Search
Selasa 18 Desember 2018
  • :
  • :

Pria dengan Disfungsi Ereksi Beresiko Terkena Serangan Jantung Lebih Tinggi

Starberita – Jakarta, Bagi kaum pria, mengalami disfungsi ereksi mungkin terasa memalukan, terlebih dengan pasangan mereka. Tapi lebih dari itu, disfungsi ereksi dapat menjadi tanda masalah kesehatan yang serius.

Menurut penelitian baru, pria yang mengalami disfungsi ereksi dua kali lebih mungkin untuk terkena serangan jantung, jantung berhenti mendadak, dan stroke non-fatal. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Circulation jurnal American Heart Association itu mengungkapkan bila disfungsi ereksi merupakan prediktor kuat untuk risiko penyakit kardiovaskular.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa dokter harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada pria dengan disfungsi ereksi, terlepas dari faktor risiko jantung lainnya. Dokter juga harus mempertimbangkan untuk memeriksa faktor risiko lain seperti tekanan darah atau kolesterol tinggi yang jauh lebih agresif,” ucap profesor di John Hopkins School of Medicine, Michael Blaha.

Penelitian melibatkan 1.900 pria berusia antara 60 – 78 tahun selama lebih dari empat tahun. Dari hasil analisis diketahui dalam kelompok usia itu terdapat kasus serangan jantung dan stroke dimana 6,3 persen di antaranya mengalami disfungsi ereksi. Selain itu, penelitian ini juga mencatat bahwa disfungsi ereksi juga bisa terjadi karena obesitas, merokok, dan diabetes

Disfungsi ereksi adalah suatu kondisi di mana pria tidak dapat mempertahankan ereksi saat berhubungan seks. Sebanyak 20% pria dengan usia di atas 20 tahun kemungkinan pernah mengalaminya. Dengan adanya hasil penelitian, pria yang mengalami disfungsi ereksi diharapkan dapat memeriksakan kondisi kardiovaskularnya.

“Pria diharapkan untuk mencari evaluasi risiko kardiovaskular komprehensif dari seorang ahli jantung guna melakukan usaha preventif atau pencegahan. Sebab banyak pria yang menghindari dokter dan mengabaikan tanda-tanda awal penyakit kardiovaskular. Padahal Ini adalah kesempatan bagus untuk mengidentifikasi kasus berisiko tinggi yang tidak terdeteksi,” pungkas Michael. (sbc-02/okz)

 




Tinggalkan Balasan

error: