Search
Senin 24 Juli 2017
  • :
  • :

Utang Luar Negeri US$328,2 M, BI: Masih Aman

Starberita – Jakarta, Bank Indonesia bilang aman meski utang luar negeri (ULN) Indonesia per April 2017 mencapai US$328,2 miliar. Atau tumbuh 2,4% secara year on year (yoy).

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI yang sebentar lagi melompat ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Tirta Segara, pertumbuhan ULN April 2017 lebih lambat ketimbang Maret 2017 yang mencapai 2,9%.

Kata Tirta, perlambatan penarikan utang karena masih lambatnya pertumbuhan ULN pemerintah atau publik. Serta, berlanjutnya penurunan ULN swasta. “ULN publik per April 2017 sebesar 167,9 miliar dolar AS atau 51,2 persen dari total ULN,” kata Tirta.

Angka tersebut, lanjut Tirta, menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 9,2% (yoy), atau lebih rendah ketimbang Maret 2017 sebesar 10%.

Sementara ULN swasta tercatat US$160,3 miliar, atau turun 3,9% (yoy). Terjadi penurunan yang lebih tajam dibandingkan penurunan Maret 2017 sebesar 3,6% (yoy). Volume utang swasta mencapai 48,8% dari total ULN.

Menurut sektor ekonomi, kata Tirta, ULN swasta banyak terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,4 persen.

Adapun jika dilihat dari jangka waktu pengambilan utang, ULN jangka panjang dan jangka pendek sama-sama tumbuh melambat dibanding bulan sebelumnya. ULN jangka panjang tercatat 283,6 miliar dolar AS, hanya tumbuh satu persen (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan Maret 2017 yang sebesar 1,1 persen.

Sementara ULN jangka pendek 44,6 miliar dolar AS atau hanya tumbuh 12% (yoy), atau lebih lembat dibandingkan Maret 2016 yang sebesar 16%. Meskipun demikian, BI memandang perkembangan ULN pada April 2017 tetap sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional.

“Bank Sentral terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas makroekonomi,” kata Tirta.(sbc-03/inc)




Tinggalkan Balasan