Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Apa Bedanya Rematik, Demam Rematik & Penyakit Jantung Rematik?
Search
Senin 9 Desember 2019
  • :
  • :

Apa Bedanya Rematik, Demam Rematik & Penyakit Jantung Rematik?

Starberita – Jakarta, Istilah rematik ternyata tidak hanya digunakan untuk menyebut peradangan yang menyerang persendian. Ada pula masalah kesehatan dengan istilah yang sangat mirip, yakni demam rematik dan penyakit jantung rematik.

Meskipun mirip, ketiganya memiliki gejala dan penyebab yang jauh berbeda. Itu sebabnya, penanganannya pun berbeda satu sama lain. Untuk itu, ketahui perbedaan ketiganya.

Beda rematik, demam rematik, dan penyakit jantung rematik

Berikut adalah perbedaan antara ketiga penyakit tersebut:

1. Rematik (rheumatoid arthritis)

Rematik adalah penyakit peradangan yang menimbulkan nyeri, bengkak, dan kaku pada sendi. Sendi jari tangan dan kaki adalah area yang paling berisiko terkena penyakit ini.

Pada beberapa orang, rematik juga dapat menyerang mata, kulit, dan paru-paru.

Rematik merupakan penyakit autoimun. Pada tubuh penderita rematik, sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sendi yang sehat. Akibatnya, jaringan sendi mengalami peradangan.

Rematik jangka panjang bahkan juga dapat menyebabkan kerusakan sendi.

Gejala rematik banyak ditemukan di area tubuh tertentu yang terserang. Inilah yang menjadi ciri khas pembeda dari demam rematik dan penyakit jantung rematik.

Beberapa gejala rematik antara lain:

  • Sendi terasa nyeri, hangat, dan kaku. Gejala biasanya bertambah parah pada pagi hari atau setelah tidak bergerak dalam waktu lama.
  • Sendi tampak kemerahan atau bengkak.
  • Tubuh lesu dan kurang nafsu makan.

2. Demam rematik (rheumatic fever)

Demam rematik merupakan penyakit infeksi yang menyerang sendi, kulit, jantung, hingga otak. Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok usia, tapi anak-anak berusia 5-15 tahun adalah yang paling berisiko.

Demam rematik awalnya dipicu oleh infeksi bakteri streptokokus pada tenggorokan. Begitu mendeteksi infeksi, sistem kekebalan tubuh segera mengirimkan pertahanannya untuk membasmi bakteri.

Namun, alih-alih mengatasi infeksi, sistem kekebalan tubuh yang berlebihan ini justru menyebabkan reaksi demam dan peradangan pada tubuh.

Tanpa penanganan segera, peradangan ini dapat berkembang menjadi demam rematik setelah 1-5 minggu kemudian. Demam akan berlanjut dan disertai dengan gejala berikut:

  • Nyeri persendian, terutama pada lutut, tumit, pergelangan tangan, dan siku.
  • Nyeri dada, detak jantung meningkat, dan sulit bernapas. Beberapa penderita juga mengalami suara desingan (murmur) dari jantung.
  • Tubuh lesu.
  • Tubuh mengalami kejang.

3. Penyakit jantung rematik

Penyakit jantung rematik adalah komplikasi dari demam rematik. Penyakit ini disebabkan oleh sistem kekebalan yang berlebihan karena dipicu oleh bakteri yang sama.

Disebut penyakit jantung rematik karena penyakit ini ini menyerang jaringan ikat tubuh, khususnya pada jantung, persendian, kulit, dan otak.

Demam rematik yang berulang kali kambung membuat jantung akhirnya kerap mengalami peradangan. Akibatnya, fungsi katup jantung rusak.

Jika katup jantung tidak berfungsi, aliran darah akan terhambat dan dapat mengganggu fungsi normal jantung.

Penyakit jantung rematik amat berbahaya bila tidak ditangani. Komplikasi penyakit ini di antaranya menyebabkan detak jantung tidak teratur, stroke karena emboli jantung, infeksi lapisan dalam jantung, hingga gagal jantung yang mengakibatkan kematian.

Gejala utama penyakit ini adalah murmur jantung, nyeri dada, sulit bernapas setelah beraktivitas dan saat berbaring, serta tubuh lesu.

Namun, penderita biasanya tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun.

Walaupun memiliki istilah yang mirip, rematik, demam rematik, dan penyakit jantung rematik adalah tiga hal yang sangat berbeda.

Persamaan diantara ketiganya adalah reaksi peradangan sebagai respons dari sistem kekebalan tubuh.

Dengan mengetahui perbedaan ketiganya, Anda dan dokter tentu dapat memberikan pengobatan yang sesuai dan efektif. (sbc-02/hel)

 




Tinggalkan Balasan

error: