Search
Kamis 19 Oktober 2017
  • :
  • :

Ibu, Yuk Kenali 8 Gejala Sakit Ginjal Pada Anak

Starberita – Jakarta, Gejala awal penyakit ginjal sulit terlacak. Padahal, penyakit ini bisa berlangsung seumur hidup dan tidak bisa disembuhkan. Para dokter pun menyebut penyakit ini sebagai ‘silent disease’ dan banyak terjadi pada anak-anak.

Laporan dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease, US Department of Health and Human Services tahun 2014 menyebutkan, penyebab gagal ginjal pada anak-anak bisa disebabkan oleh banyak hal.

Pada anak usia di bawah 4 tahun, umumnya terjadi karena ada kelainan ginjal dan riwayat keturunan gagal ginjal. Sedangkan pada anak usia 5 – 14 tahun, gagal ginjal disebabkan oleh penyakit keturunan, sindrom nefrotik, dan penyakit sistemik.

Obesitas juga berpotensi meningkatkan risiko gagal ginjal pada anak. Berdasarkan riset UNICEF pada World Children Report 2012, Indonesia menempati posisi pertama di ASEAN yang memiliki jumlah anak obesitas tertinggi, yaitu 12,2%. Tak heran jika jumlah penderita Gagal Ginjal Kronik (GGK) di Indonesia terus meningkat.

GGK merupakan penyakit yang bersifat progresif dan terbagi menjadi 5 tahap. Tahap 1 adalah yang paling ringan, sedangkan tahap 5 (biasa disebut ESRD – End Stage Renal Disease) adalah tahap yang paling berat. Pasien GGK ESRD wajib menjalankan cuci darah agar tidak terjadi penumpukan limbah dan cairan pada darah.

Menurut Dr. Cahyani Gita Ambarsari, Spesialis Nefrologi Pediatrik, ada beberapa gejala yang timbul pada anak-anak yang mengalami gagal ginjal, seperti:
1. Tangan dan kaki serta area sekitar mata membengkak.

2. Tidak nafsu makan.

3. Frekuensi buang air kecil menurun atau meningkat.

4. Berubahnya warna urin menjadi kemerahan dalam waktu lama. Hal ini mengindikasi adanya darah, biasanya urin akan berbusa karena adanya protein.

5. Mudah pusing karena tekanan darah yang tinggi.

6. Gejala seperti flu, mual, muntah, lesu, dan kelelahan.

7. Pertumbuhan cenderung lambat dibanding anak seusianya.

8. Kesulitan berkonsentrasi dan prestasi yang buruk di sekolah.

“Apabila anak mengalami gejala-gejala tersebut, orangtua harus segera membawa anaknya ke dokter spesialis nefrologi anak karena harus ditangani dengan cepat,” jelas Cahyani.

Bagi pasien gagal ginjal, terdapat 3 metode perawatan yaitu Hemodialisis (HD), Peritoneal Dialisis (PD), dan transplantasi ginjal. HD dan PD adalah opsi untuk terapi cuci darah selama menunggu waktu untuk dapat melakukan transplantasi ginjal.

Pada anak penderita ESRD, metode cuci darah dengan PD bisa menjadi pilihan perawatan. Metode PD bekerja dengan membersihkan racun dalam darah dan membuang cairan berlebih menggunakan membran pada tubuh, yaitu peritoneal membran (lapisan pada perut), sebagai penyaring racun.

Pada umumnya dengan metode PD, pasien dapat mengatur jadwal cuci darah sehingga mereka bisa memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk melakukan beragam aktivitas.

“Metode PD merupakan pilihan banyak pasien ESRD anak-anak di beberapa negara Eropa dan penggunaannya terus menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. PD dapat digunakan untuk pasien anak-anak usia berapapun untuk mendapatkan perawatan dengan baik dalam menunggu tujuan utama perawatan yaitu transplantasi ginjal,” jelas Dr. Cahyani. (sbc-02/fem)




Tinggalkan Balasan