Search
Rabu 12 Desember 2018
  • :
  • :

Di Tanah Batak, Seperti Apakah Mushaf-Alquran Kuno Yang Dipakai?

Starberita – Medan, Kapan Islam pertama masuk ke tanah Batak, ke daerah Batta-Laender, dalam artian wilayah etnogeopolitik versi misionaris Jerman? Batta-Laender merupakan wilayah yang berbatasan dengan 3 wilayah Islam, mencakup dataran tinggi dan pantai barat Sumatera Utara, diujung Utara berbatasan dengan Aceh, diujung Selatan berbatasan dengan Minangkabau dan di Timur berbatasan dengan wilayah Melayu.

Selain situs berupa mesjid dan makam tua, apa jejak Islam tertulis, di Batta-Laender? Seperti apa kira-kira Mushaf-Al-qur’an yang waktu itu dipakai? Adakah wilayah ini menghasilkan Mushaf-Al-qur’an khas Batta-Laender?

Sumber tertulis beraksara Arab Melayu tertua tentang hubungan tanah Batak dan Islam di wilayah Barus adalah naskah Asal keturunan Raja Barus dan Sejarah Tuanku Batu Badan (J.Drakard 1988). Tapi di dalamnya kita tidak menemukan penjelasan tentang Mushaf Alquran yang dipakai.

Narasi Islam dalam sejarah moderen Barus memperlihatkan jejak cerita jaringan orang Batak Islam ke Minangkabau, Aceh, Jawa dan Melayu. Bendera yang dipakai oleh Singamangaraja 12 yang belum lama ini ditemukan oleh Nelson Lumbantoruan dan Uli Kozok di Museum Antwerpen Belgia, memperlihatkan juga taburan ayat ayat bahasa Arab yang berasal dari Aceh. Apakah dengan demikian Mushaf yang dipakai orang Islam di Tanah Batak juga adalah Mushaf yang dipengaruhi oleh Aceh, Minangkabau atau Melayu?

Beberapa bulan yang lalu saya ke Bayth Alquran Museum Alquran, membawa satu kopor temuan Medan. Ada  satu Mushaf  dengan iluminasi yang aneh yang menurut pemberi manuskrip, berasal dari kawasan Barus.

Ahli di Bayth Alquran menyebut  iluminasi itu mirip iluminasi gaya Minangkabau. Ini  ada juga di Museum Istiqlal,  tapi komposisi warna dan gayanya agak berbeda. Team saya di Medan yang menelusur iluminasi itu menyebut iluminasinya dekat dengan Aceh dan Melayu.

Apakah saling pengaruh Mushaf-Alquran Minangkabau, Melayu dan Aceh lah yang dipakai oleh kaum muslim di Tanah Batak dulu ? Lalu apakah Mushaf No.SU AQ02/ICH  temuan Medan asal Barus,  yang dipamerkan di area MTQ Nasional (6-13 Oktober ini) adalah turunan dari saling pengaruh itu?  Penelitian lebih lanjut di masa datang mudah mudahan bisa menjawabnya.

Jika penelitian sejarah/arkeologi belakangan ini menggunakan ilmu bantu forensik, apakah manuskrip kuno juga akan sampai ke tahap itu? Misalnya lapisan lapisan jejak sidik jari para pembuat dan pembaca naskah kuno yang sudah bau apak  ini,  secara forensik bisa dilacak di masa depan. (rel/sbc-03)

 

Penulis: Dr Phil Ichwan Azhari

Pussis UNIMED

 

 




Tinggalkan Balasan

error: