Search
Rabu 8 April 2020
  • :
  • :

Para Pria, Sudahkah Melakukan 8 Tes Kesehatan Ini?

Starberita – Jakarta, Melakukan tes atau skrining kesehatan bukan hanya dianjurkan untuk kaum wanita. Mereka sudah paham pentingnya skrining untuk pencegahan atau menemukan dini penyakit seperti kanker payudara, kanker serviks, hingga osteoporosis. Nah bagaimana dengan pria? Tes kesehatan yang tepat dan di waktu yang tepat juga harus dilakukan para pria, lho!

Pria tak luput dari ancaman penyakit yang dapat berakibat fatal jika terlambat dideteksi. Skrining berfungsi mendeteksi penyakit secara dini, bahkan sebelum Kamu merasakan gejalanya. Melakukan deteksi dini penyakit juga akan menjaga kualitas hidup para pria menjadi lebih baik. Deteksi dini penyakit apa yang khusus ditujukan untuk pria?

Kanker Prostat

Kanker prostat adalah jenis salah satu jenis kanker yang paling umum ditemukan pada pria. Sebagian besar kanker ini berkembang lambat, meskipun ada beberapa tipe yang agresif dan berkembang dengan cepat. Skrining dapat mendeteksi penyakit ini secara dini, bahkan sebelum gejalanya muncul. Dengan begitu, pengobatan juga semakin efektif.

Skrining kanker prostat yang bisa dilakukan untuk pria sehat biasanya adalah pemeriksaan rektal digital (DRE) dan tes darah untuk melihat kadar antigen prostat spesifik (PSA). Namun, The American Cancer Society menyarankan agar setiap pria berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu tentang risiko dan manfaat tes PSA.

Usia yang dianjurkan untuk pria melakukan skrining kanker prostat adalah usia 50 tahun bagi yang berisiko rendah, dan di usia 45 tahun untuk yang berisiko rendah. Pria yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker prostat harus melakukan pemeriksaan di usia 40 tahun.

Kanker Testis

Kanker langka ini tumbuh di testis pria, yang merupakan kelenjar reproduktif yang memproduksi sperma. Pada kebanyakan kasus, kanker tesis menyerang pria pada usia 20 – 54 tahun.  The American Cancer Society merekomendasikan agar semua pria melakukan pemeriksaan testis ketika melakukan pemeriksaan fisik rutin ke dokter.

Pria yang memiliki risiko tinggi (ada riwayat kanker testis di keluarga) harus berkonsultasi dengan dokter jika skrining tambahan diperlukan. Beberapa dokter merekomendasikan agar pria melakukan pemeriksaan sendiri juga. Caranya dengan meraba dan merasakan jika ada benjolan keras atau perubahan ukuran testis.

Kanker Usus Besar

Kanker usus besar juga merupakan salah satu penyebab umum kematian pada pria. Apalagi, menurut penelitian, pria memiliki risiko yang lebih tinggi terkena kanker usus besar ketimbang wanita. Pada kebanyakan kasus, kanker usus besar awalnya adalah polip usus besar yang tumbuh secara lambat. Lama kelamaan, kanker ini bisa menyebar ke organ lain. Salah satu cara untuk mencegah kanker usus besar adalah dengan menemukan dan mengangkat polip sebelum berubah menjadi tumor ganas.

Skrining kanker usus besar direkomendasikan dilakukan mulai usia 50 tahun. Biasanya, dokter memeriksa seluruh bagian usus besar menggunakan pipa kecil. Jika ditemukan ada petumbuhan polip, bisa segera diangkat saat itu juga. Pengangkatan polip ini dilakukan menggunakan tekonologi kolonoskopi.

Kanker Kulit

Kanker kulit jenis melanoma adalah salah satu jenis kanker yang paling berbahaya. Kanker ini tumbuh di sel-sel melanosit, yang bertugas memproduksi warna kulit. Pria berusia tua memiliki risiko dua kali lipat terkena kanker kulit ketimbang wanita dengan usia sama. Pria juga memiliki risiko 2-3 kali lipat lebih tinggi terkena  kanker kulit jenis sel basal non-melanoma dan kanker sel kulit skuamosa ketimbang wanita. Risiko Kamu meningkat jika sering terkena paparan sinar matahari. Kulit terbakar juga meningkatkan risikonya.

The American Cancer Society dan the American Academy of Dermatology merekomendasikan pemeriksaan kulit secara rutin untuk mendeteksi adanya perubahan warna di kulit, baik itu bentuk, warna, atau ukurannya. Pemeriksaan kulit oleh dermatologis atau dokter perlu dijadikan aktivitas checkup rutin. Pengobatan kanker kulit akan lebih efektif jika terdeteksi dini.

Tes Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Risiko terkena tekanan darah tinggi meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hipertensi berisiko dialami pria yang memliki kelebihan berat badan dan gaya hidup tidak sehat. Tekanan darah tinggi bisa menyebabkan komplikasi parah tanpa gejala, termasuk pelebaran pembuluh darah abnormal.

Penyakit ini bisa dikelola dengan minum obat teratur dan mengubah gaya hidup. Jika diobati dengan tepat, Kamu bisa menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Yang terpenting adalah, Kamu harus selalu tahu berapa tekanan darahmu. Kalau selalu tinggi, segera konsultasikan dengan dokter tentang bagaimana cara mengatasinya.

Tes Kolesterol

Kadar kolesterol LDL tinggi di dalam darah menyebabkan penumpukan plak di dinding arteri. Kondisi tersebut meningkatkan aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah, dan menjadi penyebab serangan jantung, atau stroke. Cek kadar kolesterol sendiri bisa dilakukan dengan pemeriksaan lipid darah.

Tes ini bisa mendeteksi kadar kolesterol secara keseluruhan, termasuk kasar kolesterol buruk LDL, kolesterol baik HDL, dan trigliserida (lemak darah). Dokter akan memeriksa hasil tesnya dan menentukan jika Kamu harus menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

Ahli merekomendasikan agar pria yang memiliki risiko penyakit jantung melakukan skrining kolesterol sejak usia 20 tahun. Untuk pria yang tidak memiliki risiko, skrining kadar kolesterol secara rutin bisa dimulai di usia 35 tahun.

Skrining Diabetes Tipe 2

Diabetes yang tak terdeteksi dan tidak terkontrol dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, kebutaan akibat kerusakan pembuluh darah retina, dan kerusakan saraf.  Namun, hal-hal tersebut bisa dicegah. Jika diabetes ditemukan sejak dini, penderitanya bisa mengontrol kondisi dan mencegah komplikasi dengan mengaplikasikan gaya hidup sehat dan rutin melakukan  pengobatan.

Ada  banyak pemeriksaan diabetes yang bisa dilakukan, seperti tes gula darah puasa, tes toleransi glukosa, atau tes A1C. Orang dewasa yang sehat harus melakukan tes setiap tiga tahun sekali, mulai usia 45 tahun. Kalau Kau memiliki risiko yang lebih tinggi, dokter akan menyarankan agar skrining rutin dilakukan sesegera mungkin.

Tes HIV

Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. Virus ini menetap di darah dan sekresi tubuh lain dari orang yang terinfeksi. Virus ini bisa menular dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut terpapar sekresi penderita lewat kontak alat genital, mulut, mata, atau luka di kulit. Hingga saat ini belum ditemukan vaksin atau obatnya yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan terbaru bisa mencegah infeksi HIV berkembang menjadi AIDS. Namun, pengobatan tersebut memiliki efek samping yang cukup serius.

Seseorang yang terinfeksi HIV bisa saja tidak mengalami gejala apapun selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengetahui jika Kamu terinfeksi adalah dengan melakukan sejumlah pemeriksaan darah. Tes pertama disebut ELISA atau EIA. Tes ini memeriksa antibodi HIV di dalam darah. Namun, orang yang tidak terinfeksi HIV juga bisa memiliki hasil tes yang positif.

Oleh sebab itu, dibutuhkan tes kedua untuk mengonfirmasinya. Tes ini disebut western blot disebut. Tes ini bisa menunjukkan hasil negatif jika Kamu baru terinfeksi HIV. Oleh sebabnya, ahli biasanya menyarankan melakukan pengulangan tes. (sbc-02/gsc)

 




Tinggalkan Balasan

error: