Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Semakin Banyak Perokok, Resiko Bayi Kena Pneumonia Makin Tinggi
Search
Rabu 13 November 2019
  • :
  • :

Semakin Banyak Perokok, Resiko Bayi Kena Pneumonia Makin Tinggi

Starberita – Jakarta, Pneumonia adalah radang akut jaringan paru dan sekitarnya. Pneumonia merupakan manifestasi infeksi saluran napas akut (ISPA) yang paling berat dan dapat menyebabkan kematian.

Penyebab pneumonia adalah berbagai macam bakteri, virus, atau jamur. Selain karena infeksi, ada beberapa faktor risiko yang menimbulkan pneumonia, salah satunya adalah asap rokok.

Sayangnya, perokok di Indonesia sangatlah tinggi dan ini bisa menjadi ancaman bagi anak-anak. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), mengungkap data Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi merokok pertama kali di usia remaja meningkat dari angka 7,7 persen, menjadi 8,8 persen, dan 9,1 persen.

Menurut Aman kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak memiliki rasa takut dengan meningkatnya faktor risiko rokok ini. Ditambah lagi, imunisasi belum ada hingga kini.

“Ini menunjukkan tidak ada kontrol orangtua terhadap anak merokok. Apalagi negara. Kita lihat orang bisa beli rokok di mana saja dan gampang,” ujar Aman.

Namun, yang lebih parah lagi kini rokok dijadikan sebagai penyelamat BPJS oleh negara. Isu lainnya, tambah Aman, adalah angka putus sekolah yang tinggi juga berkaitan dengan pneumonia pada anak.

“Cakupan imunisasi kita jelek. Imunisasi MR jeblok karena ada isu haram. Ketika orang tidak mau imunisasi campak yang menjadi faktor risiko pneumonia meningkat,” ujar Aman.

Agar upaya pencegahan dan proteksi terhadap risiko campak berhasil, setidaknya cakupan imunisasi harus di atas 90 persen. Beberapa imunisasi yang terkait pneumonia adalah campak, BCG, DPT, Hib.

Pneumonia dapat dicegah dengan melalui pemberian ASI, nutrisi yang cukup, imunisasi, menghindari gas toksik, dan higienitas. (sbc-02/vnc)

 




Tinggalkan Balasan

error: