Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/starberi/public_html/index.php:8) in /home/starberi/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/counter.php on line 246
Starberita.com | Cepat & Akurat – Ini 7 Ciri Hipokondria, Orang Sering Merasa Sakit Padahal Sehat
Search
Sabtu 19 Oktober 2019
  • :
  • :

Ini 7 Ciri Hipokondria, Orang Sering Merasa Sakit Padahal Sehat

Starberita – Jakarta, Apakah Anda kenal dengan orang yang selalu merasa sakit padahal sebenarnya sehat-sehat saja? Atau mungkin Anda sendiri yang mengalaminya? Kecemasan dan ketakutan berlebih bahwa dirinya mengidap suatu penyakit berbahaya disebut dengan istilah hipokondria. Dalam istilah medis asing, kondisi ini disebut juga dengan illness anxiety disorder atau somatic symptom disorder. Biasanya, ciri-ciri hipokondria akan terlihat secara khusus dari sikap yang ditunjukkan sehari-hari.

Ciri khas orang yang merasa sakit tapi sebenarnya sehat

Anda baru bisa didiagnosis oleh dokter spesialis jiwa (psikiater) mengidap hipokondria jika mengalami berbagai gejalanya dalam waktu lebih dari enam bulan. Di antara sekian banyak gejala, berikut beberapa ciri hipokondria yang mungkin Anda miliki tanpa sadar.

1. Selalu mencari pembenaran atas dugaan tentang kesehatan dirinya

Orang dengan hipokondria memiliki kecemasan berlebih terhadap kesehatannya. Saat periksa ke dokter dan dikatakan bahwa dirinya sehat, dia justru akan menyangkal dan merasa ada yang salah dengan kesehatannya. Oleh karena itu, ia akan terus mendatangi dokter yang berbeda padahal semua dokter mengatakan hal yang sama: “Anda sehat-sehat saja.”

Jika hal ini terjadi, tandanya masalahnya bukan ada di fisik melainkan mental. Oleh karena itu, untuk menenangkan diri, tanyakan pada diri sendiri misalnya, ” Apa buktinya saya punya penyakit padahal dokter menyatakan sehat?”. Jika tidak ada buktinya, tanamkan dalam pikiran bahwa itu hanyalah ketakutan berlebihan yang tidak berdasar.

2. Suka periksa kesehatan secara tak wajar

Orang yang sering merasa sakit mungkin akan selalu membawa termometer kemana pun. Sedikit-sedikit ia akan langsung cek suhu tubuh dengan termometer karena merasa gelisah. Padahal, sebenarnya tidak ada yang salah dengan kesehatannya.

Ia juga mungkin “mengoleksi” berbagai alat kesehatan seperti tensimeter atau alat tes gula darah meski tidak ada tanda-tanda ia punya penyakit tertentu yang harus dipantau kondisinya setiap hari.

3. Gejala ringan dikaitkan dengan penyakit serius

Seorang psikolog sekaligus terapi dari Invictus Psychological Services di California, Amerika Serikat, Forrest Talley, Ph.D menyatakan bahwa orang dengan hipokondria biasanya terkenal suka melebih-lebihkan. Gejala penyakit yang ringan bisa dihubung-hubungkan dengan penyakit berbahaya.

Misalnya Anda mengalami tenggorokan gatal, hal ini dikaitkan dengan kemungkinan pneumonia dan serangkaian penyakit pernapasan akut lainnya. Ketakutan ini pada akhirnya mengesampingkan logika Anda. Anda pun selalu menganggap gejala sepele sebagai musibah besar yang akan mengancam kesehatan atau bahkan nyawa.

4. Selalu merasa sakit

Orang dengan hipokondria pemikirannya dipenuhi oleh kekhawatiran akan kondisi kesehatan yang selalu buruk. Anda selalu pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang muncul pada tubuh. Bahkan, pikiran Anda akan berpindah dari memikirkan satu penyakit ke penyakit lainnya.

Akibatnya, Anda selalu merasa bahwa Anda sakit parah dan harus periksa ke dokter. Tak heran kalau orang dengan hipokondria hampir selalu menghabiskan waktu dan uangnya untuk ke dokter.

Meski terkadang cek kondisi kesehatan secara berkala memang dapat mendeteksi penyakit secara dini, tetapi jika dilakukan berlebihan tanpa alasan yang jelas juga tidak baik bagi kesehatan mental Anda.

5. Melakukan tes kesehatan yang sama berkali-kali

Gejala hipokondria lainnya ialah selalu melakukan tes kesehatan yang sama berulang kali. Anda biasanya sulit memercayai hasil pemeriksaan dokter dan hasil tesnya sehingga Anda akan terus meminta tes tambahan atau melakukan tes serupa di tempat lain. Padahal, hasil tes sebenarnya sama saja yaitu menyatakan bahwa Anda baik-baik saja.

Hal ini sangat melelahkan karena Anda terus-terusan mengejar vonis atau diagnosis dokter yang sebetulnya tidak ada.

6. Menghindari janji temu dengan dokter

Meskipun terkesan bertentangan, sebagian orang hipokondria justru memilih untuk menghindari janji temu (appointment) dengan dokter. Biasanya hal ini dilakukan karena orang dengan hipokondria merasa sangat khawatir mendengar informasi buruk tentang kesehatannya.

Maka tak jarang ia justru mengabaikan janji untuk medical check-up rutin hanya karena rasa takutnya. Padahal, jika ia ternyata memiliki masalah kesehatan yang benar-benar serius, menghindari pemeriksaan justru akan memperburuk kondisi.

7. Terus membicarakan kondisi kesehatannya

Menurut Lauren Mulheim, seorang psikolog di Eating Disorder Therapy di Los Angeles, salah satu ciri orang hipokondria adalah selalu membicarakan tentang masalah kesehatan yang dimiliki. Pasalnya, orang dengan hipokondria pikirannya dipenuhi dengan berbagai hal tersebut sehingga tidak fokus pada hal-hal lain di luar kesehatannya.

Tak jarang orang dengan hipokondria selalu mendominasi percakapan dengan terus membicarakan masalah kesehatannya lengkap dengan kekhawatiran yang ia pikirkan seolah-olah kondisinya sangat memprihatinkan dan terpuruk. (sbc-02/hel)

 




Tinggalkan Balasan

error: