Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Ini Cara Mudah Deteksi Pneumonia pada Anak di Rumah
Search
Jumat 18 Oktober 2019
  • :
  • :

Ini Cara Mudah Deteksi Pneumonia pada Anak di Rumah

Starberita – Jakarta, Masyarakat Indonesia tentu sering mendengar penyakit bernama pneumonia. Penyakit ini mungkin tidak terlalu booming, akan tetapi banyak sekali masyarakat yang meninggal dunia akibat mengidap pneumonia.

Sebagian besar balita yang tinggal di ibu kota dan sering terpapar dengan udara luar berpolusi, risiko sesak napas kemungkinan sering dialami. Jika sesak napas sudah mulai menyerang, jangan anggap remeh. Segeralah periksakan diri buah hati Anda ke dokter, bisa jadi penyakit yang diderita adalah pneumonia.

Sebagaimana diketahui pneumonia merupakan salah satu penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia. Penyakit ini biasanya menyerang balita dan menyumbang penyebab kematian terbanyak kedua pada anak setelah diare.

Pneumonia merupakan radang paru yang menyebabkan penderitanya kesulitan untuk bernapas. Bahkan, dalam beberapa kasus yang parah, pneumonia bisa sampai menyebabkan kematian.

Sebenarnya ada beberapa ciri yang bisa dilihat untuk menentukan seseorang anak mengalami pneumonia. Menurut dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A(K), cara mendeteksi seorang anak yang mengalami pneumonia tidak begitu sulit, dan bahkan tidak memerlukan keterampilan khusus.

Cara paling mudah dan sederhana adalah menghitung jumlah frekuensi napas sang anak. Tentunya setiap usia memiliki batasan frekuensi napas yang berbeda pula. Anak dengan usia kurang dari dua bulan memiliki batas frekuensi napas sebanyak 60 kali, anak berusia 2-12 bulan sebanyak 50 kali sementara 1-5 tahun sebanyak 40 kali.

“Jadi cara mudahnya adalah menghitung batasan frekuensi napas sang anak. Caranya dengan meletakkan tangan di atas dada sang anak dan rasakan berapa hentakan napas penderita dalam satu menit. Jika jumlahnya sesuai dengan batas frekuensi napas, kemungkinan positif,” terang dr. Darmawan.

Tentunya masih ada beberapa cara lain yang bisa dilakukan untuk mendeteksi seorang anak mengalami pneumonia. Caranya adalah dengan melihat reaksi fisik yang ditunjukkan sang anak.

  1. Darmawan mengatakan penderita pneumonia akan merasa sesak, sehingga mereka akan mengambil napas dalam-dalam. Frekuensi napas mereka akan berubah menjadi cepat dan terasa berat di setiap tarikannya.

Cara melihatnya paling mudah adalah dengan memperhatikan cuping hidung sang anak. Jika terlihat kembang kempis, itu kemungkinan pneumonia. Selain itu cekungan pada dada (chest retraction) juga akan terlihat pada saat bernapas. Beberapa tanda inilah merupakan ciri dari pneumonia.

“Jadi kalau sudah sesak, napas dalam, napas cepat dan berat, dan bernapas hingga cuping hidungnya kembang kempis, atau cekung dadanya terlihat (chest retraction) ini merupakan ciri pneumonia,” lanjut dr, Darmawan.

  1. Darmawan juga mengajurkan para balita yang sudah memiliki gejala tersebut harus segera dibawa ke rumah sakit. Hal ini untuk menghindari kondisi anak yang semakin parah.

“Jika pnemonia masih ringan bisa rawat jalan, tapi jika sudah berat harus rawat inap dan diberi oksigen. Jika semakin berat harus diberikan obat-obatan khusus, pereda nyeri, infus dan lain-lain,” tuntasnya. (sbc-02/okz)

 




Tinggalkan Balasan

error: