Search
Kamis 18 Oktober 2018
  • :
  • :

Melemah, Nilai Tukar Rupiah Berada di Level Rp15.000-an

Starberita – Jakarta, Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini alami pelemahan. Rupiah berada di level Rp15.000-an per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Kamis (11/10/2018) pukul 9:10 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 67,5 poin atau 0,44% ke level Rp15.267 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp15.223 per USD -Rp15.267 per USD.

Sementara itu, Yahoofinance juga mencatat Rupiah melemah 57 poin atau 0,38% menjadi Rp15.255 per USD. Dalam pantauan Yahoofinance, Rupiah berada dalam rentang Rp15.198 per USD hingga Rp15.255 per USD.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyatakan, kondisi kurs Rupiah saat ini bergerak dinamis sesuai dengan kondisi pasar yang dipengaruhi permintaan dan penawaran.

“Rupiah saat ini relatif, kita masih lihat pergerakan Rupiah secara dinamis terjadi di pasar. Itu tetap dalam batas fundamental kita,” kata dia di Nusa Dua.

Dia mengatakan, saat ini pelemahan rupiah dipengaruhi kondisi global. Pelemahan mata uang pun tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di seluruh negara-negara dunia. Di global, Rupiah menjadi salah satu mata uang yang cukup kuat dibandingkan pelemahan mata uang di negara-negara berkembang lainnya.

Kendati demikian, diakui Dody, Rupiah memang menjadi yang terlemah di kawasan regional. Hal ini dipicu kondisi transaksi berjalan yang defisit (current account deficit/CAD).

“Jadi karena memang permintaan (Dolar AS) masih cukup besar, namun capital inflow (arus masuk dana asing) masih belum cukup begitu besar,” kata dia.

Menurutnya, penguatan Dolar AS yang terus terjadi dan memukul mata uang negara-negara lainnya, memang tidak dapat dihindari lantaran normalisasi kebijakan moneter negara-negara maju memang sangat berdampak terhadap negara-negara di kawasan regional, termasuk Indonesia.

Meski begitu, BI dikatakan akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan berbagai instrumen yang dimiliki. “Kita lakukan secara kombinasi dari optimalisasi dengan cadangan devisa dan gradual depreciaton,” katanya. (sbc-03/okz)




Tinggalkan Balasan

error: