Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Sarkofagus Batak di Pamerkan di Jakarta
Search
Selasa 22 Oktober 2019
  • :
  • :

Sarkofagus Batak di Pamerkan di Jakarta

Starberita – Medan, Tradisi makam Suku Batak berbentuk Sarkofagus pada zaman Megalitik era prasejarah dipamerkan di aera Pameran Kematian Pekan Kebudayaan Nasional, Jakarta mulai dari 7-13 Oktober 2019.

Menurut ahli sejarah dari PUSSIS Universitas Negeri Medan, Phil Ichwan Azhari, tidak semua tradisi Megalit otomatis berasal dari pra sejarah. Buku sejarah di sekolah-sekolah dinilai masih meragukan narasi yang tercantum didalam keterangan makam.

“Sayangnya penjelasan bahwa ini tradisi prasejarah bisa meragukan dan keliru, karena di Pulau Samosir makam Raja Sidabutar  yang berada di Tomok dibuat pada abad 18,” katanya seperti dilansir dari media sosial Ichwan Azhari, Selasa 8/9/2019

Dijelaskan Ichwan, pada tradisi Megalit di Nias misalnya, bukan merupakan tradisi pra sejarah. Melainkan berlangsung pada masa kerajaan dan masa colonial Belanda awal abad 20.

 

“Orang Belanda atau Jerman, bahkan ada yang memotret dengan kamera modern saat tradisi Megalit Nias sedang dikerjakan di tahun 1930-an,” ujarnya.

Sementara di Tomok, lanjut Ichwan, tradisi lisan yang pernah dia catat memperlihatkan patung pakai peci di dada Sarkofagus adalah patung Panglima Aceh bernama Said yang merupakan sosok sahabat yang dimakamkan.

Kontak perdagangan orang Samosir dengan orang Aceh, masih kata Ichwan, berlangsung sekitar abad 18 sampai 19. Sementara Arca kecil perempuan yang ada dibelakang Sarkofagus merupakan Arca kekasih sang Raja.

“Sayang sekali, untuk pembelajaran sejarah yang benar, bahkan di Jakarta, kita kekurangan narasi untuk menjembatani hasil riset sejarah dan arkeologi terbaru dengan pembelajaran sejarah di ruang publik. Label pra sejarah yang keliru begitu saja dilekatkan. Padahal di Pameran Kematian ini, semua replika jasad dan jasad sungguhan yang dihadirkan, berasal dari era sejarah abad 19 – 20. Aroma yang dikumpulkan nyaris semua berbau antropologis. Bila disandingkan dengan data sejarah yang kuat, roh kebudayaan yang ditampilkan tidak bergentayangan, tapi memiliki dimensi ruang dan waktu yang kontekstual,” terangnya.

Namun demikian, masih kata Ichwan, walau data sejarahnya lemah, Pameran Kematian di Balai Sidang Senayan ini, juga merupakan kejutan dengan pengunjung yang melimpah dan menggoda rasa ingin tahu. Pohon-pohon besar yang dibiarkan meranggas.

‘Akar-akar pohon tua yang berjuntai di gua pintu masuk, menambah rasa seram dalam berkelana ke dunia lain,’ pungkasnya.




Tinggalkan Balasan

error: