Search
Selasa 24 Oktober 2017
  • :
  • :

Makanan Asin Tak Sebabkan Haus

Starberita – Jakarta, Benarkah makanan asin membuat kita semakin haus? Mungkin saja tidak. Penelitian di Jerman berhasil mematahkan asumsi yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun itu. Para peneliti membuktikan makanan asin justru membuat kita ingin makan lebih banyak, bukan minum.

Para peneliti melakukan stimulasi seperti di luar angkasa untuk menguji bagaimana garam (makanan asin) berpengaruh dalam tubuh seseorang. Saat seseorang melakukan perjalanan (penerbangan), tubuh akan menghemat setiap tetes air.

Stimulasi tersebut juga bertujuan memonitor apa saja yang masuk dan dikeluarkan tubuh. Sebagai bagian dari Mars500 Projects, dua kelompok kecil berisi beberapa laki-laki dikirim ke Mars buatan selama 105 hari. Pada 205 hari setelahnya, para peneliti melakukan investigasi lebih lanjut mengenai bagaimana kandungan sodium dalam garam (makanan asin) mempengaruhi sedikit-banyaknya urine dari apa yang diminum partisipan.

Peneliti memberikan menu yang sama pada dua kelompok itu, termasuk menu makanan yang mengandung banyak sodium (garam). Faktanya, partisipan mengonsumsi banyak air sesaat setelah makan. Meskipun demikian, jika dihitung, rata-rata jumlah air yang mereka konsumsi bahkan jauh lebih sedikit dibanding saat berada di Bumi.

Namun mereka tetap rutin buang air kecil. Selain itu, urinenya mengandung banyak garam. Dengan kata lain, peningkatan produksi urine tidak berkaitan dengan jumlah cairan yang masuk ke tubuh. Ini sungguh sangat tidak sesuai dengan asumsi yang sudah bertahun-tahun menggerogoti pikiran banyak orang.

Berdasarkan penelitian tersebut, alasan mengapa partisipan lebih sering buang air kecil setelah mengonsumsi makanan asin berkaitan dengan urea—senyawa organik yang tersusun dari unsur karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Urea yang terkandung dalam ginjal dan otot membantu melepaskan nitrogen dalam tubuh. Pada hewan, senyawa urea menahan air dalam tubuh saat mengeluarkan sodium. Jika hal tersebut juga berlaku bagi tubuh manusia, itu dapat menjelaskan mengapa urine partisipan lebih asin.

Dibutuhkan banyak energi untuk memproduksi urea. Penelitian yang menggunakan tikus sebagai bahan percobaan menunjukkan tikus yang diberi makanan asin cenderung mencari makanan lain untuk dikonsumsi.

Sama halnya dengan apa yang dialami partisipan. Selama penelitian berlangsung, partisipan yang diberi makanan asin merasa lebih lapar. Dengan hasil seperti itu, para peneliti menduga kandungan sodium dalam garam membuat seseorang merasa lebih lapar dibanding haus. (sbc-02/tem)




Tinggalkan Balasan