Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Bolehkan Penderita HIV/AIDS Berpuasa Saat Bulan Ramadhan?
Search
Rabu 11 Desember 2019
  • :
  • :

Bolehkan Penderita HIV/AIDS Berpuasa Saat Bulan Ramadhan?

Starberita – Jakarta, Di Indonesia, Anda diharuskan untuk berpuasa selama kira-kira 13 jam. Bagi mereka yang tidak memiliki masalah kesehatan, tentunya hal ini tidak terlalu berpengaruh. Namun, bagaimana dengan orang dengan HIV/AIDS alias ODHA, apakah ODHA boleh berpuasa?

Pasalnya, mereka harus rutin minum obat antiretroviral (ARV) setiap 12 jam sekali. ARV adalah jenis obat untuk menahan laju perkembangan virus HIV penyebab AIDS. Aturan minum obat ARV sangat ketat, karena terkait langsung dengan tingkat perkembangan HIV di dalam darah. Apa saja yang harus dipersipkan ODHA untuk tetap berpuasa?  Simak penjelasan berikut ini.

Apakah ODHA boleh berpuasa?

Sebenarnya, ODHA boleh berpuasa asalkan kondisi fisiknya baik dan tidak sakit. Kondisi tubuh memang jadi faktor penentu apakah seseorang ODHA mampu berpuasa atau tidak. Jadi, jika kondisi sudah sangat rentan dan tidak memungkinkan, jangan dipaksakan untuk berpuasa.

Keputusan untuk berpuasa atau tidak memang di tangan ODHA sendiri. Namun, mereka tetap harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan selama berpuasa karena kurangnya pasokan obat ARV di dalam darah akan memberi peluang besar bagi virus HIV untuk berkembang biak.

Dr. Paul F Matulessy MN SpGK seorang dokter spesialis gizi klinik pun mengatakan hal yang senada, tidak ada hal yang menjadi halangan untuk ODHA berpuasa asalkan kondisinya sehat. Pasalnya, cara berpuasa yang tepat jusru akan menyehatkan bagi ODHA. Selain itu, dengan berpuasa ODHA dilatih untuk disiplin dan membantu ODHA patuh minum ARV.

Bagaimana panduan mengonsumsi obat ARV selama puasa?

ODHA dianjurkan untuk mengonsumsi ARV jika CD4-nya di bawah 350. CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh manusia.

Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu seperti ODHA, nilai CD4 semakin lama akan semakin menurun. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita akan dengan mudah masuk ke tubuh sehingga bisa menimbulkan penyakit pada tubuh manusia.

Sama dengan waktu di luar bulan Ramadan, ODHA harus mengonsumsi ARV secara rutin selama Ramadan agar tubuh tidak mengalami diare, mual, muntah, serta terinfeksi virus aktif seperti tuberkulosis, tokso, dan pneumonia.

Konsumsi ARV ini ada yang sehari hanya satu kali, ada juga yang dua kali dalam sehari. ARV yang dikonsumsi sehari sekali bisa diminum pada malam hari sebelum tidur. Sedangkan ARV yang diminum dua kali sehari mempunyai jeda waktu 12 jam. Nah selama puasa obat ARV ini bisa dikonsumsi saat berbuka dan sahur.

Mengonsumsi ARV memang harus rutin dan tepat waktu, tapi selama puasa tidak ada masalah memundurkan atau memajukan waktu meminum ARV. ODHA bisa mulai mengubah waktu minum obat ARV satu sampai dua minggu sebelum puasa tiba secara perlahan.

Misalnya jika ODHA biasa meminum ARV pada pukul 7 pagi, perlahan bisa diundurkan waktunya menjadi pukul 6.30. Kemudian pada hari selanjutnya minum pukul 6 pagi, dan seterusnya hingga biasa meminum ARV saat sahur.

Selain rutin minum obat, apa lagi yang harus diperhatikan ODHA selama puasa?

Selama berpuasa, ODHA juga sangat dianjurkan untuk memerhatikan asupan makan yang bergizi saat berbuka dan sahur agar terhindar dari berbagai macam penyakit yang nantinya akan berdampak buruk bagi kondisi tubuh.

Sedangkan untuk aktivitas di bulan puasa yang sebaiknya dijalankan bagi ODHA, sebenarnya tidak berbeda dengan orang pada umumnya. Hanya saja, harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing ODHA.

Ada baiknya ODHA berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum memutuskan untuk melakukan puasa. Hal ini dilakukan untuk memastikan jika tubuh mereka dalam kondisi yang baik, sehingga memungkinkan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. (sbc-02/hel)

 

 




Tinggalkan Balasan

error: