Search
Selasa 18 Desember 2018
  • :
  • :

Ini Panduan Lengkap Seputar Fungsi Ginjal & Daftar Penyakitnya

Starberita – Jakarta, Setiap orang memiliki sepasang ginjal dalam tubuhnya. Sama seperti organ lainnya, Anda harus menjaga kesehatan ginjal agar organ yang satu ini dapat bekerja secara optimal dan terbebas dari penyakit ginjal. Supaya lebih mudah, Anda harus memahami terlebih dahulu tentang fungsi bagian ginjal, bagian-bagian ginjal, dan jenis pemeriksaan fungsi ginjal.

Tenang, semua informasi yang Anda butuhkan telah kami sediakan secara lengkap lewat ulasan berikut ini.

Apa saja fungsi bagian ginjal?

Ginjal terletak di sepanjang dinding otot bagian belakang (otot posterior) rongga perut. Bentuk ginjal mirip seperti kacang yang ukurannya sebesar kepalan tangan, dengan panjang sekitar 12 sentimeter dan lebar 6 sentimeter.

Sama seperti organ lainnya, ginjal berperan penting dalam tubuh manusia. Fungsi bagian ginjal yang paling utama adalah menyaring zat-zat buangan (limbah) dalam tubuh, baik yang berasal dari makanan, obat-obatan, maupun zat beracun.

Ginjal menyaring 200 liter darah setiap hari. Dari sekian banyak darah yang disaring, terdapat 2 liter zat buangan yang harus dikeluarkan lewat urine. Karena itulah, ginjal dilengkapi dengan sepasang ureter, sebuah kandung kemih, dan uretra yang akan membawa urine keluar dari tubuh.

Selain membuang zat-zat sisa dalam tubuh, fungsi bagian ginjal lainnya adalah menyerap kembali zat-zat yang dibutuhkan tubuh, yaitu asam amino, gula, natrium, kalium, dan nutrisi lainnya. Fungsi bagian ginjal ini dipengaruhi oleh kelenjar adrenal yang terletak di bagian atas masing-masing ginjal.

Kelenjar adrenal menghasilkan hormon aldosteron. Hormon ini berfungsi untuk menyerap kalium dari urine ke pembuluh darah agar bisa dimanfaatkan kembali oleh tubuh.

Fungsi bagian ginjal tidak berhenti sampai disitu. Ginjal juga bertugas untuk menghasilkan hormon-hormon yang bermanfaat bagi tubuh, di antaranya:

  • Eritropoietin (EPO), hormon yang merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah.
  • Renin, berfungsi untuk mengatur tekanan darah.
  • Kalsitriol, bentuk aktif vitamin D yang membantu menjaga kesehatan tulang.

Bagian-bagian ginjal manusia

Secara umum, anatomi atau bagian-bagian ginjal manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu korteks ginjal, medula ginjal, dan pelvis ginjal.

1. Korteks ginjal

Korteks adalah bagian ginjal paling luar yang dikelilingi oleh kapsul ginjal dan lapisan lemak. Bagian-bagian ginjal ini berfungsi untuk melindungi struktur dalam ginjal dari kerusakan.

2. Medula ginjal

Medula ginjal termasuk salah satu dari bagian-bagian ginjal yang halus. Medula ginjal terdiri dari lengkung Henle serta piramida ginjal, yaitu struktur kecil yang berisi nefron dan tubulus. Tubulus inilah yang berfungsi untuk mengangkut cairan masuk ke ginjal dan mengangkut urine keluar dari ginjal.

3. Pelvis ginjal

Pelvis ginjal adalah bagian terdalam ginjal yang berbentuk corong. Fungsi bagian ginjal yang satu ini adalah sebagai jalur bagi cairan untuk berpindah dari ginjal menuju kandung kemih.

Pelvis ginjal terdiri dari dua bagian. Bagian pertama pelvis ginjal terdiri dari calyces, yaitu ruang berbentuk cangkir yang berfungsi untuk mengumpulkan cairan sebelum ke kandung kemih. Selanjutnya, cairan tersebut akan masuk ke hilum, yaitu lubang kecil yang akan mengalirkan cairan tadi menuju kandung kemih.

Selain bagian-bagian ginjal yang utama, ginjal juga terdiri dari nefron. Nefron ini terletak di sepanjang korteks hingga medula ginjal. Fungsi nefron itu sendiri adalah untuk menyaring darah, menyerap nutrisi, dan mengalirkan zat-zat buangan ke urine.

Nefron terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

  1. Badan malphigi,disebut juga korpus ginjal. Badan malphigi terdiri dari dua bagian, yaitu glomerulus atau kumpulan kapiler yang menyerap protein dari darah; dan kapsul Bowman.
  2. Tubulus ginjal, yaitu kumpulan tabung yang menjalar dari kapsul Bowman menuju tabung pengumpul (tubulus kolektivus). Tubulus ginjal terdiri dari tubulus proksimal, lengkung Henle, dan tubulus distal.

Beragam penyakit ginjal

Jika Anda tidak menjaga kesehatan bagian-bagian ginjal secara optimal, Anda harus berhati-hati dengan risiko terkena penyakit ginjal. Pasalnya, kebanyakan penyakit ginjal tidak menimbulkan gejala apa pun sampai penyakitnya memasuki stadium lanjut.

Namun, beberapa gejala penyakit ginjal yang paling umum di antaranya:

  • Sulit tidur
  • Mudah cemas
  • Sulit berkonsentrasi
  • Kulit kering dan gatal
  • Perubahan frekuensi buang air kecil
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Kencing berdarah
  • Kencing berbusa
  • Bengkak di sekitar mata dan kaki
  • Nafsu makan berkurang
  • Kram otot

Seiring bertambahnya usia, hampir seluruh organ tubuh akan mengalami penurunan fungsi. Begitu pula pada ginjal. Akibatnya, kemampuan ginjal untuk menyaring darah menjadi tidak optimal. Karena itulah, lansia umumnya mengalami salah satu atau beberapa gejala penyakit ginjal di atas.

Beda dengan penurunan fungsi ginjal yang diakibatkan oleh penyakit ginjal, hal ini dapat memicu masalah kesehatan yang lebih serius. Jika fungsi ginjal berkurang sebanyak 10 sampai 15 persen, ini artinya seseorang dianggap menderita penyakit gagal ginjal. Alhasil, penderita membutuhkan cuci darah (dialisis) atau bahkan transplantasi ginjal supaya ginjalnya bisa tetap bekerja secara optimal.

Berbagai penyakit ginjal yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:

1. Gagal ginjal akut

Gagal ginjal adalah kondisi saat ginjal sudah tidak mampu lagi menyaring zat-zat sisa dari dalam darah. Hal ini dapat disebabkan oleh batu saluran kemih, obat-obatan, dehidrasi berat, atau trauma pada ginjal.

Gejala gagal ginjal dapat berupa penurunan jumlah urine, bengkak di bagian kaki, sesak napas, nyeri dada, kecemasan, kejang, hingga koma. Jika tidak segera ditangani, hal ini dapat mengancam nyawa penderitanya.

2. Batu ginjal

Batu ginjal adalah kristal yang terbentuk di dalam ginjal. Anda mungkin lebih umum mengenalnya sebagai kencing batu. Meskipun namanya terfokus pada bagian-bagian ginjal, penyakit ini nyatanya tidak hanya bersarang di ginjal saja. Batu ginjal juga bisa pindah ke sepanjang saluran kemih Anda, baik di ureter, kandung kemih, atau uretra.

Jika batu ginjal sudah berpindah ke saluran kemih, kristal tersebut dapat menggesek dan melukai dinding-dinding saluran kemih. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya bercak darah pada urine.

3. Glomerulonefritis

Glomerulonefritis adalah peradangan pada glomerulus atau pembuluh darah kecil yang menyaring darah. Karena glomerulus mengalami peradangan, ginjal tidak dapat menyaring darah dengan normal dan Anda dapat mengalami gagal ginjal.

Mirip dengan penyakit ginjal lainnya, gejala glomerulonefritis dapat berupa kencing berdarah, tekanan darah tinggi, jarang buang air kecil, nyeri perut, kencing berbusa, dan pembengkakan di wajah, tangan, kaki, dan perut karena penumpukan cairan dalam tubuh.

4. Nefritis akut

Nefritis akut adalah peradangan (pembengkakan) pada nefron ginjal. Kondisi ini menyebabkan sel-sel abnormal dari darah masuk ke urine dan menyebabkan peradangan. Sel-sel tersebut biasanya berupa eosinofil atau sejenis sel darah putih.

Ketika peradangan sudah menyebabkan nefritis, penderita akan mengalami demam, muntah, hipertensi, nyeri punggung, dan gangguan kencing (sensasi terbakar, perubahan frekuensi, air kencing berbusa, atau kencing berdarah).

5. Infeksi saluran kencing

Infeksi saluran kencing terjadi ketika bakteri menginfeksi saluran kencing Anda, bisa dari ginjal hingga saluran uretra. Gejalanya adalah demam, nyeri saat berkemih, dan meningkatnya frekuensi berkemih. Biasanya dokter akan menyarankan untuk minum air yang cukup serta memberikan antibiotik untuk mengobati infeksi tersebut.

6. Asidosis

Asidosis adalah kondisi saat tubuh dipenuhi oleh darah yang bersifat asam. Normalnya, pH tubuh tidak terlalu asam atau tidak terlalu basa, yaitu sekitar 7,4.

Dalam kondisi asidosis, pH tubuh cenderung kurang dari 7,35. Hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya kadar karbondioksida dalam tubuh, diare, penurunan jumlah insulin, atau karena ginjal gagal menyaring zat basa dalam tubuh.

7. Uremia

Uremia adalah penumpukan urea dalam darah yang menyebabkan iritasi pada sistem saraf. Pada awalnya, penderita uremia tidak merasakan gejala apa pun. Namun, lama kelamaan penderita akan mengalami kram kaki, hilang nafsu makan, sakit kepala, kelelahan parah, muntah, dan sulit berkonsentrasi.

8. Ginjal polikistik (PKD)

Jika ada salah satu anggota keluarga yang terkena penyakit ginjal polikistik, artinya Anda berisiko terkena penyakit yang sama. Ya, penyakit ginjal polikistik termasuk penyakit keturunan yang disebabkan karena adanya beberapa kista di dalam ginjal.

Penderita ginjal polikistik sering kali tidak merasakan gejala apa pun. Gejala kista ginjal baru akan terasa jika kista tersebut sudah mulai tumbuh sebesar tiga sentimeter atau lebih besar. Gejalanya meliputi kencing berdarah, perut terasa ditekan, infeksi saluran kencing, dan sebagainya.

9. Gagal ginjal kronis

Gagal ginjal kronis adalah penurunan fungsi ginjal di bawah batas normal lebih dari 3 bulan. Bila Anda menderita gagal ginjal kronis, ini artinya fungsi bagian ginjal Anda sudah tidak mampu lagi menyaring kotoran, mengontrol jumlah air dalam tubuh, juga kadar garam dan kalsium dalam darah.

Penyakit ini umumnya disebabkan karena hipertensi dan diabetes yang tidak segera ditangani. Gejala gagal ginjal kronis ditandai dengan sesak napas, muntah, nyeri tulang, bengkak di sekitar mata dan kaki, pingsan, tangan dan kaki kebas, dan penurunan berat badan.

Jenis pemeriksaan fungsi ginjal

Salah satu cara untuk mengetahui baik atau buruknya fungsi ginjal Anda adalah dengan melakukan pemeriksaan fungsi ginjal. Terlebih kalau Anda berisiko tinggi terkena penyakit ginjal, misalnya mengidap diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau ada riwayat keluarga yang terkena penyakit ginjal. Bila demikian, Anda harus rutin melakukan pemeriksaan fungsi ginjal setidaknya satu kali dalam setahun.

Ada dua jenis pemeriksaan fungsi ginjal, yaitu tes darah dan tes urine. Mari kita kupas satu per satu.

1. Tes darah

Tes darah diperlukan untuk mengetahui seberapa optimal bagian-bagian ginjal Anda dalam menyaring darah. Pemeriksaan fungsi ginjal yang satu ini disebut sebagai laju filtrasi glomerulus (GFR).

Pada tes ini, darah Anda akan diuji dengan melihat kadar kreatininnya. Kreatinin adalah produk limbah yang dihasilkan oleh jaringan otot dan akan dikeluarkan melalui proses ekskresi.

Saat seseorang terkena penyakit ginjal, ginjalnya akan sulit mengeluarkan kreatinin dari dalam darah. Jadi, semakin besar kreatininnya, maka semakin baik fungsi ginjal Anda.

Meski begitu, tes darah ini tidak hanya berpatokan pada jumlah kreatinin saja. Hasil kreatinin ini akan dikombinasikan dengan usia, ras, tinggi badan, berat badan, dan jenis kelamin Anda untuk mengetahui nilai akhir GFR.

Ada lima fase GFR yang menggambarkan keparahan fungsi ginjal seseorang, yaitu:

  • Fase 1: GFR > 90, fungsi ginjal cenderung normal
  • Fase 2: GFR 60-89, gangguan fungsi ginjal tingkat ringan
  • Fase 3a: GFR 59-45, gangguan fungsi ginjal tingkat sedang
  • Fase 3b: GFR 30-44, gangguan fungsi ginjal tingkat sedang menuju berat
  • Fase 4: GFR 15-29, gangguan fungsi ginjal berat
  • Fase 5: GFR < 15, gagal ginjal

Jika hasil pemeriksaan fungsi ginjal dengan GFR menunjukkan angka kurang dari 60, maka dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan medis lainnya, seperti USG, CT scan, atau biopsi ginjal. Hal ini dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya batu ginjal, tumor, atau penyebab sakit ginjal lainnya.

2. Tes urine

Pemeriksaan fungsi ginjal yang satu ini dilakukan dengan melihat kondisi urine pasien. Tujuannya adalah untuk melihat seberapa banyak albumin (sejenis protein) yang ikut larut bersama air seni.

Ginjal yang sehat tidak akan membiarkan albumin masuk ke dalam urine. Pasalnya, albumin seharusnya berada di dalam darah, bukan zat sisa yang harus dikeluarkan lewat urine. Adanya albumin dalam urine disebut sebagai albuminuria.

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk memeriksa kadar albumin dalam urine, yaitu:

  • Uji dipstick urine, yaitu pengujian dengan mencelupkan strip ke dalam sampel urine. Strip tersebut akan berubah warna jika ada kelainan seperti jumlah kelebihan protein, darah, nanah, bakteri, dan gula.
  • Perbandingan albumin dan kreatinin dalam urin (UACR), yaitu prosedur pemeriksaan fungsi ginjal dengan membandingkan jumlah albumin dengan kreatinin yang ada di urine selama 24 jam. Bila hasil UACR melebihi 30 miligram per gram, maka ini bisa menjadi pertanda adanya gangguan ginjal.

Bagaimana cara menjaga fungsi ginjal tetap sehat?

Ginjal adalah organ penting yang harus dijaga kesehatannya. Pasalnya, organ ini dapat memengaruhi organ tubuh lainnya. Jika ginjal Anda bermasalah atau sampai terkena penyakit ginjal, maka organ tubuh lainnya akan ikut bermasalah, terutama bagian jantung.

Agar fungsi ginjal tetap normal, terdapat berbagai cara sehat yang bisa Anda lakukan, yaitu:

1. Hindari makanan asin

Kebanyakan makan makanan asin dapat mengganggu keseimbangan mineral dalam darah. Hal ini dapat memperberat kerja ginjal dan mengganggu fungsi bagian ginjal. Lama kelamaan, Anda berisiko terkena penyakit ginjal.

Maka itu, tukar makanan olahan yang mengandung tinggi garam dengan makanan yang lebih sehat. Contohnya buah dan sayuran segar, daging tanpa lemak, dan kacang-kacangan.

2. Olahraga rutin

Hipertensi adalah salah satu faktor risiko penyakit ginjal kronis. Itulah mengapa, Anda dianjurkan untuk mengendalikan tekanan darah supaya fungsi bagian ginjal Anda tetap terjaga.

Ketimbang mengambil jalan pintas dengan minum obat hipertensi, sebaiknya lakukan cara yang lebih sehat dengan olahraga. Olahraga secara teratur minimal 20 menit sehari dapat membantu mengendalikan tekanan darah Anda. Alhasil, bagian-bagian ginjal Anda akan tetap sehat, bekerja secara optimal, dan terhindar dari risiko penyakit ginjal.

3. Penuhi kebutuhan cairan tubuh

Jika Anda ingin terhindar dari penyakit ginjal, pastikan tubuh Anda cukup cairan. Pasalnya, minum air putih yang cukup dapat membantu mengoptimalkan fungsi bagian ginjal yang paling utama, yaitu membuang toksin atau racun dalam tubuh.

Seberapa banyak kebutuhan cairan Anda setiap hari tergantung dari jenis kelamin, usia, dan jenis aktivitas Anda. Tanyakan pada dokter tentang kebutuhan cairan harian Anda.

4. Perhatikan obat yang dikonsumsi

Apakah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu? Yuk, cek lagi kandungan obatnya. Pasalnya, beberapa jenis obat dapat memengaruhi kesehatan ginjal Anda.

Obat NSAID adalah salah satu obat bebas yang nyatanya dapat mengganggu kesehatan ginjal sewaktu-waktu. Konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan rekomendasi obat lain yang lebih aman untuk fungsi ginjal Anda.

5. Jauhi faktor risiko

Supaya fungsi ginjal tetap sehat, pastikan Anda menghindari berbagai faktor risikonya. Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang Anda terkena penyakit ginjal adalah diabetes, obesitas, hipertensi, dan riwayat keluarga terkena penyakit ginjal.

Jika Anda merasa memiliki salah satu faktor risikonya, ini artinya Anda perlu melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara teratur. Hal ini bertujuan untuk mengendalikan faktor risikonya supaya tidak berkembang menjadi penyakit ginjal. (sbc-02/hel)

 




Tinggalkan Balasan

error: