Search
Sabtu 18 Agustus 2018
  • :
  • :

Cegah DBD dengan Edukasi Sedini Mungkin

Starberita – Jakarta, Kasus penyakit DBD telah meningkat signifikan di seluruh dunia dalam 50 tahun terakhir dengan kenaikan hingga 30 kali lipat. Menurut data WHO dan Kemenkes RI, di Asia Pasifik tercatat 15,2 juta kasus DBD terjadi pada 2016.

Sementara sejumlah 202.314 kasus, termasuk 1.539 kematian, dilaporkan ter jadi di Tanah Air. Diper kira – kan 100 juta orang terinfeksi DBD setiap tahunnya, di mana 50% populasi dunia hidup di da erah berisiko demam berdarah. Saat ini belum ada peng – obat an khusus untuk demam ber darah atau demam ber da – rah akut. DBD berat telah men jadi penyebab utama rawat inap dan kematian di antara anak-anak dan orang de – wasa di Asia dan Amerika Latin. Upaya melawan penya – kit yang ditularkan vektor ini membutuhkan dukungan berbagai pemangku kepentingan yang melibatkan sektor swasta maupun publik, akademisi, pe – merintah, serta organisasi nonpemerintah.

Ancaman DBD atau virus zika atau malaria tidak menge – nal batas dan menjadi perhati – an semua orang. “Bayer selalu menjadi bagian dari perjuang – an melawan penyakit yang di – tularkan nyamuk dan meru pa – kan mitra aktif dalam mem – bina kesehatan masyarakat di seluruh dunia melalui pengen – dali an vektor sejak 1950-an,” kata Frederic Baur, Head of Vector Control Environmental Science Bayer Crop Science. Untuk memperkuat ini sia – tif yang meningkatkan kesa – dar an terhadap DBD serta program edukasi bagi masya – rakat, Bayer mengembangkan Mosquito Learning Lab. Ini adalah alat pembelajaran online untuk membantu menyampaikan pesan kepada seluruh anggota masyarakat, mulai anak sekolah hingga keluarga.

“Komunitas lokal memiliki peran yang sangat penting dalam mengurangi jumlah dan mencegah penularan penyakit. Menurut Kemenkes, anak sekolah berusia 5-14 tahun termasuk yang paling rentan terkena DBD,” papar Yudi Clements, Regional Key Account Management and Country Manager Bayer Crop Science. Hal ini disebabkan kelompok usia tersebut tengah mengikuti kegiatan sekolah ketika nyamuk justru dalam kondisi paling aktif. Untuk diketahui, setelah digigit nyamuk pembawa virus dengue, gejala demam berdarah tidak langsung muncul, tetapi menunggu masa inkubasi sekitar 3-14 (biasanya 4-7) hari.

Demam berdarah ringan umumnya ditandai demam tinggi yang mendadak, sakit kepala hebat, rasa sakit di belakang mata, otot, serta sendi, hilangnya nafsu maka, mual, dan ruam pada permukaan kulit. Sedangkan pada demam berdarah yang parah atau dikenal dengue hemorrhagic fever, dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba (shock), dan kematian. Pada 2017, Bayer memperkenalkan Mosquito Learning Lab di SDN Baru 7 di Cijantung sebagai bagian dari kegiatan ASEAN Dengue Day.

Alat ini memungkinkan anak-anak belajar fakta penting DBD dan nyamuk Aedes Aegypti serta bagaimana mencegah munculnya tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembang biak kan nyamuk di lingkungan sekolah dan rumah mereka. (sbc-02/okz)

 




Tinggalkan Balasan

error: