Search
Senin 27 Mei 2019
  • :
  • :

Pasien Difteri Bisa Sembuh, Asal Lakukan 5 Hal Ini

Starberita – Jakarta, Penyakit difteri termasuk penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Untuk mencegah kondisi difteri semakin parah, diperlukan upaya penyembuhan yang tepat sasaran.

Penularan difteri dan gejalanya

Perlu diketahui bahwa penularan bakteri penyakit ini dapat melalui beberapa cara, yaitu melalui droplet yang berasal dari batuk penderita, kontaminasi benda pribadi penderita yang belum dicuci, serta kontaminasi barang rumah tangga yang sering dipakai bersama-sama.

Setelah masuk ke dalam tubuh, bakteri akan berkembang biak pada permukaan selaput pernapasan dan mulai memproduksi racun (toksin) yang kemudian merambat ke jaringan di sekelilingnya. Jika tidak segera ditangani, infeksi ini akan menyebar ke seluruh tubuh melalui darah.

Sebab, semakin banyak racun diproduksi maka akan semakin lebar daerah yang terinfeksi dan membentuk suatu jaringan yang disebut pseudomembran. Jaringan ini berwarna putih keabu-abuan dan mempunyai ciri sulit diangkat serta mudah berdarah jika dipaksa untuk diangkat dari area tenggorokan.

Karena begitu memprihatinkannya bahaya yang bisa dimunculkan akibat difteri, ada baiknya Anda mengetahui gejalanya sejak awal agar dapat dilakukan penanganan sejak dini. Gejala difteri tahap awal dapat terjadi di antara dua sampai lima hari setelah infeksi, antara lain:

  1. Demam hingga menggigil
  2. Kelenjar bengkak di leher (bull neck)
  3. Batuk
  4. Sakit tenggorokan
  5. Suara serak

Bila Anda atau kerabat ada yang mengalami berbagai tanda-tanda tersebut, segeralah periksakan ke dokter untuk menghindari kondisi yang lebih parah akibat difteri yang berkelanjutan.

Lakukan ini untuk sembuh dari difteri

Berikut ini adalah beberapa langkah penanganan difteri yang dapat membantu meningkatkan kesembuhan penderita:

1.   Konsultasi ke dokter

Jika Anda memiliki gejala awal difteri, segera konsultasi dengan dokter. Biasanya dokter akan menduga pasien terkena difteri bila ditemukan lapisan bewarna abu-abu pada ujung mulut. Bila sudah demikian, selanjutnya akan diambil sampel lendir dari tenggorokan untuk diperiksa di laboratorium.

2.   Suntikan ADS

Jika hasil pemeriksaan menyatakan positif difteri, dokter akan segera memberikan suntikan anti-diphtheria serum (ADS). Suntikan ini diberikan segera setelah terbukti terjangkit difteri untuk melawan penyebaran racun yang dihasilkan oleh bakteri.

Dengan demikian, penderita tidak sampai mengalami komplikasi yang mengancam jiwa. Namun, sebelum suntik ADS, harus dipastikan penderita tidak memiliki alergi terhadap zat tersebut.

3.   Terapi antibiotik

Dokter akan memberikan antibiotik jenis penisilin atau erythromycin untuk membunuh bakteri penyebab difteri. Untuk prosedur ini juga diperlukan memastikan penderita tidak memiliki alergi terhadap antibiotik yang diberikan.

4.   Suntik steroid

Jika penderita mengalami sesak napas, biasanya dokter akan memberikan suntikan steroid yang dapat membantu mengurangi gejala sesak napas pada penderita.

5.   Dirawat di rumah sakit

Pasien dirawat di rumah sakit agar penanganan dapat dilakukan lebih intensif dan tidak berpotensi menularkan infeksi ke orang lain. Dengan cara ini, kesembuhan penderita menjadi lebih terjamin.

Kelima penanganan di atas perlu dilakukan dengan cepat dan tepat. Karena bakteri penyebab difteri dapat menghasilkan racun yang bisa merusak jaringan di hidung dan tenggorokan, hingga menyumbat saluran pernapasan.

Racun tersebut juga bisa menyebar melalui aliran darah dan menyerang berbagai organ seperti jantung, ginjal dan saraf. Penanganan yang tepat dapat mencegah dan mengurangi tingkat keparahan komplikasi difteri.

Upaya pencegahan yang bisa Anda lakukan

Karena amat berbahaya, Anda dapat melakukan upaya pencegahan sejak dini dengan vaksin.  Untuk mengatasi difteri, diperlukan vaksin DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), TD (Tetanus dan Difteri), serta DT (Difteri dan Tetanus).

Vaksin DPT idealnya diberikan lima kali hingga anak berumur lima tahun, sesuai dengan jadwal dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Sementara itu, vaksin DT diberikan satu kali saat anak berusia tujuh tahun. Kemudian, vaksin TD diberikan setiap 10 tahun sejak umur 18 tahun.

Selain vaksin, pencegahan difteri yang dapat Anda lakukan adalah dengan menjaga kebersihan badan, pakaian, lingkungan sekitar dan memperhatikan asupan makanan tetap sehat.

Lingkungan yang buruk dengan tingkat kebersihan sanitasi yang rendah dapat mudah menularkan penyakit difteri. Asupan makanan yang belum tentu sehat sebaiknya juga dihindari, misalnya membeli makanan di luar rumah. Bila terpaksa tidak dapat memasak sendiri, pastikan makanan yang Anda beli bersih dan sehat.

Penyakit difteri yang disebabkan oleh infeksi bakteri dapat membahayakan tubuh Anda. Namun, dengan penanganan yang tepat, difteri bisa sembuh dan menjauh dari kehidupan Anda. Yang terpenting, jaga selalu kebersihan diri, lingkungan dan asupan agar tubuh senantiasa terhindar dari risiko difteri. (sbc-02/kdc)

 




Tinggalkan Balasan

error: