Search
Sabtu 8 Agustus 2020
  • :
  • :

Mengenal Faktor & Cara Pengobatan Penyebab Infertilitas

Starberita – Jakarta, Tak dipungkiri sebagian besar masyarakat masih beranggapan bahwa pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak, disebabkan istri yang mandul. Padahal, kemandulan atau infertilitas bisa dialami kedua belah pihak, baik suami maupun istri.

Infertilitas atau gangguan kesuburan adalah ketidakmampuan pasangan untuk memiliki keturunan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama satu tahun tanpa kontrasepsi.

Salah satu pendiri RSIA Budhi Jaya, yang juga pakar di bidang infertilitas, Prof.Dr.dr. Ichramsyah A. Rachman, Sp.OG-KFER, menuturkan infertilitas atau ketidaksuburan bukan berarti pasangan tidak dapat memiliki keturunan, namun hal tersebut disebabkan karena adanya faktor-faktor tertentu.

“Infertilitas dapat terjadi baik pada wanita maupun pada pria, atau pada kedua-duanya. Dengan demikian pemeriksaan, diagnosis dan perawatan harus dilakukan kepada istri dan suami. Karena itu masalah infertilitas yang dialami pasien bersifat individual,” ujarnya.

Ia menjelaskan, infertilitas pada wanita dapat disebabkan oleh endometriosis pertumbuhan jaringan, implant yang abnormal, faktor hormonal ataupun menopause dini. Sementara penyebab pada pria misalnya kelainan genetika, faktor hormonal, kualitas sperma kurang baik, saluran tersumbat, atau pengaruh luar (radiasi dan obat).

RSIA Budhi Jaya memiliki program Holistic Infertility Center (HIC) yang melakukan diagnosis menyeluruh pada pasangan suami istri. Tim dokter HIC, yang dipimpin oleh Prof. Ichramsyah ini, bersama spesialis obgyn atau kebidanan yang akan melihat masalah pasangan pasien untuk kemudian bisa merujuk ke dokter andrologi (kesehatan kesuburan pria) atau juga ke dokter internis (penyakit dalam).

Berdasarkan hasil diagnosis dokter, pasangan akan menjalani perawatan yang bersifat individual.

Perawatan yang dilakukan pada program HIC untuk mengatasi infertilitas pada wanita memiliki tahapan-tahapan, yaitu hidrotubasi (pengecekan saluran tuba atau tuba falopi), Hystero Salpingo Graphy (melihat sumbatan pada saluran tuba), diatermi (pemanasan untuk mengurangi peradangan), Ultrasonography Saline Infusion Sonohystereography (USG SIS) untuk melihat kondisi rahim, imunologi atau konsultasi spesialis andrology untuk memeriksa faktor kekebalan tubuh, inseminasi (memasukkan sperma ke dalam rahim melalui kateter, USG folikel untuk melihat kondisi sel telur, kemudian laparaskopi yang berfungsi melakukan diagnosis dan terapi fungsi genitalia interna.

“Beberapa kasus infertilitas telah berhasil ditangani, misalnya yang disebabkan virus TORCH, Hidrosalping, Endometriosis, Obesitas, ASA tinggi, Adenomiosis dan masih banyak lagi,” jelas Prof. Ichramsyah.

Salah satu pasien, Windy Febrina mengaku telah berhasil memiliki keturunan setelah dua tahun melakukan program hamil.

“Setelah pengecekan imun tubuh saya terhadap sperma suami, ternyata antibody anti sperma (ASA) saya tinggi terhadap sperma suami sehingga harus dilakukan terapi PLI (Paternal Leukocyte Immunization), terapi dimana sel darah putih suami dimasukan ke dalam tubuh saya. Proses itu dilakukan sebanyak 7 kali. Kedua ada endometriosis, sehingga saya disarankan untuk melakukan tindakan operasi laparaskopi. Setelah itu baru jalani program hamil dan berhasil memiliki anak,” ungkapnya. (sbc-02/auc)

 




Tinggalkan Balasan

error: