Search
Minggu 18 November 2018
  • :
  • :

Beda Usia, Beda Masalah Kulitnya. Yuk, Kenali Penanganannya

Starberita – Jakarta, Permasalahan kulit pada setiap dekade usia memerlukan penanganan yang berbeda. Kenali beberapa permasalahan kulit pada berbagai usia.

Berbeda usia, berbeda pula permasalahan kulit yang dialami individu. Untuk anakanak, misalnya, permasalahan kulit yang sering dihadapi ialah eksim popok, yaitu gangguan kulit yang timbul akibat radang di daerah yang tertutup popok, yaitu di alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha, dan perut bagian bawah.

Ruam popok ini merupakan penyebab kelainan kulit yang sering terjadi pada anak, terutama usia 9-12 bulan. Sekitar 7%- 35% bayi mengalami ruam popok dengan penyebabnya iritasi, infeksi, atau alergi.

Episode ruam popok dapat semakin sering terjadi saat anak mengalami diare atau sedang mengonsumsi antibiotik. Permasalahan kulit lain yang sering dialami anak seperti dijelaskan dr Matahari Arsy SpKK, yaitu eksim atopik.

“Permasalahan ini memiliki ciri-ciri kulit yang kering lalu gatal, ruam kemerahan, retak kulit pada lipatan kulit, penebalan kulit, hingga eksudat (pengeluaran cairan kulit),” bebernya.

Terapi utama yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan kulit anak adalah dengan edukasi orang tua mengenai penyakitnya, meliputi cara merawat kulit area popok, dan obat tambahan yang diresepkan sesuai kondisi eksim anak.

Perawatan disesuaikan dengan keadaan eksim saat itu, seperti derajat keparahan, luas infeksi, kondisi kering atau basah, lokasi, serta apakah mengganggu tidur atau tidak.

Untuk eksim popok, perawatan yang dapat dilakukan bila tidak terinfeksi yaitu dengan diberikan krim atau salep mengandung antiradang dan pasta pelindung kulit.

Bila anak sudah terinfeksi, terapi dikombinasi menggunakan krim atau salep sesuai penyebab infeksi. “Terapi lainnya mungkin perlu ditambahkan, seperti obat minum sesuai kondisi anak,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, dr Arsy juga meluruskan pandangan yang salah di masyarakat. Masyarakat sering beranggapan bahwa penggunaan sabun antiseptik, sering cuci tangan, pengolesan minyak dan bedak ke badan anak, penggunaan tisu basah, penggunaan sunscreen itu penting.

Tetapi faktanya, melakukan hal tersebut bila tidak dilakukan dengan tepat dapat memberikan efek yang tidak diinginkan. “Penggunaan sabun antiseptik, sering mencuci tangan, dan mengolesi minyak pada kulit anak yang lebih tipis dapat menimbulkan iritasi,” ujarnya.

Pemberian bedak yang berlebihan, terutama area di atas perut, berbahaya bila terhirup. Sementara pemberian sunscreen pada bayi di bawah 6 bulan lebih banyak efek samping dibandingkan efek perlindungannya.

Adapun permasalahan kulit yang dialami remaja, dr Martinus SpKK menjelaskan, remaja adalah usia memasuki masa pubertas, di mana individu mengalami berbagai perubahan, salah satunya perubahan fisik akibat berbagai masalah kulit.

Permasalahan kulit tersebut meliputi jerawat, kulit berminyak, dan hiperpigmentasi pascainflamasi akne (HPI), yaitu perubahan warna kulit menjadi lebih gelap, yang terjadi setelah peradangan kulit akibat jerawat.

Disamping itu, remaja sering mengeluhkan adanya skar akne (kerusakan permanen pada jaringan kulit akibat gangguan pada proses penyembuhan luka jerawat), body odor (bau badan), dan keringat berlebih berupa peningkatan produksi kelenjar keringat yang menyebabkan bau badan, khususnya di daerah ketiak, kelamin, dan telapak kaki.

“Sebenarnya tidak ada batasan pasti mengenai kapan waktu yang tepat bagi remaja untuk memulai perawatan kulit. Namun, umumnya remaja akan mulai inisiatif untuk mencari perawatan kulit saat memasuki masa pubertas, di mana mulai timbul kelainan kulit akibat pengaruh hormon androgen,” kata dr Martinus. Beberapa treatment yang bisa dilakukan remaja bergantung pada keluhan yang dialaminya.

Jerawat dan HPI dapat dilakukan terapi tambahan, yaitu ekstraksi komedo, penyuntikan kortikosteroid intralesi (KIL) untuk lesi yang berbentuk nodus dan lesi yang meradang, chemical peeling , mikrodermabrasi, dan laser NdYag. Bekas jerawat dapat diterapi dengan laser CO2, chemical peeling , dan mikrodermabrasi. “Sedangkan, bau badan dan keringat berlebih diperbaiki dengan terapi injeksi botulinum toxin ,” pungkas dr Martinus. (sbc-02/okz)

 




Tinggalkan Balasan