Search
Jumat 28 Juli 2017
  • :
  • :

Pertumbuhan Industri Agro Capai 6.33 Persen

Starberita – Medan, Triwulan I-2017, pertumbuhan industri agro mencapai 6,33 persen. Melebihi pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 4,71 persen.

Capaian ini, kata Direktur Jenderal, Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, berasal dari industri makanan dan minuman (mamin) yang mencapai 8,15 persen.

“Kemudian, kontibusi industri agro terhadap PDB industri pengolahan non-migas sebesar 45,81 persen. Nilai investasi PMDN sekitar Rp14,69 triliun dan PMA sebesar US$600 juta, serta nilai ekspor mencapai US$12,12 miliar,” kata Panggah, kemarin.

Panggah menyebutkan, posisi unggulan Indonesia dari sektor industri agro, di antaranya adalah produsen sawit nomor 1, produsen kakao nomor 3, serta produsen pulp dan kertas nomor 6 di dunia.

“Bahkan nilai ekspor minyak sawit mentah dan turunannya mencapai US$20 miliar, terbesar dari single commodity lainnya,” ungkap Panggah.

Namun demikian, kata Panggah, sejumlah sektor industri agro nasional, saat ini, menghadapi tantangan berat. Misalnya industri sawit yang selalu diserang kampanye negatif dari berbagai pihak. Termasuk adanya resolusi sawit dari Parlemen Uni Eropa.

“Gangguan ini bersifat politis untuk membendung kinerja ekspor sawit Indonesia yang terus tumbuh positif,” tutur Panggah.

Untuk itu, lanjut Panggah, pihaknya akan mengadakan pengkajian mengenai dampak resolusi tersebut terhadap pertumbuhan industri hilirya di Indonesia.

Kemenperin juga telah berpartisipasi secara lintas kementerian dalam menyiapkan narasi tunggal mengenai posisi Pemerintah Indonesia yang berisi fakta-fakta dari perkebunan dan industri kelapa sawit dalam negeri yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Kemenperin juga berpandangan bahwa rencana Parlemen Uni Eropa untuk menghentikan konsumsi biodiesel sawit pada tahun 2020, bisa membawa dampak bagi Uni Eropa sendiri karena supply biofuel yang paling murah hanya dari minyak sawit,” paparnya.

Panggah menyampaikan, tindakan mitigasi dari Indonesia atas hal tersebut, antara lain meningkatkan konsumsi biodiesel domestik melalui mandatory Biodiesel B-20 (PSO dan Non-PSO), mencari pasar ekspor biodiesel non konvensional seperti Jepang, Tiongkok, India, Malaysia, negara-negara di Timur Tengah serta Asia Tengah dan Utara. (sbc-03/inc)




Tinggalkan Balasan