Search
Sabtu 18 Agustus 2018
  • :
  • :

10 Desa di Langkat Termasuk Kategori Stunting

Starberita – Stabat, Sebanyak 10 desa dari 8 kecamatan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dikategorikan sebagai stunting atau balita pendek. Sebab, pertumbuhan anak tidak sesuai dengan kriteria usia yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat Ansyari, di Stabat, baru- baru ini menjelaskan, data itu diperoleh setelah pihaknya mengikuti rapat kordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan baru diketahui belakangan ini.

Menyangkut dengan stunting (balita pendek) itu, ada beberapa penyebabnya, diantaranya adalah karena asupan gizi yang kurang, lingkungan yang kurang baik, serta berbagai faktor lainnya yang sudah dirumuskan oleh WHO.

Sepuluh desa tersebut terdiri dari Desa Sematar Kecamatan Bahorok, Desa Secanggang dan Desa Kebun Kelapa di Kecamatan Secanggang, Desa Pematang Serai Kecamatan Tanjungpura, Desa Padang Tualang Kecamatan Padang Tualang, Desa Paluh Manis Kecamatan Gebang, Desa Securai Utara dan Desa Securai Selatan Kecamatan Babalan, Desa Sei Meran Kecamatan Pangkalan Susu dan Desa Perlis Kecamatan Brandan Barat.

” Untuk itu sudah kita lakukan koordinasi dengan lintas sektoral yang ada di daerah ini untuk secara bersama-sama melakukan aksi, termasuk mendesak Puskesmas setempat untuk berperan aktif agar meningkatkan peran mereka di tengah- tengah masyarakat,” katanya.

Selain itu juga diharapkan peran lintas sektoral agar secara bergotong royong menuntaskan masalah itu, termasuk peran dari Kepala Desa setempat untuk mengalokasikan Dana Desa mereka guna meningkatkan derejat kesehatan warganya.

“Langkah ini diharapkan akan memberikan dampak positif untuk segera mengurangi Stunting ini diberbagai desa yang dikategorikan tadi,” katanya.

Indonesia sendiri masuk dalam lima besar di dunia sebagai negara dengan stunting terbanyak. World Health Organisation (WHO) menetapkan batas toleransi stunting (anak bertubuh pendek) maksimal 20 persen atau seperlima dari jumlah seluruh balita. Faktanya, di Indonesia stunting pada balita berada pada angka 35,6 persen.

WHO mencatat 7,8 juta dari 23 juta balita Indonesia mengalami stunting. Sementara, dari 35,6 persen pengidap stunting di Indonesia tersebut, sebanyak 18,5 persen balita masuk dalam kategori sangat pendek dan 17,1 persen masuk ke kategori pendek.

Provinsi Sulawesi Tengah tercatat sebagai daerah dengan angka stunting tertinggi, yaitu sekitar 16,9 persen. Sedangkan Provinsi Sumatera Utara yang hanya 7,2 persen saja balitanya yang mengalami stunting.

Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Prof. dr Fasli Jalal menilai stunting atau masalah kurang gizi kronis masih menjadi ancaman bagi generasi mendatang. Hal itu dia utarakan saat menjadi pembicara dalam seminar bertema “Mencegah Stunting, Meningkatkan Daya Saing Bangsa” di Semarang, Selasa (13/2) yang lalu.

Fasli mengatakan stunting yang disebabkan kekurangan gizi pada usia dini dapat meningkatkan kematian untuk bayi dan anak, kerja otak tidak maksimal, dan dapat menurunkan kemampuan kognitif. (sbc-05/drh)




Tinggalkan Balasan

error: