Search
Sabtu 4 April 2020
  • :
  • :

Banjir di Medan Tembung Tak Bisa Teratasi?

Staberita – Medan, Warga Kelurahan Bandar Selamat, Kecamatan Medan Tembung mengeluhkan banjir yang melanda wilayah tersebut setiap kali hujan turun.

Tepat di Jalan Letda Sudjono kerap kali terjadi luapan air setinggi betis orang dewasa ketika hujan turun lebih kurang 15 menit saja.

Hal itu menjadi salah satu keluhan warga dalam reses anggota DPRD Sumut dari Dapil Sumut I, HM Nezar Djoeli di Kelurahan tersebut, Selasa (6/3/2018).

Salah seorang tokoh masyarakat, Hasbullah menyampaikan keluhan tersebut kepada Nezar. Ia menyebutkan banjir kerap terjadi dan menyebabkan kendaraan menumpuk di Jalan Letda Sudjono tersebut karena mogok. Bahkan banjir kerap masuk ke Gang Amal yang merupakan kawasan penduduk.

“Sangat dibutuhkan masyarakat tindakan dari pemerintah dan ini pantas disampaikan kepada DPRD Sumut, sebab bukan kewajiban Lurah Bandar Selamat maupun Camat Medan Tembung. Tapi kita harapkan pemerintah provinsi bisa menanggapi hal ini. Kalau hanya mengandalkan gotong royong warga tidak bisa, tidak ada alat berat. Yang ada hanya cakar seadanya,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, di daerah lain ada pengorekan parit besar-besaran yang sangat membantu mengatasi banjir. Ia berharap ada upaya untuk mengatasi banjir yang terus melanda daerah tersebut.

Menanggapi hal itu, Nezar menjawab wilayah Jalan Letda Sudjono merupakan Jalan Nasional sehingga pemerintah pusat yang bertanggungjawab terhadap ruas jalan tersebut. Meski begitu, ia mengatakan di provinsi ada Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) yang dapat digunakan.

“Kalau saya reses ke sini tahun lalu, mungkin bisa saya usulkan BKP ini di DPRD. Kami punya kewenangan memberikan bantuan untuk akses jalan yang baik di tingkat lain. Persoalannya di bawah tol ini tidak ada parit. Tapi setahu saya terkait masalah ini sudah dimasukkan dalam rencana kota,” tambahnya.

Upaya penanganan banjir di wilayah tersebut, lanjut Nezar sudah masuk dalam perencanaan Bappeda namun ia tetap mencatat hal tersebut dan akan dijadikan prioritas yang harus disampaikan dalam rapat paripurna tentang hasil reses pertama tahun anggaran 2019 tersebut.

Selain masalah banjir, masyarakat dari kalangan ibu-ibu posyandu juga meminta agar diusulkan penambahan suplemen bagi balita di Posyandu agar masyarakat lebih tertarik untuk datang ke Posyandu tersebut. Serta diminta menambah honor bagi petugas Posyandu.

Sementara, Boby, warga setempat dari kalangan pemuda meminta agar DPRDSU membuat regulasi yang mendorong perusahan-perusahaan atau industri yang berdiri di suatu wilayah memprioritaskan tenaga kerja dari pemuda setempat. Menurutnya, wilayah Bandar Selamat merupakan zona industri. Namun sayangnya banyak pemuda yang tidak berkesempatan untuk menjadi tenaga kerja di industri tersebut.

“Kita tahu, penangguran berdampak pada banyaknya tingkat kriminal, tapi bagaimana pemuda mau tertib kalau kami tidak diberikan akses pekerjaan. Kami minta tanggungjawab pemerintah juga. Kami dari pemuda menginginkan ada regulasi yang mengatur bagaimana pemuda setempat diprioritaskan masuk ke tempat kerja yang ada di satu wilayah. Di sini banyak pabrik, tapi kebanyakan kami hanya menjadi penonton,” ucapnya.

Nezar meminta agar pemuda setempat bersama pihak kelurahan melakukan audiensi dengan pabrik yang ada meminta agar ketika ada lowongan pekerjaan, pemuda setempat dapat lebih diprioritaskan. Ia juga meminta agar CSR yang merupakan kewajiban satu perusahaan diberikan kepada wilayah terdekat. (sbc-04)

 




Tinggalkan Balasan

error: