Search
Kamis 22 November 2018
  • :
  • :

Kendalikan Karies Gigi dengan Bijak Konsumsi Gula

Starberita – Jakarta, Guna menghindari masalah kesehatan, WHO menganjurkan asupan gula dari semua sumber makanan dan minuman yang dikonsumsi tidak melebihi 50 gram per hari untuk dewasa (empat sendok makan) dan 30 gram per hari untuk anak (enam sendok teh), yang artinya kurang dari 10% dari total asupan energi.

Sayangnya, data Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) Indonesia 2014 menyatakan bahwa 29,7% masyarakat Indonesia mengonsumsi gula harian melebihi batas rekomendasi tersebut. Drg Ratu Mirah Afifah GCClinDent MDSc, Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, menjelaskan, konsumsi gula berlebih salah satunya disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat akan kehadiran gula tersembunyi dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari.

“Makanan atau minuman yang tidak manis sekalipun dapat mengandung gula tersembunyi penyebab gigi berlubang. Gula tersembunyi ini bisa hadir sebagai tambahan dalam makanan olahan maupun secara alami dalam bahan makanan,” kata drg Ratu dalam acara Pepsodent Ajak Keluarga Indonesia Lindungi Kesehatan Gigi dari Risiko Gula Tersembunyi pada Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2018.

Hal ini dibenarkan dr Diana F Suganda MKes SpGK. Menurutnya, gula memang sangat sulit dihindari, bahkan ketika seseorang mulai menerapkan pola gaya hidup sehat. Beberapa jenis makanan dan minuman yang dianggap sehat pun ternyata tidak luput dari kandungan gula tersembunyi.

Contohnya, buah-buahan (baik buah asli maupun hasil olahannya), sereal, biskuit atau roti gandum, granola, minuman oat, puding, jeli, dan agar-agar atau jenis minuman seperti minuman isotonik, minuman diet, susu kacang, susu beras, susu almond, dan banyak lainnya. Khusus gangguan kesehatan gigi dan mulut, gula tersembunyi berkontribusi sebagai salah satu penyebab utama gigi berlubang.

Mengenai hal ini, dr Mirah menjelaskan, masalah gigi berlubang atau karies sering digambarkan sebagai empat mata rantai yang saling berinteraksi, yaitu host yang terdiri dari gigi dan air liur, mikroorganisme atau bakteri pada plak, substrat atau asupan makanan, dan waktu.

Namun, proses karies akibat gula ini dapat dikendalikan dengan lebih mewaspadai konsumsi gula dan menginterupsi waktu pembentukan karies dengan rutin menyikat gigi pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride seperti Pepsodent serta berkonsultasi ke dokter gigi minimal enam bulan sekali,” papar dr Mirah.

BKGN 2018 akan dimulai pada 18 September 2018 di Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Provinsi Sumatera Selatan, PSPDG Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sriwijaya. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, selain anak-anak sebagai fokus edukasi utama, kegiatan pembukaan BKGN 2018 juga akan langsung melibatkan seluruh anggota keluarga dalam memberikan beragam edukasi mengenai cara merawat gigi dan mulut yang benar, terutama dengan lebih memahami dan mewaspadai risiko gula tersembunyi. (sbc-02/okz)

 




Tinggalkan Balasan