Search
Sabtu 22 Juli 2017
  • :
  • :

Pemerintah Masih Cuek Terhadap Pertumbuhan Bunga Bangkai

Starberita – Medan, Amorphophallus Titanum Becc atau yang dalam bahasa Indonesianya dikenal dengan sebutan Bunga Bangkai atau Suweg Raksasa merupakan salah satu tanaman langka endemik asli dari Sumatera.

Bunga Bangkai merupakan tumbuhan suku talas-talasan (Araceae) yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia. Meskipun catatan menyebutkan kerabatnya, A. Gigasjuga endemik dari Sumatera, dan dapat menghasilkan bunga setinggi lima meter.

Bahkan dalam sejarah perkembangannya, tak semua orang dapat melihat bunga ini mekar, hal itu dikarenakan keberadaan tumbuhan ini berada di dalam hutan tropis Sumatra.

Namun untuk tahun 2017 ini, tumbuhan ini ditemukan di dua lokasi berbeda, yakni di Desa Ranggitgit, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu, Kabupaten Deli Serdang, dan di Dusun Batu Katak, Desa Batu Jonjong, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat.

Sekretaris Lembaga Pariwasata Batu Katak (LPBK), Sada Ukur Perangin-angin mengatakan, terhitung hingga saat ini dari tahun 2013, bunga bangkai yang ditemukan di dusun Batu Katak ini sudah ada ditemukan tumbuh dengan sempurna lebih kurang sebanyak 60 kali. Masyarakat Batu Katak biasa menyebut bunga ini dengan sebutan Bunga Tubung.

“Ditahun 2017, Bunga Tubung ini sebenarnya sudah beberapa kali tumbuh dan mekar di wilayah dusun Batu Katak. Namun Bunga Tubung yang ditemukan di sela-sela tebing bukit kapur ini adalah satu-satunya bunga bangke yang ditemukan utuh dan mekar secara sempurna untuk tahun 2017 ini,” kata Sada Ukur.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk melihat bunga bangkai tersebut, kita harus mendaki menuju bukit kapur selama 10 menit dari penginapan belakang penginapan Orchid Bungalow.

Sejak mekarnya secara sempurna pada Jumat (12/5/2017) lalu hingga saat ini, Minggu (14/5/2017) terhitung sudah ada sekitar 12 orang wisatawan lokal dan 8 orang wisatawan mancanegara melihat bunga bangke tersebut.

“Sejak mekar kemarin sampai sekarang sudah banyak wisatawan yang melihat bunga itu. Dan bunga tubung itu tumbuh di sela-sela bukit kapur yang berada di belakang Orhid Bungalow,” ungkapnya.

Meski kerap tumbuh dan berkembang di wilayah Dusun Batu Katak, Namun sayangnya, pemerintahan Kabupaten Langkat, khususnya Dinas Kehutanan Kabupaten Langkat kurang memperhatikan perkembang biakan tumbuhan langka ini.

Terlebih lagi, kata Sada Ukur, tempat tumbuhnya bunga bangkai ini berada di wilayah observasi milik PT Semen Langkat. Dimana Perusahaan tersebut memiliki luas wilayah eksplorasi seluas 210 Hektar yang mencakup Dusun Batu Katak, Desa Batu Jonjong dan Dusun Tusam Pinter, Desa Lau Damak.

“Dengan banyaknya potensi yang bisa menarik wisatawan ke tempat ini, kami berharap Pemkab Langkat dapat lebih memperhatikan Batu Katak ini. Terlebih dengan banyaknya potensi wisata yang ada di tempat ini,” terangnya.

Sebab, menurut Sada Ukur, dengan keberadaan PT Semen Langkat di desanya, ditakutkan akan menghancurkan segala sumber daya alam yang ada di tempat tersebut. Apalagi disaat ini pihak perusahaan sudah memiliki izin eksplorasi terhadap bukitan kapur di tempat tersebut.

Sementara itu, Darwin Ginting selaku penanggungjawab Orchid Bungalow yang juga sebagai salah seorang pendiri LPBK mengatakan, bunga bangke ini sudah sering ditemukan di kawasan wisata batu katak.

Selain itu, katanya, jika ditelusuri lebih jauh ke dalam sela-sela bukit kapur tersebut, mungkin akan banyak ditemui habitat tumbuhan tersebut. Hal itu, katanya, tergantung pada sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Baik itu binatang seperti burung ataupun tupai dan juga humus tanah dari pembusukan dedaunan yang ada di tempat tersebut.

“Bunga ini, hidupnya pertama tumbuh batangnya. kemudian setelah batangnya itu mati, maka batangnya itu akan mengahsilkan biji-bijian. Dan biji-bijian inilah yang dimakan sama burung atau pun tupai. Setelah dimakan burung ataupun tupai, kotoran yang dibuang oleh burung atau tupai yang memakan biji itulah yang nantinya akan menghasilkan tumbuhan baru yang nantinya akan tumbuh sempurna menjadi bunga bangkai. Itupun tergantung pada humus tanah di tempat itu,” terang Darwin menceritakan tentang pertumbuhan bunga bangkai.

Lebih jauh terkait pertumbuhan bunga bangkai, Darwin mengatakan siklus pertumbuhan bunga bangkai dari biji sampai bunga membutuhkan waktu sekitar 4 tahun. Dan hal itu sangat mmbutuhkan waktu yang lama.

“Dari pembusukan bunga sehingga keluar bunga lagi, itu akan membutuhkan waktu sekitar 4 tahun. Dan sperti itulah siklus pertumbuhan bunga bangkai ini,” terang Darwin.

Adapun yang menjadi musuh utama bagi tumbuhan ini, terang Darwin, adalah landak dan tupai. Sebab menurutnya, sebelum bunga ini mekar secara sempurna, landak sering memakan pinggiran kelopak bunga tersebut sehingga bunga itu tidak bisa mekar.

“Sedangkan tupai, selain membantu perkembangbiakan bunga bangkai, juga menjadi musuh utama bagi bunga itu. Dimana tupai sering menggrogoti stick bunga bangkai agar menemukan biji yang ada didalamnya untuk dimakan,” jelasnya. (sbc – 04)




Tinggalkan Balasan