Search
Selasa 11 Desember 2018
  • :
  • :

Ternyata, Filler Gusi Berbahaya

Starberita – Jakarta, Tren kecantikan semakin beragam. Banyak orang ingin tampil cantik instan mulai dari operasi plastik, botoks, tanam benang, hingga filler.

Filler, menjadi salah satu prosedur perawatan kecantikan yang biasa digunakan untuk membuat tampilan bibir lebih seksi, hidung lebih mancung, dan kulit wajah lebih kencang. Tapi belakangan, ada juga tren filler gusi.

Filler gusi biasanya dilakukan saat kondisi gusi mulai surut akibat proses penuaan.

Dokter gigi kosmetik saat ini mulai banyak yang menawarkan penggunaan filler untuk mengisi sisi kosong yang muncul di antara dasar gigi saat gusi surut. Namun, sebelum melakukannya, Anda perlu tahu risiko bahaya dari filler gusi.

Prosedurnya memang cukup sederhana. Dengan cara yang sama seperti menyuntikkan filler ke bibir, namun untuk filler ini, asam hyaluronic sintetis disuntikkan ke dalam gusi.

Perawatan ini memang diklaim merupakan cara yang cepat untuk mengubah penampilan menjadi jauh lebih muda. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dan menghabiskan biaya sekitar £300 atau setara Rp5,6 juta.

Namun meski praktis, mereka yang melakukan prosedur ini harus memeriksa terlebih dulu kondisi kesehatan gusi. Pastikan gusi bebas dari semua penyakit sebelum mulai menyuntikkan filler. Tak hanya itu, masih ada risiko infeksi atau reaksi alergi yang mungkin dialami saat melakukan filler gusi.

Perlu diketahui pula, filler gusi dapat menyebabkan masalah jangka panjang pada kesehatan gusi. Dokter gigi Luke Thorley mengatakan, “Risiko melakukan filler di gusi bisa menjadi serius dan menyebabkan situasi lebih buruk daripada pada kejadian pertama.”

Menurutnya, gusi merupakan bagian rongga mulut yang sangat vaskular (penuh dengan suplai darah, karenanya  berwarna pink) dan jika menyuntikkan filler ke pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah ini tersumbat hasilnya bisa nekrosis jaringan (kematian dini sel dan jaringan hidup) yang akan menyebabkan gusi jadi hitam, menimbulkan bekas luka, dan akhirnya mati.

“Saya secara pribadi tidak akan merekomendasikan perawatan ini kepada teman, keluarga atau pasien saya,” kata Luke melanjutkan.

Bahkan, meski pengobatan ini berhasil kemungkinan besar akan perlu diobati setiap tiga sampai enam bulan.

Menurut Luke, akan lebih baik lakukan perawatan yang benar untuk pasien dengan menghilangkan penyebab resesi dan kemudian menyelaraskan gigi dengan beberapa perawatan ortodontik.

“Ini merupakan pengobatan yang lebih stabil, hemat biaya dan aman seumur hidup,” ujarnya. (sbc-02/vnc)

 




Tinggalkan Balasan

error: