Search
Sabtu 8 Agustus 2020
  • :
  • :

Benarkah Kelainan Genital Ambigu pada Anak Picu Infertilitas saat Dewasa?

Starberita – Jakarta, Penyakit kelainan Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK) menyebabkan anak dengan masalah kelamin ambigu. Apakah benar kelainan itu menyebabkan anak jadi tidak subur pada saat dewasa kelak?

Tak sedikit penderita HAK di Indonesia lahir dengan kelamin ambigu yang menyebabkan gangguan tumbuh kembang. Paling mudah dideteksi yakni jika anak perempuan lahir dikira malah kelaminnya laki-laki, yang membuatnya dibesarkan dengan cara yang salah.

Orangtua sebisa mungkin dapat mendeteksi dini kelainan itu. Karena ada beberapa gangguan lain yang berkaitan dengan kelamin dan bagian organ vital lainnya, yang bisa memicu ketidaksuburan.

Spesialis Anak dr Nanis Sacharina Marzuki SpA(K) mengatakan, anak perempuan yang mengalami kelainan HAK bisa kelebihan hormon androgen. Hormon tersebut yang membuatnya lahir dengan kelamin ambigu, karena dikira anak laki-laki.

“Di tubuh anak ada banyak hormon yang harusnya berfungsi normal. Tapi pada pasien HAK, yang mendominasi alias berlebihan itu hormon androgen,” ujar dr Nanis saat ditemui di kawasan Kramat, Jakarta Pusat.

Kelainan ini tentu jangan sampai terlambat dideteksi, juga harus segera ditangani. Karena, kalau ada komplikasi dari kelainan yang muncul sejak kecil, bisa segera dioperasi.

Misalnya, ada kasus pasien HAK yang tidak dilahirkan dengan fungsi organ kelamin yang normal, tidak punya rahim dan sebagainya. Banyak pula gangguan lainnya yang bisa dialami oleh anak perempuan saat menderita kelainan ini.

“Keseimbangan hormon anak-anak ini identik ke laki-laki. Risikonya anak perempuan indung telurnya tertutup, maka nantinya bisa kena policistic ovarium sindrom (PCOS) dan ujung-ujungnya infertilitas,” ungkapnya.

Karena itu, sejak orangtua tahu jika anaknya menderita kelainan hiperplasia adrenal kongenital ini segera lakukan terapi dengan dokter. Kalau tidak, anak bisa mengalami kematian karena terlambat diobati.

“Pengobatan tatalaksananya juga harus dengan dokter. Nanti dokter yang menentukan bagaimana supaya anak bisa tumbuh dengan normal, sampai mencegah infertilitas dengan minum obat,” pungkasnya. (sbc-02/okz)

 




Tinggalkan Balasan

error: