Search
Rabu 22 Agustus 2018
  • :
  • :

Studi: Peringkat Daya Saing Indonesia Turun Setingkat

Starberita – Jakarta, Sebuah studi yang dilakukan oleh International Institute for Management Development (IMD) memaparkan bahwa peringkat daya saing Indonesia menurun satu tingkat. Publikasi IMD World Competitiveness Yearbook 2018 menunjukkan Indonesia berada pada peringkat 43 dari 63 negara dari berbagai kawasan dunia yang dikumpulkan oleh IMD World Competitiveness Center. Peringkat ini menurun daripada tahun sebelumnya dari ranking 42. Namun, peringkat ini justru meningkat dilihat dari kawasan Asia Pasifik, yaitu tahun sebelumnya 12 menjadi 11.

IMD telah melaksanakan studi ini secara rutin sejak 1989. Publikasi tahun ini adalah yang ke-30. Bagian riset IMD World Competitiveness Center yang berdomisili di Lausanne, Swiss, melibatkan lembaga mitra dari berbagai negara. Di Indonesia partner IMD adalah Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB-UI) dan NuPMK Consulting.

Managing Director LM FEB-UI Toto Pranoto menjelaskan, studi ini menggunakan 258 indikator, baik hard maupun soft data, dilakukan pengolahan untuk mendapatkan pemeringkatan yang valid. Hard data, yang diperoleh dari publikasi statistik, diberikan bobot dua kali lebih besar dibandingkan soft data, yang diperoleh dari survey opini eksekutif. Survey yang terakhir untuk menangkap persepsi bisnis atas berbagai isu yang terkait dengan daya saing bisnis.

Komponen penilaian terdiri atas empat faktor kompetitif dengan trend lima tahun terakhir untuk tiap trend pada masing-masing negara. Empat faktor tersebut meliputi, kinerja perekonomian (mengevaluasi makroekonomi dari perkembangan domestik, trend kesempatan kerja, dan harga), efisiensi pemerintah (mendalami apakah kebijakan pemerintah bersifat kondusif bagi daya saing), efisiensi bisnis (mendalami apakah lingkungan bisnis nasional mendorong dunia usaha untuk memperlihatkan adanya inovasi, keuntungan, dan tanggung jawab sosial dan infrastruktur (mendalami apakah teknologi dasar, keilmiahan dan ketersediaan sumberdaya manusia memenuhi kebutuhan bisnis). Keempat faktor kompetitif memiliki lima sub-faktor dengan berbagai indikator terkait.

“Dari keempat faktor kompetitif tersebut, studi 2018 menunjukkan posisi Indonesia menurun dari peringkat 42 ke 43,” kata dia dikutip dari keterangan tertulis, di Jakarta, Kamis (7/6/2018).

Penurunan ini berkebalikan dari kenaikan Slovenia dari 43 ke 37, dan Italia dari 44 ke 42. Perubahan antar negara ini mengakibatkan peringkat dunia Indonesia menurun 1 tangga di dunia, terhadap peringkat 1 tahun 2018, yaitu Amerika Serikat. Adapun nilai index Indonesia sebesar 68,9 terhadap 100. Namun, pada kawasan Asia Pasifik, peringkat Indonesia justru meningkat 1 tangga. Hal ini disebabkan penurunan peringkat Filipina.

Peringkat Indonesia masih harus ditingkatkan untuk bersaing mengejar ketertinggalan dari Singapura (peringkat 3), Malaysia (naik peringkat menjadi 22), dan Thailand (turun peringkat menjadi 30). Di dunia peringkat 5 besar ditempati oleh Amerika Serikat, Hong Kong, Singapura, Belanda, dan Swiss.

Toto melanjutkan, jika mengacu pada studi ini, titik krusial yang dihadapi Indonesia terletak pada semua komponen pembangunan. Sementara dari komponen kinerja ekonomi saat ini memerlukan perhatian dengan harapan mampu menstimulasi pembangunan yang berkelanjutan. Lalu, pada komponen efisiensi pemerintahan titik krusial pembenahan perlu dilakukan pada kerangka institusional, hukum bisnis, dan kerangka sosial di dalam pemerintahan itu sendiri.

“Pada komponen efisiensi bisnis, aspek yang perlu dibenahi terletak pada daya produktivitas dan efisiensi bisnis,” ungkap Toto.

Adapun pada sektor infrastruktur titik krusial terletak pada semua aspek daya dukung pembangunan infrastruktur, meliputi infrastruktur dasar, teknologi, scientific infrastruktur, kesehatan dan lingkungan, serta edukasi. Sejumlah permasalahan antara pemerintah dan perusahaan memerlukan ruang harmonisasi supaya kebijakan publik dan bisnis dapat beririsan membentuk pertumbuhan ekonomi yang solid.

“Dengan target pertumbuhan ekonomi Product Domestic Bruto tahun 2018 sebesar 5,1%-5,2 %, maka daya dukung manajemen sangat diperlukan. Pemahaman manajemen tata kelola kebijakan publik harus dapat memahami tata kelola private sebagai entitas bisnis,” jelas Toto.

Tidak hanya itu, beberapa keunggulan dalam komponen yang dilihat dalam survei antara lain posisi strategis Indonesia dalam perekonomian global. Beberapa aspek tersebut mencakup kebijakan ketenagakerjaan, kebijakan pajak, dan pasar tenaga kerja.

“Jika dilihat lebih lanjut, ketiga sektor tersebut merupakan enabler factor dalam pada sektor industri dan pembangunan infrastruktur fisik. Hanya saja, daya dukung infrastruktur masih memerlukan akselerasi atau percepatan pada saat yang bersamaan. Mengingat, semua sektor pada komponen infrastruktur yang dimiliki Indonesia saat ini relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga,” pungkas Toto. (sbc-03/okz)




Tinggalkan Balasan

error: