Search
Selasa 17 Juli 2018
  • :
  • :

Nilai Rupiah Tertekan, Bebani Industri Farmasi

Starberita – Jakarta, Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Vincent Harijanto mengatakan penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah membebani industri farmasi. Sebab, saat ini sekitar 95 persen bahan baku obat yang digunakan industri farmasi masih diimpor.

“Jadi sekitar 95 persen bahan baku farmasi kita masih impor dan 90 persennya itu impor dari India dan China,” kata dia di Jakarta, kemarin.

Vincent mengatakan beberapa pengusaha farmasi yang memasok obat untuk BPJS Kesehatan tak bisa menaikkan harga begitu saja. “Ini yang menyebabkan kebingungan, dikontrak yang dilakukan farmasi tidak ada klausul eskalasi harga,” ucap dia.

Menurut dia pemerintah saat ini harus terus mendorong agar industri farmasi bisa menciptakan bahan baku sendiri. Vincent menjelaskan pihaknya terus berupaya menggaet investor untuk mendorong produksi bahan baku sendiri. Namun ia berharap agar pemerintah bisa memberikan dukungan nyata.

Di sisi lain, kata dia, para investor juga ingin mendapatkan berbagai kemudahan akses yang mereka harapkan guna memastikan produk-produk bahan baku yang djhasilkan bisa digunakan oleh industri farmasi nasional.

Ia menjelaskan saat ini, industri farmasi fokus melakukan efisiensi biaya produksi dan kemasan daripada menaikkan harga. “Meski mereka beli (bahan baku) lebih mahal, tapi karena efisiensi mereka bisa mempertahankan harga, bahkan justru menekan harga. Setiap industri saya rasa punya strateginya masing-masing,” kata dia. (sbc-03/tem)




Tinggalkan Balasan

error: