Search
Senin 25 Maret 2019
  • :
  • :

Industri Jasa Keuangan Penting dalam Pertumbuhan Perekonomian Sumut

Starberita – Medan, Industri Jasa Keuangan berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara (Sumut). Selain menjadi motor penggerak ekonomi, Industri Jasa Keuangan juga sebagai penghubung antara unit surplus (penabung) dan unit defisit (peminjam).

Hal itu disampaikan Wagubsu, Musa Rajekshah (Ijeck) pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019 di Hotel Santika Premiere Dyandra Jalan P. Diponegoro Medan, Jumat (25/1/2019).

“Peran serta Industri Jasa Keuangan di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2018 yang lalu cukup signifikan,” ujarnya.

Hal itu, kata Ijeck, ditandai dengan tumbuhnya kredit perbankan di Sumut, yaitu dari sisi konvensional mencapai sebesar 7% dan sisi syariah tumbuh sebesar 10,61%, sementara kredit bermasalah rata-rata sebesar 2,34% dan masih cukup terkendali.

“Pertumbuhan kredit di Sumut secara agregat pada tahun 2019 diharapkan dapar lebih terakselerasi lagi ke level 11% sampai dengan 13%,” paparnya.

Selain itu, katanya, penyaluran kredit produtif bagi pengembangan UMKM di Sumut juga sudah relatif baik, yakni mencapai Rp.163,68 T atau sebesar 74,9% dari total kredit yang disalurkan. Ada tiga lapangan usaha yang menjadi primadona, yaitu perdagangan, pertanian dan industri pengolahan.

Perkembangan realisasi kredit usaha rakyat (KUR) di Sumut juga relatif baik, dengan menempatkan Sumut di peringkat ke lima sebagai penyalur KUR terbesar pada tahun 2018, setelah Jateng, Jatim, Jabar dan Sulsel.

“Untuk itu kami memberikan apresiasi kepada Industri Jasa Keuangan di Sumut yang aktif dalam menyediaan modal kerja pembiayaan di luar perbankan yang selama tahun 2018 tumbuh sebesar 11,37%,” sebut Ijeck.

Karena itu, sambungnya, kolaborasi aktif Pemda dengan Industri Jasa Keuangan di Sumut diharapkan dapat terus ditingkatkan melaui forum Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan berbagai program turunannya yang berpihak kepada UMKM, petani, peternakan, maupun nelayan.

“Pemerintah Provinsi Sumut siap mendukung keberhasilan program TPAKD bagi perkembangan Industri Jasa Keuangan yang kontributif bagi kemaslahatan ekonomi Sumut,” katanya.

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ahmad Hidayat menyebutkan, kontribusi Sumut dalam perekonomian atau perkembangan jasa keuangan nasional cukup besar karena berbagai potensi yang dimiliki Sumut.

“Potensi Sumut yang besar itu terlihat dari pertumbuhan industri pariwisata, industri kreatif dan UMKM, kelautan dan perikanan,” kata Ahmad.

Kemudian tingkat literasi dan inklusi keuangan yang terus meningkat, berkembangnya layanan teknologi finansial dan besarnya potensi pemanfatan pasar modal. “OJK berharap kontribusi Sumut semakin besar dalam sektor keuangan nasional di 2019,” sebutnya.

Apalagi, kata Ahmad, Sumut juga sudah membuktikan kuatnya kemauan seperti dalam menekan inflasi rendah. OJK sendiri telah menyiapkan lima kebijakan strategis dan inisiatif di 2019 untuk menggenjot sektor keuangan nasional.

“Lima kebijakan itu mendorong pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan UMKM dan masyarakat kecil, mendorong inovasi teknologi informasi industri jasa keuangan serta reformasi internal dalam pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala OJK Kantor Regional 5 Sumbagut, Yusup Ansori menyebutkan, keberhasilan OJK Regional 5 Sumbagut dalam mengedepankan dan meningkatkan fungsi literasi dan inklusi keuangan merupakan hasil kerja sama (kolaborasi) intensif. Kerja sama intensif antara Kantor Regional, Kantor OJK dengan seluruh pemangku kepentingan di Regional 5 Sumbagut (Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, dan Kepri) sangat membantu.

“Kolaborasi itu sebagai capaian (outcome) yang perlu dijaga kesinambungannya dan semakin disempurnakan kualitasnya,” katanya.

Yusup pun menegaskan, secara umum, OJK melihat bahwa karakteristik sektor ekonomi pertanian (agrikultur), perdagangan, industri lengolahan, transportasi, dan pertambangan masih merupakan primadona aktivitas ekonomi di lima provinsi itu. Hasilnya gelombang eksternal pertumbuhan ekonomi global turut berdampak pada penetrasi peran industri jasa keuangan di masing-masing wilayah.

“Namun syukurnya di tengah tren global dalam rangka efisiensi operasional yang cenderung memilih depresiasi jaringan kantor seiring dengan perkembangan teknologi virtual, para pelaku usaha jasa keuangan di Regional 5 masih bertahan,” tandasnya. (sbc-05)




Tinggalkan Balasan

error: