Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Edy Rahmayadi: Medan Menuju Bebas Banjir 2022 Harus Terwujud
Search
Jumat 6 Desember 2019
  • :
  • :

Edy Rahmayadi: Medan Menuju Bebas Banjir 2022 Harus Terwujud

 

 

Banjir yang melanda Kota Medan dan sekitarnya saban tahun, setiap musim penghujan, menjadi perhatian Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi dan Wakil Gubernur (Wagub) Sumut Musa Rajekshah.

Selain ingin membebaskan masyarakat dari bencana banjir, Kota Medan sebagai Ibu Kota dan ‘wajah” Provinsi Sumut juga harus asri, bersih, indah dan nyaman. Sehingga setiap tamu yang berkunjung merasa nyaman dan betah tinggal di daerah ini.

Menanggulangi masalah banjir di Kota Medan, menjadi salah satu prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) Sumut,bahkan ‘Medan Menuju Bebas Banjir 2022’ sudah dideklarasikan.

“Penanganan banjir Kota Medan harus segera diselesaikan. Karena Medan adalah ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini, wajah Sumatera Utara itu ada di Medan,” kata Edy Rahmayadi dalam suatu kesempatan.

Membebaskan Medan dari kepungan banjir juga selaras dengan visi dan misi Gubernur dan Wagub Sumut. Yaitu, Mewujudkan Sumatera Utara yang bermartabat dalam lingkungan karena ekologinya yang terjaga, alamnya yang bersih dan indah, penduduknya yang ramah, berbudaya, berperikemanusiaan, dan beradab.

Tak lama setelah dilantik Presiden RI Jokowi sebagai Gubernur, Edy Rahmayadi pun langsung mengundang Pemerintah Kota Medan, Pemerintah Kabupaten Deliserdang dan pihak terkait lainnya untuk membahas persoalan banjir Kota Medan dan sekitarnya, serta mencari solusinya. Karena diperlukan data akurat tentang kondisi sungai dan bangunan yang ada di sepanjang sungai.

Koordinasi yang sinergis juga dibutuhkan untuk mengetahui secara pasti penyebab banjir dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Jika memang harus dilakukan normalisasi sungai dan merelokasi bangunan yang berada di sepanjang sempadan sungai, maka harus dilakukan.

Tinjau Lokasi Banjir

Kepedulian Gubernur untuk menuntaskan persoalan banjir di Kota Medan dimulai dengan meninjau langsung beberapa lokasi banjir di Kota Medan.Minggu (16/9/2018),bersama Walikota Medan Dzulmi Eldin dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Riadil Akhir Lubis, meninjau langsung banjir di Jalan Saudara Kelurahan Beringin, Medan Selayang dan Gang Merdeka Jalan Katamso, Medan Maimun.

Di Jalan Saudara Kelurahan Beringin, Medan Selayang, Gubernur melihat puluhan rumah terendam banjir dengan ketinggian hampir menyentuh langit-langit rumah. Menyapa dan berkomunikasi dengan warga korban banjir dan menyampaikan rasa simpatinya kepada warga terkena banjir.

“Secepatnya kita akan tuntaskan ini. Saya baru bisa meninjau dulu untuk mempelajari. Saya harap kita semua bersabar dalam menghadapi musibah ini, untuk sementara apa saja yang dibutuhkan silakan beritahu kami, biar kita siapkan,” katanya.

Gubernur juga mengingatkan warga agar tidak membiasakan membuang sampah ke parit dan sungai sekitar rumah. “Ini salah satu penyebab banjir juga. Jangan kita biasakan membuang sampah sembarangan, sampah menumpuk dan mengakibatkan saluran air terhambat,” jelasnya.

Peninjauan di Gang Merdeka, Jalan Katamso, Medan Maimun, Gubernur melihat Beberapa rumah masih ada tergenang air setinggi lutut.”Setelah memahami situasi, kita akan tindaklanjuti dengan memanggil ahli untuk menuntaskan masalah banjir ini. Untuk bantuan, ada bahan pokok kita sediakan. Tapi, persoalan lebih penting saat ini menyelesaikan ini, yang jelas kedepan tak boleh lagi terjadi,” ucapnya.

Sementara Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis, mengatakan selain bantuan bahan pokok, juga diturunkan bantuan air bersih untuk membersihkan lumpur di rumah-rumah warga. Begitu pula dengan tangki air minum untuk mensuplai kebutuhan masyarakat.

Susur Sungai Babura

Edy Rahmayadi bersama Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution dan Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis, menyusuri Sungai Babura.Kegiatan ini digelar BPBD Sumut dan Badan Wilayah Sungai (BWS) dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana tanggal 26 April.

Selain mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai, Gubernur juga meminta semua pihak yang terkait untuk melakukan pembersihan sampah di sepanjang aliran sungai, sehingga sungai kembali bersih dan bebas sampah.

Kegiatan susur sungai ini, kata Gubernur, penting untuk mengevaluasi keadaan sungai yang ada di Kota Medan. “Kita bukan bertamasya. Hari ini kita mengevaluasi keadaan sungai yang ada di Kota Medan. Kalau bisa kegiatan seperti ini setiap bulan kita lakukan, karena kalau sungai kita terus-terusan dibiarkan keadaanya seperti ini, bisa jadi puluhan tahun kedepan anak cucu kita bakal memiliki paru-paru yang tidak baik. Jadi, hentikan membuang sampah ke sungai,” tegasnya.

Usai memberikan arahan, selanjutnya Edy Rahmayadi bersama rombongan menaiki perahu karet menyusuri sungai sepanjang 3 km, mulai dari kawasan Kantor Lurah Beringin, Jalan Pasar Mati Padang Bulan hingga ke Taman Beringin atau Taman Sudirman (depan Rumah Dinas Gubernur).

Sepanjang perjalanan, Gubernur sesekali  menggelengkan kepala melihat banyaknya sampah yang tersangkut di batang bambu dan pepohonan di sekitar sungai.  “Sampah itu yang difoto jangan saya. Biar tahu masyarakat, inilah sampah yang mereka buang sembarangan,” ujarnya.

Untuk menjaga kelestarian lingkunan di sekitar sungai, Edy Rahmayadi, bersama sejumlah komunitas pecinta lingkungan dan masyarakat juga melakukan penanaman 2000 batang pohon bambu di kawasan pinggiran Sungai Deli. Selain untuk melestarikan kawasan pinggir sungai, tanaman bambu juga diharapkan dapat meminimalisir dampak banjir yang kerap terjadi akhir-akhir ini.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini, yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya sungai,” katanya.

Disadari, kata Gubernur, sungai adalah salah satu elemen penting, karena tidak sedikit masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sungai, seperti untuk bahan baku air minum, rekreasi, pemandian, pertanian, perikanan, penambangan pasir, transportasi bahkan untuk perindustrian dalam skala kecil maupun besar.

Selain itu, menurut Gubernur, sungai juga menjadi media tempat hidup berbagi jenis tumbuhan air, ikan, plankton dan makro invertebrata yang melekat di dasar sungai. “Makanya, harus sama-sama dijaga kelestariannya,” ujarnya.

Eksplor Sungai dari Hulu ke Hilir

Gubernur juga meninjau kondisi pemukiman warga di bantaran Sungai Babura Medan dan menggelar rapat bersama pemerintah daerah. Pada kesempatan itu, Gubernur melihat kondisi rumah warga yang hampir tenggelam karena meluapnya air sungai. Kendati sudah mulai surut, namun karena curah hujan yang tinggi, dikhawatirkan terjadi banjir susulan.

“Kabupaten/kota (Medan, Deli Serdang dan Karo) sampaikan data yang jelas (tentang kondisi sungai) dan benar. Saya mau dua pekan ini tolong disiapkan tim dan didata sungai dari mulai hulu sampai ke hilir dengan segala permasalahannya,” pintanya, ketika itu.

Penanganan banjir akan dimulai dengan eksplorasi sungai dari hulu ke hilir. “Ini harus diselesaikan. Selama tidak diatasi, ini akan banjir terus. Kita mau tahu bagaimana kondisi sungai di Medan, Deliserdang sampai Karo. Kita akan panggil kepala daerah,” ujar Gubernur, didampingi Walikota Medan Dzulmi Eldin, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan dan Kepala BWSS II Sumut Roy Pardede, saat berdiskusi di pinggir Sungai Babura, Kelurahan Beringin, Medan Selayang.

Pilihan rapat langsung di lokasi banjir, merupakan satu langkah yang tepat guna membahas penanganannya kedepan.Untuk menemukan titik persoalannya, sebut Gubernur, perlu dibahas bersama lintas daerah yang dilintasi sungai, baik Sungai Babura, Sungai Deli dan sungai lainnya yang selalu meluap dan menyebabkan banjir di sekitarnya.

“Jadi, yang penting itu bukan berikan bantuan beras dan mie instan setiap ada musibah seperti ini. Yang penting bagaimana tidak lagi banjir. Itu yang akan kita lakukan. Makanya saya minta data (rekaman video dan foto) mulai dari ujung paling atas sampai ke hilir,” sebutnya.

Ditangani Secara Menyeluruh

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut Sabrina, berharap penanganan banjir di Kota Medan ditangani secara menyeluruh dengan mempertimbangkan semua aspek, termasuk teknis, sosial, budaya dan ekonomi.

“Relokasi warga di bantaran sungai itu tentu dilakukan. Secara teknis kita mungkin tahu bagaimana caranya, tetapi kita harus juga memikirkan aspek sosial dan budaya serta ekonomi, karena ini masyarakat kita juga. Sudah tugas negara untuk menyejahterakan rakyatnya. Jadi, selain aspek sosial dan budaya, kita harus memikirkan bagaimana mereka nanti mencari nafkah, jangan asal di relokasi saja,” ungkap Sabrina.

Berbicara pada rapat pemaparan Banjir Kota Medan di aula Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara, Sabrina berharap masyarakat yang direlokasi dari daerah aliran sungai (DAS) mendapat rumah bersertifikat, bukan rusunawa yang harus menyewa walau mereka ilegal tinggal di daerah tersebut. “Pendataan warga yang direlokasi agar dilakukan dengan benar-benar,” pintanya.

Dari dokumentasi Bapeldalda 2004, sebut Sekda, jumlah penduduk yang tinggal di daerah tangkapan air Sungai Deli sekitar 1,5 juta jiwa dari 86 kelurahan. “Dari jumlah itu, 1,2 juta jiwa diantaranya bermukim di Kota Medan. Makanya, penting untuk mempertimbangkan dampak sosial, budaya dan ekonominya,” ujarnya.

Karenanya, Pemprov Sumut mencoba mempertemukan semua pihak terkait untuk bisa menyelesaikan masalah ini secara holistik.”Ini kita pertemukan semua, agar nanti bisa bekerjasama untuk menemukan solusinya. Masalah ini masalah kita bersama dan penyelesaiannya juga harus kita cari bersama,” kata Sekda.

Bagi masyarakat, pinta Sekda, juga harus mulai berbenah, dengan tidak membuang sampah ke sungai dan tidak bertambahnya masayarakat yang tinggal dibantaran sungai. “Kita juga perlu evaluasi,petugas kebersihan karena sebagian dari mereka malah membuang sampah ke got dan ke sungai. Bila kita tidak bekerjasama, masalah ini tidak akan selesai-selesai,” tambahnya.

Sementara ahli penanganan banjir, Aswan Sembiring, mengatakan banjir di Kota Medan memang kompleks, tetapi secara teknis penanganannya tidak terlalu sulit. “Daerah yang banjir itu di Simpang Selayang dan Cemara, di elevasi (ketinggian) 16-50 meter dpl. Sebenarnya itu, daerah tinggi. Kemiringannya 1,5 – 4,5 perkilometer, itu sangat bagus sekali. Dari segi topografi, seharusnya Medan ini tidak banjir. Mungkin sungainya belum digali atau faktor lain, ya jadi seperti itulah dia,” kata Aswan.

Selain normalisasi, sebut Aswan, yang menjadi masalah utama banjir di Medan adalah masalah sosial, seperti penduduk yang mendiami bantaran sungai, sampah, tidak jelasnya garis sungai, serta semakin sedikitnya resapan air.

Sedangkan Kepala Balitbang Sumut, Effendy Pohan, menyampaikan segera menyelesaikan blue print penanganan banjir di Kota Medan dan segera diimplementasikan setelah mendapat persetujuan dari stakeholder.

Jaga Kebersihan dan Peduli Sekitar

Ketua Tim Penggerak (TP) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Sumut Nawal Edy Rahmayadi  didampingi Wakil Ketua TP PKK Sumut Sri Ayu Mihari dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sumut Nurlela, mengaku prihatin melihat kondisi lingkungan sekitar warga yang dipenuhi sampah.

“Jujur, saya sedih melihat kondisi ibu-ibu disini, apalagi anak-anak kita. Ada sampah dimana-mana dan baunya luar biasa. Kesehatan bisa terganggu. Ayo ibu-ibu sama-sama kita jaga kebersihan, minimal dimulai dari rumah kita. Kemudian mulai peduli terhadap sekitar,” ucap Nawal ketika berbincang dengan warga ketika melakukan kunjungan kerja di Kelurahan Belawan Bahari, Medan Belawan.

Suatu perubahan, sebut Nawal, bisa tercapai jika dimulai dari diri sendiri. “Dengan memulai dari diri sendiri, nantinya akan memberikan contoh bagi keluarga serta tetangga. Seperti hari ini, kata Pak Camat dilaksankan kegiatan gotong royong. Terima kasih untuk semua warga yang mau berpartisipasi, mudah-mudahan kegiatan seperti ini akan terus terlaksana,” ujarnya.

Nawal menjelaskan, sampah merupakan salah satu masalah prioritas di Sumut yang akan segera dituntaskan. Apalagi, sampah sering kali menjadi salah satu pemicu berbagai masalah kesehatan dan bencana seperti banjir.

“Baru-baru ini Pemerintah Provinsi Sumut melakukan normalisasi aliran sungai Babura, termasuk salah satunya pengerukan sampah. Selain itu, Pemprov Sumut juga sudah melakukan kerjasama terkait penanganan sampah dengan Korea. Mudah-mudahan nantinya masalah sampah di Sumut ini akan segera teratasi, tetapi tetap kita harus mulai dari diri dan lingkungan kita. Edukasi anak-anak kita,” tutur Nawal.

Bertemu Kepala BNPB

Tidak hanya berkoordinasi dengan pihak terkait di daerah,  untukmenangani banjir Kota Medan, Wagub Sumut Musa Rajekshah juga sudah membahasnya bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, di Kantor BNPB Jakarta, baru-baru ini. Antara lain tentang percepatan pencairan dana hibah BNPB/Kemenkeu yang sudah direkomendasikan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, dan sudah diverifikasi BNPB sejak tahun lalu. Khususnya untuk pengendalian banjir rob dan sungai-sungai yang melintas di Kota Medan.

“Diharapkan, dana tersebut dapat segera dicairkan, sehingga penanganan banjir di Kota Medan dan sekitarnya dapat segera dilakukan,” ujar Wagub Musa Rajekshah.

Bak gayung bersambut, keinginan Gubernur untuk mewujudkan Medan Bebas Banjir, mendapat respons positif dari Panglima Daerah Militer I/Bukit Barisan MS Fadhilah. Bahkan Pangdam menegaskan siap membantu penanganan banjir yang dilakukan lintas instansi tersebut.

Pihaknya juga akan mempersiapkan segala kebutuhan tim untuk menangani banjir. “Intinya kita ingin mendorong dan mendukung kemajuan Sumatera Utara lebih baik,” ujarnya.

Pangdam berpesan agar dapat mengoptimalkan waktu yang ada. Diharapkan, agar semua pihak terkait dapat bekerja dengan kemauan yang sama. “Paling utama kemauan kita semua sama, jangan ada beda-beda,” pesannya.

Tidak semata-mata mengharapkan anggaran dari Pemerintah Pusat, keseriusan Gubernur dan Wagub mewujudkan Medan Bebas Banjir juga dibuktikan dengan pengalokasian anggaran dari ABPD Sumut. Pemprov Sumut akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp12.426.000.000 untuk penanggulangan banjir Kota Medan dan sekitarnya.

Anggaran tersebut akan dimasukkan dalam Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (R-PAPBD) tahun 2019. Selain APBD Sumut, dana penanggulangan Banjir Kota Medan juga diharapkan dari APBN, APBD kabuapten/kota, dana CSR, sumbangan dan dana-dana masyarakat.

Jika diperlukan, kata Gubernur, akan dilakukan pembebasan lahan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Untuk itu, Pemprov Sumut akan menyiapkan rumah susun bagi masyarakat yang terkena pembasan lahan.

Edy Rahmayadi juga mengharapkan para lurah dapat mengimbau warganya masing-masing agar tidak lagi membuang sampah ke sungai. Menurutnya sungai harus dijaga semua orang, karena itu tanggungjawab bersama. Medan sebagai ibukota, juga harus menjadi kota yang bersih berseri dan bermartabat. “Sungai ini membuat rakyat sejahtera, jika sungai kotor bagaimana bisa digunakan masyarakat,” katanya.

Medan Bebas Banjir Harus Terwujud

Untuk mendorong percepatan terwujudnya Medan Menuju Bebas Banjir 2022, Gubernur dan Wagub pun membentuk tim teknis, sehingga penanganan banjir dapat lebih terprogram dan terstruktur.Tim teknis yang terdiri dari 12 kelompok kerja (Pokja) yang berasal dari lintas instansi, termasuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut). Diresmikan melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Sumut Nomor 188.44/411/KPTS/2019.

Sebanyak 12 Pokja tersebut yaitu Pokja Sosialisasi Hukum dan Pengaduan Masyarakat, Pokja Perencanaan dan Penganggaran, Pokja Pelaksana Teknis, Pokja Pengendalian Monitoring dan Evaluasi, Pokja Keamanan dan Ketertiban, Pokja Pembebasan Lahan dan Relokasi, Pokja Kebersihan Lingkungan dan Sungai, Pokja Review dan Revitalisasi Kanal Banjir Drainase Perkotaan dan Pemukiman Kota Medan dan sekitarnya, Pokja Mitigasi Banjir Medan dan sekitarnya, Pokja Humas dan Media Center, Pokja Sekretariat, dan Pokja Kelompok Tenaga Ahli.

Pokja-pokja ini diisi dari berbagai unsur, dintaranya ASN, TNI, Polri serta berbagai lapisan masyarakat termasuk camat-camat Medan dan sekitarnya termasuk Deliserdang, Binjai dan Karo. Tim Koordinasi Terpadu Penanggulangan Banjir Medan juga diisi tenaga ahli yang memang kompeten di bidangnya, antara lain Asman Sembiring (ahli perairan dan sungai), Boy Sembiring (Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumut, Makmur Ginting (ahli infrastruktur), dan pakar lingkungan Jaya Arjuna. Semua bagian-bagian ini akan bersinergi untuk menanggulangi secara cepat, tepat, akurat dan sistematis dalam menanggulangi banjir Kota Medan dan sekitarnya secara sukarela.

Gubernur berharap, Pokja yang berasal dari berbagai instansi tersebut bekerja sama untuk mewujudkan Medan Bebas Banjir Tahun 2022. “Ini tanggung jawab kita bersama, Sumut ini tergantung kita,” katanya.

Dalam berbagai kesempatan, Gubernur selalu menegaskan bahwa Medan Menuju Medan Bebas Banjir 2022 harus bisa diwujudkan. Seluruh pihak yang terkait diharapkan berkoordinasi dan saling bersinergi, serta terus bekerja sesuai bidang tugas masing-masing.

“Harus bisa diwujudkan program Medan Menuju Bebas Banjir 2022. Mari kita kerja sama untuk merperbaikinya. Maaf bila saya memaksakan kehendak, tapi ini bukan untuk saya, untuk kepentingan rakyat Sumut. Kasihan rakyat kita, sudah bertahun-tahun merasakan banjir,” ucap Gubernur ketika memimpin rapat bersama Pemerintah Kota (Pemko) Medan, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera  II, Ditjen Sumber Daya Air, dan Kementerian PUPR, di Ruang Rapat Kantor Gubernur Sumut, belum lama ini.

Gubernur berpesan, agar BWS dan Pemko Medan jangan bekerja sendiri-sendiri. “Kalian jangan main sendiri sendiri. BWS dikirim dari Jakarta untuk mengkoordinir ini, kalau Pemko Medan main sendiri, BWS main sendiri, tak akan selesai masalah banjir ini. Apa pun alasanya, ini harus kita kerjakan dengan serius,” tegas Edy Rahmayadi.

Keinginan Gubernur dan Wagub Sumut, untuk membebaskan Kota Medan dan sekitarnya dari banjir yang menyengsarakan, sejatinya didukung oleh semua pihak terkait, termasuk seluruh masyarakat Sumut. Sehingga seluruh rencana dan upaya strategis untuk mewujudkan Medan Menuju Bebas Banjir 2022 dapat direalisasikan dengan baik, dan Sumut bermartabat pun semakin menyata. ### Semoga ### (sbc-05/red)

 

 




Tinggalkan Balasan

error: