Search
Kamis 13 Agustus 2020
  • :
  • :

Ini Klarifikasi Edy Soal Pemberitaan Miring Terhadap Dirinya

Starberita – Medan, Pasca dilantik sebagai Gubsu dan Wagubsu periode 2018-2023, Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah (Ijeck) tak lupa untuk melakukan siltaurahmi dengan para wartawan, khususnya wartawan yang bertugas kesehariannya di Kantor Gubsu.

Adapun silaturahmi tersebut dilakukan di Gedung Bina Graha Pemprovsu, Jl. P. Diponegoro Medan, Selasa (25/9/2018). Pada kesempatan tersebut, Edy Rahmayadi mengatakan, sebagai Gubernur dirinya akan melakukan semuanya dengan hati dan pekerjaan yang keras.

“Assalamualaikum, saya berterima kasih kepada semua. Saya minta kepada para wartawan untuk mau mendukung dan memajukan Sumut ini menjadi lebih baik,” sebut Edy.

Edy pun mengomentari terkait wawancara khusus yang dilakukannya dengan Kompas TV pada Senin (24/9/2018) sore kemarin. Dikatakannya, ia menilai bahwa pertanyaan yang ditanyakan oleh presenter Kompas TV terhadapnya dalam dialog khusus tersebut tidak tepat dan tidak merujuk kepada masalah.

“Saat itu saya sedang banyak tugas, saya sedang pusing, masa kalian (presenter Kompas TV) tanya semuanya. Apa gak tambah pusing saya. Coba saya tanya sekarang, apa ada wartawan Kompas yang datang, coba mana orangnya? Berdiri, nah, kau, itu tanggungjawab kau dan dosa kau. Karena saya bukan hanya satu pikiran saya, semua saya pikirkan,” ucap Edy.

Kendati demikian, Edy pun menyampaikan, bahwa semua yang diucapkannya tersebut bukan karena semena-mena dari hatinya, melainkan hanya ucapan yang terlontar saat itu saja. Ia pun mengaku bahwa dirinya hanya sebatas mengucapkan, tapi tidak sampai menyimpan dendam.

“Saya sama wartawan gak mungkin saya apa-apain wartawan itu. Karena bagi saya, wartawan adalah mata dan telinga untuk Gubenur Sumut. Saya sebetulnya butuh kalian semua untuk Sumut yang lebih bermartabat,” kata Edy.

Kemudian lagi soal penamparan yang dilakukannya terhadap salah seorang supporter PSMS Medan tatkala PSMS Medan menjamu Persela Lamongan beberapa waktu lalu di Stadion Teladan, Edy pun mengaku bahwa dirinya tak pernah berniat untuk melakukan kekerasan terhadap siapun. Edy pun mengatakan bahwa sebenarnya dirinya sangat suka terhadap anak kecil.

“Mana mungkin saya melakukan kekerasan kepada anak-anak. Saya paling senang kepada anak-anak. Memang tangan saya keras ini, karena sehari saja saya push up 40 kali masih sanggup. Kalau gak percaya kalian pegang tangan saya. Tetapi saya melakukan kemarin itu memarahi anak itu, karena menggunakan flare dan itu dilarang oleh FIFA,” jelasnya.

Selain itu lagi, Edy pun mengklarifikasi soal viralnya video yang menyebutkan bahwa dirinya mengusir ibu-ibu saat berdemo di depan kantor Gubsu.

“Saya baru lima hari jadi gubernur tapi sudah di demo. Dan yang demo itu para nelayan. Saya tidak tau apa nelayan ini yang mau di demokan, kata mereka soal pemakaian pukat trawl itu. Saya juga tidak tau apa itu pukat trawl dan bagaimana cara pakainya. Sebab setahu saya, memang di Jawa Tengah boleh pemakaiannya. Makanya langsung saya telpon itu KASAL di pusat, saya bilang, itu bagaimana dengan permasalah pukat Trwal, saya gak tau itu, coba kau kasih tau dulu,” ujarnya yang membuat tertawa para wartawan dan Pemred yang hadir tertawa.

Dikatakannya bahwa soal pengusiran terhadap ibu-ibu itu, dikarenakan sang ibu memotong penjelasan yang akan disampaikannya kepada massa aksi saat itu. Edy pun mengatakan bahwa dirinya tidak suka disela saat sedang berbicara. Sebab menurutnya hal itu tidak beretika.

“Kita inikan seharusnya bisa menjaga etika kita. Saat berbuat apapun ada etika, baik itu sedang bicara, makan, duduk, bahkan sebagai wartawan pun ada etikanya. Benarkan! Nah saat itu, saya mau menjelaskan dan menerima aspirasi mereka, tapi si ibu itu memotong saya berbicara. Makanya saya panggil ibu itu dan menyuruhnya keluar dari barisan. Tapi nyatanya, dalam pemberitaan yang keluar dibilang saya mengusir dan gak terima di demo,” papar Edy.

Oleh karenanya, Edy mengatakan, sebagai Gubernur Sumut, dirinya pun tidak main-main dalam menjalani tugasnya tersebut. Bahkan ia pun mengaku bahwa sebagai seorang Gubernur, dirinya tidak memanfaatkan gaji untuk bisa menjadi Sumut sebagai Provinsi yang bermartabat.

“Saya tidak main-main untuk jadi Gubernur ini. Kalau lah kita bicara gaji, gaji saya sebagai Gubernur hanya Rp. 8 juta, tapi ‘sabetannya’ yang banyak. Dan saya pun tidak memanfaatkan itu untuk membangun Sumut bermartabat ini. Sebab saya sungguh-sungguh untuk menjadikan Sumut ini lebih baik lagi. Karena saya sendiri besar di Sumut dan tau bagaimana orang Sumut ini,” tandasnya. (sbc-05)




Tinggalkan Balasan

error: