Search
Jumat 19 April 2019
  • :
  • :

Kenapa Daging Olahan Buruk bagi Kesehatan, Ini 4 Alasannya

Starberita – Jakarta, Dewasa ini produk makanan yang berasal dari daging olahan semakin marak beredar. Memang, makanan yang berasal dari daging olahan memiliki rasa yang enak dan juga harga yang relatif terjangkau. Namun demikian, Anda harus tetap waspada. Sebab makanan yang berasal dari daging olahan disebut mampu mendatangkan beragam efek buruk bagi kesehatan tubuh Anda.

Bagi Anda yang belum tahu, daging olahan adalah daging yang telah diawetkan dengan cara curing (diawetkan dengan penambahan garam, nitrat dan lain-lain), diasinkan, diasapi, dikeringkan, atau dikemas dalam kaleng. Produk daging olahan biasanya dapat dijumpai dalam beragam bentuk seperti:

  • Sosis
  • Ham
  • Daging asin
  • Kornet
  • Daging asap
  • Dendeng
  • Daging kalengan

Bagaimana dengan daging yang dibekukan? Daging jenis ini tidak tergolong sebagai daging olahan. Sebab, daging yang hanya dibekukan tidak melalui proses apapun selain disimpan di dalam freezer.

Waspadai bahaya daging olahan

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa daging olahan tidak baik bagi kesehatan. Sebab jenis asupan tersebut dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit seperti kanker dan penyakit jantung.

“Risiko kematian akibat kanker lebih tinggi 43% dan risiko kematian akibat penyakit jantung lebih tinggi 70% pada orang-orang yang mengonsumsi daging olahan lebih dari 160 gram per hari,” kata dr. Dewi Ema Anindia.

Adanya hal tersebut didasari oleh kandungan senyawa kimia berbahaya di dalam daging olahan. Beberapa senyawa tersebut beserta efek sampingnya adalah sebagai berikut:

1. Senyawa Nitrit, N-Nitroso dan Nitrosamin

Senyawa N-nitroso adalah zat penyebab kanker yang diyakini bertanggung jawab atas beberapa efek buruk dari konsumsi daging olahan. Zat tersebut terbentuk dari nitrit (natrium nitrit) yang ditambahkan ke produk daging olahan.

Nitrit digunakan sebagai zat tambahan karena 3 alasan:

  • Untuk mempertahankan warna merah pada daging
  • Untuk meningkatkan rasa dengan menekan oksidasi lemak
  • Untuk mencegah tumbuhnya bakteri, meningkatkan rasa, dan mengurangi risiko keracunan makanan

Berbeda dari yang ada pada sayuran, nitrit dalam daging olahan dapat berubah menjadi senyawa N-nitroso (nitrosamin). Zat tersebut terbentuk ketika produk daging olahan terkena panas tinggi (di atas 130⁰ Celsius), seperti ketika menggoreng baconatau sosis panggang.

Studi pada hewan menunjukkan bahwa nitrosamin dapat memainkan peran utama dalam pembentukan kanker usus. Temuan itu didukung oleh penelitian observasional pada manusia, yang mendapatkan hasil bahwa nitrosamin dapat meningkatkan risiko kanker lambung dan usus.

2. Hidrokarbon aromatik polisiklik

Pengasapan adalah salah satu metode pengawetan tertua yang pernah ada. Metode tersebut sering digunakan dalam kombinasi dengan pengasinan atau pengeringan. Hanya saja, metode pengasapan mengarah pada pembentukan berbagai zat yang berpotensi berbahaya dan itu termasuk hidrokarbon aromatik polisiklik (HAP).

HAP adalah zat yang terbentuk ketika bahan organik terbakar. Bahan-bahan itu menguap ke udara bersamaan dengan asap dan menumpuk di permukaan produk daging asap dan daging yang dipanggang di atas api terbuka.

HAP dapat terbentuk akibat:

  • Membakar kayu atau arang
  • Lemak yang terbakar di permukaan panas
  • Daging terbakar atau hangus

Untuk alasan ini, produk-produk daging asap memiliki kandungan HAP yang tinggi. Diyakini bahwa HAP berkontribusi terhadap beberapa dampak buruk kesehatan dari daging olahan. Sejumlah penelitian pada hewan menunjukkan bahwa HAP dapat menyebabkan kanker.

3. Amina Heterosiklik (HAC)

Amina heterosiklik (HCA) adalah kelas senyawa kimia yang terbentuk ketika daging atau ikan dimasak pada suhu tinggi, seperti saat menggoreng atau memanggang. Zat tersebut tidak terbatas pada daging olahan, melainkan juga ada dalam jumlah yang besar pada sosis, bacon goreng, dan burger daging.

Banyak penelitian pada manusia menunjukkan bahwa makan daging yang dimasak benar-benar matang (well done) dapat meningkatkan risiko kanker usus besar, kanker payudara, dan kanker prostat.

4. Natrium klorida

Produk daging olahan biasanya tinggi akan kandungan natrium klorida atau dikenal sebagai garam meja. Konsumsi garam berlebihan dihubungkan dengan peningkatan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.

Tak cuma itu, beberapa studi observasi juga menunjukkan bahwa diet tinggi garam dapat meningkatkan risiko kanker lambung. Temuan tersebut didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa diet tinggi garam dapat meningkatkan pertumbuhan Helicobacter pylori, bakteri yang menyebabkan tukak lambung. Bakteri itu merupakan salah satu faktor yang berperan pada terjadinya kanker lambung.

Setelah tahu tentang fakta ini, apakah Anda masih tertarik untuk mengonsumsi daging olahan? Jika memang sangat ingin, pastikan Anda tidak mengonsumsinya lebih dari satu kali dalam waktu sebulan. Tahan diri Anda dari godaan daging olahan, agar sederet penyakit berbahaya tidak terjadi di kemudian hari. (sbc-02/kdc)

 




Tinggalkan Balasan

error: