Search
Sabtu 17 November 2018
  • :
  • :

Aliansi Masyarakat Boyolali Sumut Desak Prabowo Minta Maaf

Starberita – Medan, Statement Capres nomor urut 2, Prabowo Subianto yang menyebut ‘Tampang Boyolali’ terus mendapat kejaman dari berbagai pihak. Sebagaimana protes juga disampaikan Aliansi Masyarakat Suku Boyolali Sumut saat melakukan unjuk rasa di depan Tugu SIB, Jl. Gatot Subroto Medan, Jumat (9/11/2018).

Dalam orasinya, Eka Armada selaku Koordinator Aksi meminta agar Prabowo untuk meminta maaf secara langsung kepada masyarakat Boyolali.

“Pak Prabowo merupakan negarawan sejati, dan sebagai negarawan tentu jika ia berbuat salah pasti akan meminta maaf. Oleh karenanya, kami minta Pak Prabowo untuk segera meminta maaf kepada kami, orang Boyolali,” sebut Eka berorasi.

Lebih jauh Eka menyampaikan bahwa Indonesia adalah tanah air untuk kita semua. Sehingga segala yang ada di Bumi Indonesia ini harus di pergunakan untuk rakyat Indonesia sebaik-baiknya.

“Kita semua adalah satu, yakni masyarakat Indonesia. Kita di Indonesia ini juga tidak memandang suku, maka dari itu, kita jangan mau dipecah – belah,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu masa aksi, Suhadi (58) mengatakan bahwa masyarakat yang melakukan aksi tersebut pada umumnya adalah keturunan asli orang Boyolali yang lahir dan besar di Sumut. Dan sebagai masyarakat Boyolali, mereka pun menuntut Prabowo agar segera meminta maaf secara langsung kepada orang Boyolali.

“Tuntutan kami adalah agar Pak Prabowo itu meminta maaf kepada masyarakat Boyolali umummnya. Karena yang kami proteskan itu adalah soal perkataan Prabowo. maka dari itu, kami minta agar Pak Prabowo meminta maaf secara langsung kepada masyarakat Boyolali,” sebut warga Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat tersebut saat ditemui disela-sela aksi.

Pantauan di lokasi, dalam melakukan aksinya, puluhan massa aksi turut membentangkan 3 spanduk putih yang bertuliskan, ‘Kami masyarakat suku Jawa Sumut menolak, diskriminasi orang Boyolali oleh Prabowo’, ‘Kami menolak capres yang suka menghina rakyat kecil’, dan ‘Rupa dan kedudukan bukan menjadi penilaian bagi Tuhan Yang Maha Kuasa’.

Aksi yang dilakukan dan memakan sebagian badan jalan protokol tersebut berjalan damai tanpa ada kericuhan sedikit pun meski membuat sedikit kemacetan. Selain itu, aksi tersebut juga turut mendapat kawalan dari petugas kepolisian yang berpakaian preman (Intel). (sbc-05)




Tinggalkan Balasan