Search
Sabtu 11 Juli 2020
  • :
  • :

Ekonom: Indonesia Bisa Ambil Peluang dalam Perang Dagang AS – Cina

Starberita – Jakarta, Di tengah perang dagang antara dua negara adidaya: Amerika Serikat dan Cina, Indonesia bisa menarik keuntungan. Syaratnya, pemerintah mesti mulai memperkuat diplomasi bilateral dengan mitra dagang strategis agar bisa memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan jangka panjang Indonesia.

“Ketika Amerika Serikat mulai melupakan NAFTA (North America Free Trade Agreement–) dan beberapa perjanjian lainnya, ini waktunya Indonesia memperkuat perjanjian bilateral dengan Amerika. Sekarang kan masih kurang, sehingga kita cuma jadi penonton,” ujar ekonom Institute for Development of Economics and Finance Bhima Yudhistira di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, cara pertama memperkuat diplomasi dagang bilateral Indonesia adalah dengan mulai mengoptimalkan atase perdagangan yang tersebar hampir di seluruh kedutaan Indonesia di seluruh dunia.

Dengan demikian, selain bisa menggenjot nilai ekspor di pasar yang sudah ada, Indonesia juga bisa melakukan penetrasi ke pasar-pasar baru, seperti Afrika, Rusia, dan Amerika Latin. “Tujuannya agar pasar produk Indonesia bisa terdiversifikasi,” katanya.

“Jadi ketika produk kelapa sawit kita mentok di beberapa negara utama ekspor, kita tidak pusing mau kemana lagi. Banyak negara yang butuh minyak kelapa sawit kita,” kata Bhima.

Bila diplomasi dagang sudah terbangun, Bhima melihat peluang bagi Indonesia untuk meraup keuntungan dalam momen perang dagang AS vs Cina terbuka lebar. Dia mencontohkan untuk ekspor minyak nabati, Indonesia bisa mengekspor ke Cina karena negara itu baru saja meningkatkan tarif impor untuk kacang kedelai dan minyak kedelai yang memukul eksportir kedelai dari Amerika.

“Indonesia sebagai salah satu eksportir minyak sawit yang besar mesti mengambil celah yang ditinggalkan Ameriksa di sana. Masuklah produk kelapa sawit Indonesia ke Cina sebagai alternatif minyak nabati (menggantikan minyak kedelai dari AS),” ujar Bhima.

Pada saat yang sama, ketika ekspor elektronik dari Cina ke Amerika menjadi kurang kompetitif karena bea masuknya ditingkatkan oleh pemerintah AS, Indonesia bisa mengekspor lebih banyak barang elektronik ke AS. “Ada beberapa celah yang bisa dimanfaatkan Indonesia,” kata Bhima.

Perang dagang antara AS dan Cina makin menghangat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor untuk 800 produk asal Cina dengan total nilai US$ 50 miliar terhitung mulai 6 Juli 2018. Produk otomotif andalan Cina termasuk yang akan mengalami kenaikan tarif di Amerika.

Sebagai balasan, Cina pun bersiap mengenakan tarif impor pada 659 produk asal AS, mulai dari kedelai dan mobil hingga makanan laut. (sbc-03/tem)




Tinggalkan Balasan

error: