Search
Selasa 14 Juli 2020
  • :
  • :

Selain Tanggul, Bangun Juga Tempat Resapan Air atau Waduk

Starberita – Medan, Anggota DPRD Kota Medan dari Daerah Pemilihan (Dapil) V, meliputi Kecamatan Medan Belawan, Medan Labuhan, Medan Deli dan Medan Marelan, T Bahrumsyah, meminta Pemerintah Kota Medan tidak hanya membangun tanggul guna mengantisipasi ataupun menghempang banjir rob yang melanda wilayah utara Kota Medan, tetapi juga harus membangun tempat resapan air atau waduk.

Permintaan itu disampaikan, Bahrumsyah, menjawab wartawan di Medan, Selasa (14/8/2018) terkait jebolnya tanggul di Medan Labuhan akibat banjir rob yang melanda wilayah utara Kota Medan.

Pemko Medan, kata Bahrumsyah, dapat melakukan penanganan dini dengan membangun kembali tanggul yang jebol itu lebih kuat agar tidak mudah jebol.

“Tanggul rob yang jebol di Kecamatan Medan Belawan meliputi enam kelurahan, sedangkan di Kecamatan Medan Labuhan mencakup satu atau dua kelurahan. Makanya, pembangunan harus diperkuat untuk mengantisipasi banjir air laut pasang yang sulit diprediksi,” ujarnya.

Menurut Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) ini, seyogyanya pembangunan tanggul dilakukan secara permanen. Namun, katanya, kondisi APBD Kota Medan tidak akan cukup, sebab luas wilayah Kecamatan Medan Belawan dan Medan Labuhan mencapai sekitar puluhan kilometer.

“Dengan luas segitu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan APBD Kota Medan tidak akan cukup. Solusinya, anggaran diambil dari APBN dan saya sepakat hal itu. Namun demikian, bukan berarti harus menunggu dan tidak berbuat apa-apa. Untuk mengantisipasi, paling tidak dibangun tanggul manual, tetapi mampu menahan banjir,” kata anggota Komisi B iin.

Banjir rob yang terjadi beberapa hari terakhir ini, sebut Bahrumsyah, merupakan yang terbesar sepanjang tahun 2018. Bahkan, airnya melewati jalan raya.

“Dalam membangun tanggul secara permanen apabila terealisasi nantinya, tidak bisa dilakukan per kelurahan. Melainkan, harus sekaligus di lokasi yang berdampak banjir. Kalau dilakukan per kelurahan, tentu ketika banjir datang maka kelurahan lain akan terdampak. Makanya, pembangunan tanggul harus sekaligus sehingga persoalan ini tuntas dan tidak menimbulkan ketimpangan,” sebutnya.

Ia menuturkan, kondisi banjir rob di Belawan dengan di Jakarta berbeda. Misalnya, di Jakarta hanya satu garis perbatasan antara laut dan daratan. Sedangkan di Belawan dikelilingi anak-anak sungai yang cukup lebar dan melingkar. Jika dihitung-hitung luas anak sungai ini bisa mencapai 20 kilometer lebih.

Lebih lanjut Bahrumsyah mengaku, sejauh ini belum ada bantuan yang diberikan. Padahal, masyarakat yang terkena banjir juga membutuhkan uluran tangan. Hal ini dikarenakan rumah mereka terendam banjir yang cukup tinggi hingga mengakibatkan barang-barang rusak atau hancur.

“Bantuan yang diberikan setidaknya meringankan beban dalam waktu singkat, misalnya menggelar operasi pasar murah dan lain sebagainya. Sebab, akibat banjir yang terjadi di sana sempat mengakibatkan perekonomian masyarakat lumpuh,” tukasnya.

Anggota DPRD dari Dapil utara Kota Medan lainnya, Surianto, mengatakan banjir rob yang terjadi hingga membuat jebol tanggul banyak faktor yang memicu. Misalnya, timbunan proyek reklamasi hingga pembangunan pergudangan serta perumahan di tempat resapan air.

“Jadi, solusi yang perlu dilakukan selain membuat tanggul secara permanen, membangun tempat resapan air atau waduk. Sebab, kalau membuat tanggul terlalu lama menunggu apalagi APBD Pemko tak mencukupi. Terlebih, pusat (Kementerian PUPR) belum menyetujui alokasi biayanya diambil dari APBN,” ujar Surianto.

Ketua Fraksi Gerindra ini mengaku, anggaran yang dibutuhkan membangun tanggul permanen di kawasan Medan Utara mencapai Rp600 miliar hingga Rp800 miliar.

“Tidak ada jalan lain memang tanggul menjadi solusi paling ampuh mengatasi banjir rob. Tetapi, membuat tempat resapan air atau waduk bisa menjadi alternatif dan memang Medan Utara membutuhkannya,” tandas pria yang akrab disapa Butong ini. (sbc-02)

 




Tinggalkan Balasan

error: