Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Hipertensi Jas Putih Tingkatkan Resiko Jantung?
Search
Minggu 20 Oktober 2019
  • :
  • :

Hipertensi Jas Putih Tingkatkan Resiko Jantung?

Starberita – Jakarta, Ada kondisi tertentu yang menjadikan tekanan darah lebih tinggi, seperti pada saat melihat jas putih seperti yang dipakai dokter. Fenomena ini dinamakan hipertensi jas putih. Nah, apakah kondisi ini juga bisa tingkatkan risiko penyakit jantung?

Pertama-tama, mari kenali lebih jauh apa itu hipertensi jas putih. Menurut dr. Andika Widyatama, hipertensi jas putih atau (white coat hypertension atau white coat syndrome) adalah kondisi ketika tekanan darah seseorang mengalami peningkatan saat dirinya diperiksa di lingkungan medis, atau menyadari kehadiran dokter di tempat pemeriksaan tersebut.

Hipertensi jas putih ditemukan pertama kali oleh Riva-Rocci pada tahun 1896. Pada penelitian di tahun 1983, dilakukan pengukuran tekanan darah intra-arterial pada beberapa pasien di rumah sakit selama 24 jam.

“Dilaporkan bahwa tekanan darah dan frekuensi denyut jantung seorang pasien melonjak ketika dokter datang. Tercatat, tekanan darah pasien mencapai puncaknya dalam 2-4 menit sejak dokter datang, dan tetap tinggi selama dokter masih berada di ruangan,” jelas dr. Andika.

Benarkah hipertensi jas putih tingkatkan risiko penyakit jantung?

Dijelaskan oleh dr. Alvin Nursalim, SpPD, seseorang dengan hipertensi jas putih memiliki peningkatan risiko menderita tekanan darah tinggi yang menetap. Pada orang yang mengalami kondisi ini, kejadian tekanan darah yang menetap lebih tinggi, yaitu berkisar di angka 46,9 persen dibandingkan orang dengan tekanan darah normal, yaitu 22,2 persen.

Selain itu, penderita hipertensi jas putih juga memiliki risiko terjadinya berbagai kerusakan organ seperti gangguan jantung dan pembuluh darah.

“Berbagai gangguan ini terjadi karena adanya peningkatan saraf simpatik dan dapat berimbas buruk pada berbagai organ vital manusia,” ungkap dr. Alvin.

Didukung oleh penelitian

Baru-baru ini, terdapat studi yang menemukan bahwa hipertensi jas putih adalah faktor risiko signifikan untuk penyakit jantung kematian akibat kardiovaskular, sama halnya seperti hipertensi. Spesifiknya, hipertensi jas putih yang tidak ditangani dengan benar dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung lebih dari 100 persen. Temuan ini bisa dibaca di jurnal “Annals of Internal Medicine” yang baru terbit.

Penulis utama studi adalah Dr. Jordana B. Cohen, merupakan profesor dalam divisi Renal-Electrolyte and HypertensionUniversity of Pennsylvania School of Medicine, Amerika Serikat. Ia dan tim melakukan metaanalisis dari 27 studi observasional, yang totalnya mencakup lebih dari 60 ribu peserta. Tiap studi meneliti risiko kesehatan yang berhubungan dengan hipertensi jas putih serta adanya periode tindak lanjut paling tidak selama 3 tahun.

Para peneliti menemukan bahwa partisipan yang memiliki hipertensi jas putih yang tidak diobati memiliki kemungkinan 36 persen lebih besar untuk menderita penyakit jantung, 33 persen lebih mungkin meninggal dunia dini karena sebab apa pun, serta 109 persen lebih mungkin meninggal akibat penyakit jantung.

Hipertensi jas putih yang tidak ditangani berhubungan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular dan semua penyebab kematian. Pemantauan di luar lingkungan kesehatan sangat penting dalam diagnosis dan manajemen hipertensi.

“Kami percaya bahwa individu yang memiliki hipertensi jas putih dan yang tidak mengonsumsi obat-obatan hipertensi, harus dipantau secara ketat untuk transisi ke hipertensi yang berkelanjutan, atau meningkatnya tekanan darah baik ketika sedang berobat ke dokter maupun di rumah,” kata Dr. Jordana.

Studi juga menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang dewasa mungkin memiliki hipertensi jas putih. Dikatakan oleh Dr. Jordana, temuan studinya tersebut penting untuk mengidentifikasi orang-orang dengan kondisi tersebut.

Perlunya perubahan hidup demi kesehatan kardiovaskular yang lebih baik

Tim peneliti juga mengatakan bahwa individu dengan hipertensi jas putih tetapi tidak menanganinya, disarankan untuk melakukan perubahan hidup.

“Modifikasi gaya hidup yang diperlukan meliputi berhenti merokok, mengurangi konsumsi minuman beralkohol, serta melakukan perbaikan pola makan serta olahraga,” kata Dr. Jordana lagi.

Meski hanya terjadi pada kondisi tertentu, tetapi hipertensi jas putih tetap memerlukan penanganan serius. Jika tidak, menurut sebuah studi kondisi ini bisa tingkatkan risiko penyakit jantung. Mari terapkan pola hidup sehat untuk mencegah terjadinya penyakit ini, begitu juga penyakit lainnya di masa mendatang. (sbc-02/kdc)

 




Tinggalkan Balasan

error: