Search
Rabu 20 Juni 2018
  • :
  • :

THR Harus Dongkrak Daya Beli Pasca-Idul Fitri

Starberita – Jakarta, Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke 13 bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun karyawan swasta diyakini dapat mendongkrak daya beli masyarakat. Namun, karena pemberian jenis tunjangan tersebut hanya berlaku sementara maka perlu ada strategi pemerintah lainnya untuk meningkatkan daya beli masyarakat setelah Lebaran.

“Justru yang harus dipikirkan itu, bagaimana mendongkrak daya beli pasca-Idul Fitri. Jadi ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah agar daya beli kembali terangkat,” kata anggota Komisi XI DPR Donny Imam Priambodo melalui keterangannya, Jakarta, Minggu (3/6/2018).

Menurutnya, kebijakan pemberian soal THR merupakan peristiwa tahunan yang sudah biasa dilakukan dan tidak termasuk strategi yang baru. Artinya, pada momen ini memang daya beli akan naik tapi hanya sementara. Hal ini, karena begitu THR sudah turun, maka masyarakat secara serentak membelanjakan uangnya untuk kebutuhan Lebaran.

“Nah, setelah Lebaran itu ada kegiatan kebutuhan pendaftaran anak masuk sekolah. Lalu belanja pakaian sekolah, sepatu dan lain-lainnya. Tentu ini jadi PR bagi pemerintah agar daya beli tetap stabil,” tambahnya.

Dia juga menilai Pemerintah harus pandai memanfaatkan setiap momen yang ada, termasuk Pilkada serentak September 2018 yang berlangsung pada 171 daerah. Di mana pada masa itu bisa sekaligus menggonjot daya beli masyarakat yang selama ini cenderung menurun.

“Selama 4 bulan ini (Juni-September 2018), para calon kepala daerah banyak mengeluarkan biaya operasional. Hanya saja, para investor terlihat wait and see, alias menunggu situasi,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia menyarankan agar pemerintah lebih memprioritaskan investor sektor riil ketimbang money market dan pasar modal. “Saya dari dulu menyarankan agar jangan terlalu berharap pada investor money market, karena begitu ada guncangan sedikit saja, mereka langsung pergi. Tapi kalau investor sektor riil, tidak mungkin pergi. Jadi investor macam ini yang benar-benar harus digenjot,” imbuh dia.

Di sisi lain, dia menilai guna mengejar pertumbuhah ekonomi sesuai target. Maka tidak ada jalan lain kecuali harus menggenjot investasi dan ekspor.

“Keduanya harus berjalan seiring dan sejalan. Tidak boleh timpang. Karena, kalau investasinya besar, namun nilai ekspornya kecil, ya tetap saja pertumbuhan ekonominya tak kelihatan,” tukas dia. (sbc-03/okz)




Tinggalkan Balasan

error: