakat yang terus meningkat perlu mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2018, pasien diabetes naik 10,9 persen. Sebelumnya di tahun 2017 dikatakan sebanyak 10,3 juta masyarakat Indonesia terkena diabetes dan jumlahnya akan terus meningkat.

Banyak faktor yang membuat jumlah pasien diabetes meningkat. Salah satunya adalah masyarakat kurang teredukasi terkait penyakit tersebut. Terbukti, banyak pasien yang terlambat didiagnosa terkena diabetes lantaran tidak mengetahui gejala dan cara mengelolanya. Bahkan tak jarang pasien yang datang sudah mengalami komplikasi akibat diabetes.

Komplikasi diabetes berdampak serius karena dapat membuat organ tubuh mengalami kerusakan. Sebut saja diabetes retinopati yang menyebabkan kebutaan pada orang dewasa dan diabetes nefropati yang merupakan penyebab utama penyakit ginjal tahap akhir. Selain itu, diabetes juga bisa menyebabkan penyakit jantung, stroke, serta kerusakan saraf dan mata.

Komplikasi itu sebenarnya bisa dicegah apabila masyarakat dan pasien diabetes proaktif melakukan tes HbA1c secara berkala untuk mengontrol kadar gula darah. Hasil tes bisa dijadikan parameter untuk mendeteksi dan mengurangi komplikasi jangka panjang.

Sebab hasil tes HbA1c memberikan informasi rata-rata kadar gula darah dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Tentu ini jauh lebih akurat dibandingkan pemeriksaan gula darah harian yang sangat fluktuatif. Maka tak heran bila tes HbA1c menjadi bagian dari tata laksana penyakit diabetes.

Hasil tes HbA1c bisa menjadi indikator inisiasi penggunaan insulin. Dalam batas normal, hasil tes harus menunjukkan nilai HbA1c di bawah 7%. Apabila seorang pasien diabetes setelah menjalani pemeriksaan nilai HbA1c lebih dari 7% padahal ia sudah konsumsi obat antidiabetik oral (OAD) dengan dosis maksimal, maka pasien dapat memulai inisiasi insulin.

Hal yang sama berlaku pada pasien yang belum pernah didiagnosis diabetes namun saat menjalani tes HbA1c hasilnya lebih dari 9% dan sudah timbul gejala dekompensasi metabolik. Pemberian insulin membantu mengendalikan kadar gula darah pasien diabetes.

Melihat dampak tes HbA1c terhadap pengobatam diabetes, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) menyarankan agar pasien diabetes melakukan pemeriksaan HbA1c setiap tiga bulan sekali.

“Saat ini pemeriksaan HbA1c sudah dicover BPJS Kesehatan dan bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat dua. Tetapi sayangnya, fasilitas untuk tes HbA1c belum merata di semua daerah. Sedangkan bila melakukan tes di rumah sakit swasta harganya relatif mahal,” ujar Ketua PERKENI, Prof. Dr. Ketut Suastika SpPD-KEMD.

Saat ini, pemeriksaan HbA1c belum menjadi layanan kesehatan wajib di Puskesmas meskipun hasilnya pentingb bagi penatalaksanaan diabetes. Alasan karena efisiensi dan efektivitas alat yang terbilang mahal. Selain itu, ketersediaan SDM yang mampu mengoperasionalkan alat tes belum memadai.

“Saat ini, jika pasien datang ke Puskesmas dan membutuhkan pemeriksaan HbA1c, maka akan dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat dua yang memiliki laboratorium klinik dan telah bekerjasama dengan BPJS. Hal yang sama juga bisa dilakukan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama karena pemeriksaan HbA1c sudah menjadi standar dari pelayanan diabetes,” jelas Drg. Saraswati MPH selaku Direktur Pelayanan Primer Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.

Ditambahkan olehnya, apabila nanti pasien memiliki hasil tes HbA1c dengan nilai tinggi, maka bisa disarankan menggunakan insulin. Pemberian insulin bisa dilakukan oleh Puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama melalui sistem rujuk balik. Tetapi pemberian resep insulin yang pertama harus dari dokter spesialis.

Namun pemberian insulin itu juga menemui masalah lain. BPJS Kesehatan memberikan syarat pasien baru bisa mendapatkan insulin yang dicover apabila hasil pemeriksaan HbA1c nilainya di atas 9 persen. Padahal indikasi pemberian insulin bukan hanya dari hasil tes saja. Belum lagi jika ada masalah lain yang muncul, hal itu membuat banyak pasien diabetes yang tidak menerima pengobatan mencapai target.

“Memang pada pasien tertentu yang nilai tes HbA1c di atas 9% dan mengalami gejala katabolik yang berat, bahkan sampai kegawatdaruratan, harus langsung diberikan insulin. Tetapi masih banyak kendala pemberian insulin ini, termasuk dari sisi pasien itu sendiri. Misalnya pasien takut jarum suntik dan ketergantungan terhadap insulin,” papar Prof. Ketut.

Sementara itu, untuk mengendalikan angka prevalensi diabetes Kementerian Kesehatan mengeluarkan keputusan penggunaan insulin bagi pasien diabetes tipe 2 yang kadar HbA1c di atas 9 persen. Penggunaan insulin juga diwajibkan bagi pasien yang kadar gula darahnya tidak terkendali meskipun telah diberikan kombinasi obat oral anti-diabetes.

Selain itu, pasien diabetes dapat berperan aktif mengelola penyakitnya dengan cara mengatur pola makan dan penerapan pola hidup sehat. Pasien juga diminta olahraga teratur dan menaati rencana pengobatan yang diberikan dokter. (sbc-02/okz)




Tinggalkan Balasan

error: