Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Viu Ajak Sineas Muda Indonesia Jadi ‘Film Maker’ Profesional
Search
Selasa 23 Juli 2019
  • :
  • :

Viu Ajak Sineas Muda Indonesia Jadi ‘Film Maker’ Profesional

Starberita – Medan, Sebagai sebuah layanan OTT video streaming, Viu pun mengajak para sineas-sineas muda Indonesia untuk bisa dan siap menjadi sebagai seorang film maker profesional dengan mengikuti Viu Pitching Forum.

Medan pun menjadi sebagai salah satu kota tujuan dilakukannya Viu Pitching Forum 2019 dari 10 kota yang ada di Indonesia, diantaranya Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Padang, Balikpapan, Manado, Surabaya, Bali, dan Tangerang.

Senior Vice President Marketing Viu Indonesia, Myra Suraryo menjelaskan, tujuan dari dilakukannya Viu Pitching Forum adalah sebagai salah satu bentuk komitmen Viu kepada Indonesia untuk bisa menumbuhkan minat dan bakat dari para sineas muda di Indonesia yang sifatnya berkelanjutan.

“Kalau dipikir, Viu inikan perusahaan Amerika. Ngapain sih melakukan ini untuk bangsa indonesia? Tetapi kita (Viu) hadir di Indonesia, sesuai dengan komitmen kita kepada Indonesia. Komitmen kita kepada indonesia adalah Viu tidak hanya sekedar menjadi wadah, tetapi juga manjadikan ini sebagai wadah, dimana bangsa Indonesia bisa ikut berkreasi yang membawa hasil karya anak bangsa ke dunia internsional dan menciut menjadi wadah yang membawa talenta-talenta Indonesia ke dunia internasional,” papar Myra dalam Viu Pitching Forum yang diadakan di Co Hive at Chaplam, Ruko Center Point Blok G No. III/IV Lt. 2, Medan, baru-baru ini.

Dia menambahkan, pada akhirnya semakin banyak warga Indonesia dan hasil karya anak Indonesia di dunia internasional yang berarti akan semakin banyak juga dunia internasional yang akan datang ke Indonesia. Disitulah ketika sebuah perekonomian nasional akan terlihat mendapatkan kontribusi yang signifikan dari ekonomi kreatif, yaitu dalam hal ini dari sektor perfilman.

Myra pun menjelaskan bahwa Viu Pitching Forum juga merupakan sebuah audisi yang digelar untuk mencari ide film dari para sineas muda yang ada di berbagai kota, khususnya yang ada di Indonesia. Dimana ide film yang berdurasi 30 detik – 1 menit tersebut dituangkan kedalam sebuah proposal dan dikirimkan langsung kepada Viu dan diberi jangka waktu kurang lebih satu bulan sejak dilaksanakannya Viu Pitching Forum 2019, atau sejak tanggal 20 Januari – 28 Februari 2019.

“Dan bagi mereka yang proposalnya terpilih, maka ide film tersebut akan dibuat menjadi film Viu originals yang akan di tayangkan di 16 negara pengguna Viu,” ungkapnya.

Myra pun berharap dari semua peserta yang mengikuti Viu Pitching Forum dapat lolos sehingga ide filmnya bisa diproduksi. Karena menurutnya, ketika semakin banyak yang lolos dan fimnya di produksi, maka semakin banyak juga return invesment yang bisa diperkirakan.

“Tetapi seandainya pun ada dari peserta yang tidak lolos, untuk Viu tentunya secara otomatis itu akan menjadi perhitungan kita bahwa bisa jadi gak ada lolos. Dan hal itu juga termasuk apa yang kita perhitungkan dan kita proyeksikan,” jelas Myra.

Kendati demikian, kata Myra lagi, untuk mereka yang mengikuti Viu Pitching Forum tersebut, ilmunya bisa mereka bawa kemana saja. “Bahkan untuk berikutnya, dengan ilmu yang sudah diberikan, ilmu untuk pitch tersebut, mereka bisa pitch dimana saja, baik di dunia nasional maupun dunia internasional,” pungkas Myra.

Sementara itu, salah seorang sutradara kawakan Indonesia dan juga Founder Kalyana Shira Films, Nia Dinata yang turut menjadi nara sumber pada Viu Pitching Forum di Medan mengatakan, di era awal tahun 2000-an, banyak sekali produk-produk terutama rokok, yang juga bikin hal-hal seperti ini.

“Tapi apa, yang dibikin film pendek, paling semenit sampai 3 menit. Terus ditayangkannya juga Cuma disaat eventnya mereka, abis itu udah. Sekarang misalnya ada orang, anak Bandung, anak Jogja yang pernah bikin film itu, mau ngambil filmnya aja gak bisa. Karena mereka belum punya linknya. Itu permasalahan klise yang selalu dihadapi oleh film maker muda. Padahal itu portofolionya dari anak itu. Nah, itu yang membedakan dengan apa yang dilakukan oleh Viu ini,” jelas Nia.

Kemudian, tambah Nia, untuk perbedaan yang kedua adalah, apa yang dikompetiskan tersebut, itu tidak di moneyties oleh sponsorship, siapun sponsor perlombaan itu. mereka tidak moneyties dan menjadikan ini sebagai bisnis yang suistainable. Karena diputarnya cuma satu kali, yakni saat event yang dilakukan oleh produk-produk tersebut.

“Dilombakan dan diputarnya disitu. Kita tentu senang lah ya sebagai film maker pemula. Saya masuk sebagai finalis, saya menang. Gak apa-apa, it’s a good start. Tapi masa iya kita mau ada di level itu terus dan gak kemana-mana?,” kata Nia.

Dijelaskan Nia, yang membedakan disini adalah, Viu itu modelnya mirip dengan Sunday’s Channel. Dimana dia punya perlombaan, ada film festival. Kemudian bagi mereka yang menang film lite tersebut, otomatis akan ditayangkan di Sunday’s Channel. Dan seumur hidup bisa ada di Sunday’s Channel.

“Dan anytime, kalian tinggal bilang, “oh film gue ini ada di Sunday’s Channel, film gue kompetisi di Sunday’s Film Festival”. Karena mereka itu merupakan sebuah enterty, social, businies, yang juga ada film bisnisnya,” papar Nia

Nia juga mengatakan, baginya yang sebenernya sebagai seniman film, Nia pun mengaku kurang paham soal bisnis. Tapi karena pengalamannya di dunia film maker sejak tahun 99’ hingga saat inidirinya pun sudah melihat gak banyak orang yang berinvestasi ke pendidikan, yang gak cuma bikin lomba, tapi juga dia mengajari workshop selama seminggu gratis, dengan semua pengajarnya yang bener-bener profesional.

“Itu artinya, dia sudah mikir bisnis suistainbility, keberlanjutan jangka panjang. Artinya dia gak Cuma mau berbisnis di Indonesia terus abis itu pergi gitu saja. Tetapi dia mau menciptakan ekosistem perfilman. Supaya Indonesia bisa, gak gue lagi yang produksi untuk film, gue lagi-gue lagi. atau misalnya Lasja lagi – Lasja lagi, atau Monty lagi – Monty lagi. Makanya harus ada nama-nama lain yang muncul. Jadi intinya seperti itu, ini adalah mengenai keberlanjutan itu aja,” ungkap Nia.

Karena menurut Nia, gak banyak bisnis commercial yang mau investasi di edukasi. Dan apa yang dilakukan Viu Ini sebenarnya aadalah sebuah investasi di edukasi. Nia juga mengatakan tak banyak film maker profesional ketika disuruh pitching banyak yang grogi.

“Bahkan siapalah nama film maker profesional, ketika dia disuruh pitching di Tokyo Film Festival, itu berdiri di depan forum aja bisa garuk-garuk kepala. It’s un unknow kalau pitching. Jadi kita disini mempelajari itu, kita ajari kalau untuk pitch profesionaly, SNI Indonesia. Kalau nanti udah dari sini, mungkin kalian nantinya bisa pitching di Tokyo, bisa pitching di Busan, bisa pitching di internasional, di tempat-tempat yang membuka pitching forum gitu loh. Jadi ilmu yang dibawa itu keberlanjutan,” tandas Nia.

Adapun syarat dan ketentuan bagi peserta yang ingin mengikuti Viu Pitching Forum 2019, antara lain, laki-laki dan perempuan, memiliki akun Viu Premium 1 bulan yang aktif dan menyertakan alamat email/FB account/Google+account yang terdaftar di akun premium aktif, serta suka menulis dan punya passion dalam membuat film.

Sementara untuk syarat karya Viu Pitching Forum yakni, pertama, Sinopsis cerita dengan minimal 300 kata dan maksimal 500 kata. Kedua, Dekripsi karakter, baik karakter utama maupun karakter pendukung. Dimana kedua persyaratan tersebut disimpan dan dikirim dalam format PDF kepada Viu. Dan persyaratan karya Viu terakhir, Video dengan durasi 30 detik – 1 menityang dapat mewakili sinopsis cerita.

Sedangkan untuk syarat pendaftaran Viu Pitching Forum antara lain, pertama, Data diri berupa Nama, No. Hp, Alamat Lengkap, Email yang digunakan untuk berlangganan Viu. Syarat kedua, kirim karya ke email: pithtoviu@vuclip.com dengan subject dan format penulisan file: Nama Peserta_Judul Cerita. Periode pengumpulan dilakukan sejak 20 Januari 2019 hingga 28 Februari 2019. (sbc-05)




Tinggalkan Balasan

error: